Medan Juang Sosial Hajjah Rangkayo Rasuna Said

Hajjah Rangkayo Rasuna Said, namanya mungkin tidak setenar R.A Kartini atau Dewi Sartika. Tetapi perjuangannya melawan kolonialisme dan ikhtiarnya dalam memperjuangkan kesetaraan gender tidak dapat dianggap sebelah mata. Ia dilahirkan di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 14 September 1910. Ia meninggal pada usia 55 tahun di Jakarta, 2 November 1965.

Rasuna Said merupakan keturunan bangsawan. Ayahnya Haji Said adalah seorang aktivis namun juga memiliki beberapa perusahaan besar. Agaknya karena kekayaan ayahnya inilah nama depannya dijuluki Rangkayo (Orang Kaya) dan melekat pada dirinya.

Berasal dari keluarga bangsawan, memberikan kemudahan bagi Rasuna Said untuk mengenyam pendidikan. Pendidikan dasarnya diperoleh di sekolah dasar Maninjau. Setelah itu ia melanjutkan ke Diniyah School di Padang Panjang. Ia juga mendalami ilmu agama di Pesantren  Ar-Rasyidiyah. Pendidikan formal terakhirnya dihabiskannya di Islamic College di Padang, saat itu ia berusia 23 tahun.

Rasuna pernah menikah dengan seorang pemuda pilihannya sendiri, Duski Samad. Namun pihak keluarga pamannya menentang pernikahan ini lantaran status sosial yang berbeda. Duski Samad memang lelaki yang pandai dan taat agama tetapi ia sangat miskin. Meskipun begitu, pada akhirnya mereka tetap menikah dan dikaruniai 2 orang anak. Kurangnya komunikasi dan pertemuan dengan suami, membuat ia dan suaminya bercerai. Ditengarai penyebabnya karena keduanya sibuk mengurusi pergerakannya masing-masing.

Rasuna Said menikah untuk kedua kalinya dengan seorang pria bernama Bairun. Pernikahan ini juga tidak berlangsung lama dan diakhiri dengan perceraian. Dua kali mengalami perceraian memberikan pelajaran berharga bagi Rasuna Said. Menurutnya perceraian lebih memberikan kebebasan kepada kaum perempuan.

Baca juga :  4 Alasan Mengapa Pendidikan Penting bagi Perempuan
Perjuangan Multidimensional Hajjah Rangkayo Rasuna Said

Dalam pergerakannya, Rasuna Said bukan orang yang fokus dalam memperjuangkan satu bidang tertentu. Rasuna Said merupakan prototype perempuan Indonesia dewasa ini dalam memperjuangkan berbagai macam bidang (multidimensional). Ia terlibat dalam perjuangan di beberapa bidang seperti; pendidikan, politik, keagamaan, kesetaraan gender, dan jurnalistik.

Bidang Pendidikan

Rasuna Said merupakan salah satu guru di Sekolah Diniyah Putri. Dalam perspektifnya, seorang pelajar perlu melengkapi dirinya dengan disiplin ilmu yang beragam (transdisipliner). Seorang pelajar tidak bisa hanya menguasai satu disiplin ilmu (monodisiplin) saja, karena seorang pelajar akan menghadapi berbagai macam rintangan dalam kehidupannya. Pendidikan politik menjadi salah satu ilmu yang wajib dikuasai oleh pelajar kala itu, sebagai upaya keluar dari belenggu penjajah. Banyak dari murid-muridnya yang terpengaruh oleh pola pikirnya.

Namun perjalanan Rasuna Said di dunia pendidikan tak berjalan mulus, pendiri pendidikan Diniyah Putri cemas melihat perubahan tingkah laku dan pola pikir murid-muridnya setelah doktrin politik yang diajarkan olehnya. Para pendiri sekolah Diniyah Putri khawatir muridnya akan memberontak dan melawan Belanda. Akhirnya ia diberhentikan sebagai guru di Sekolah Diniyah Putri.

Perjuangan Rasuna Said dalam bidang pendidikan tidak berhenti sampai di situ. Setelah diberhentikan dari guru sekolah Diniyah Putri, ia membuka kursus pemberantasan buta huruf, membuka Sekolah Thawalib kelas rendah, di Padang, serta memimpin kursus putri dan kursus normal di Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Bidang Agama dan Gender

Salah satu alasan Rasuna Said bercerai adalah karena ia enggan dipoligami. Pada tahun 1930, menurut Tsuyoshi Kato dalam Matriliny and Migration: Evolving Minangkabau Traditions in Indonesia (1982), praktik kawin cerai sedang marak dan menempati peringkat pertama di Sumatera Barat.

Baca juga :  Selingkung Pemikiran Neng Dara Affiah

Oleh karena itu, Rasuna Said sangat vocal dan menentang keras budaya kawin cerai seperti itu. Menurutnya, perilaku kawin cerai merupakan suatu pelecehan terhadap perempuan. Ia juga berpendapat memang tidak ada larangan bagi laki-laki untuk berpoligami karena poligami ada ketentuannya dalam agama Islam. Namun, baginya jika harus memilih antara dipoligami atau bercerai, dengan tegas ia akan memilih bercerai.

Bidang Politik

Rasuna Said juga seorang orator yang ulung bahkan tak jarang pidatonya dihentikan paksa oleh aparat karena dapat membakar semangat rakyat. Bahkan ia dinilai sebagai ancaman bagi Belanda. A. Hasyimi menggambarkan pidatonya laksana petir di siang bolong. Puncaknya adalah ketika rapat umum PERMI di Payukumbuh tahun 1932. Saat itu, ia menyampaikan orasinya tiba-tiba datang aparat yang memaksanya berhenti, ia pun ditangkap kemudian di penjara di Semarang selama 1 tahun.

Dipenjaranya Rasuna juga sekaligus mencatatkannya sebagai perempuan pertama yang terkena hukuman Speek Delict yaitu hukum kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum jika berbicara menentang dan menyudutkan Belanda.

Bidang Jurnalistik

Seteleh keluar dari penjara, perjuangan Rasuna Said melawan kolonialisme tidak surut. Ia meneruskan perjuangannya itu melalui dunia Jurnalistik. Ia pernah dua kali menjadi pimpinan redaksi sebuah majalah. Pertama kali ia bergabung di dunia jurnalistik saat menempuh pendidikan di Islamic College yang bernama majalah Raya. Karena kemahirannya dalam menulis, pada tahun 1935, ia didapuk menjadi pimpinan. Tulisan-tulisannya sangat tajam dalam mengkritik Belanda walaupun pada akhirnya majalah Raya harus ditutup karena dianggap terlalu menyudutkan Belanda.

Baca juga :  Jalaluddin Rumi: Perempuan adalah Manifestasi Sempurna Tuhan  

Setelah ditutupnya majalah Raya, Rasuna Said menerbitkan sendiri sekaligus menjadi pimpinan redaksi yang ia beri nama Menara Poetri. Majalah ini fokus pada bahasan mengenai perempuan dan keislaman. Namun majalah ini juga pada akhirnya bangkrut akibat kekurangan dana.

Rasuna Said merupakan salah satu dari sedikit tokoh perempuan yang memiliki andil besar dalam masa kemerdekaan Indonesia. Tidak banyak perempuan di Indonesia yang perjuangannya bersifat multidimensional seperti dirinya. Ia merupakan salah satu pahlawan dan perempuan ulama Indonesia yang berpikiran progresif. Menurutnya, Indonesia tidak akan pernah merdeka jika para perempuannya masih terbelakang. Kaum perempuan di Indonesia harus berpikiran progresif menyamai kaum pria.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Rasuna Said di berbagai bidang, ia dianugerahi sebuah tanda kehormatan satyalancana peringatan perjuangan kemerdekaan dan satyalancana perintis pergerakan kemerdekaan. Ia juga diangkat sebagai salah satu pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 084/TK/Tahun 1974. Nama Rasuna Said juga diabadikan sebagai nama jalan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, serta jalan di daerah asalnya Padang, Sumatera Barat.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *