Melacak Sejarah Pengobatan Qur’ani

Meskipun dunia kedokteran semakin modern dan canggih, praktik pengobatan-pengobatan tradisional masih dipercaya keberhasilannya. Pengobatan tradisional memang tidak mampu memberikan jaminan secara pasti, namun hal ini sering dianggap jalan ‘terakhir’ yang mampu memberikan kesembuhan ketika dunia medis sudah tidak sanggup lagi menyembuhkan.

Sering kita jumpai orang yang meminta tolong untuk disembuhkan penyakitnya dengan perantara bacaan Alquran (Qur’anic healing). Umumnya, pengobatan ini diminta dari orang yang memiliki masalah kebatinan, seperti guna-guna dan lain sebagainya. Tidak jarang, permintaan ini juga berasal dari orang yang memiliki latar belakang keilmuan tinggi secara akademik dan sangat mempercayai praktik tersebut.

Anna M. Gade melihat bahwa fenomena penyembuhan melalui praktik-praktik Qur’ani (Qur’anic Healing) selalu menjadi perdebatan dalam wacana kontemporer. Ada dua hal yang mendasari perdebatan tersebut, yakni Pertama, karena praktik-praktik tersebut dianggap bid’ah (innovation) yang dianggap menyimpang dari ajaran murni Islam,.

Kedua, praktik semacam ini dianggap sebagai tradisi-tradisi takhayul masa lampau, yang sudah tidak memiliki tempat lagi di zaman kebangkitan Islam atau dunia pengobatan modern.

Ketika berbicara tentang pengobatan dengan Alquran, memang hal ini tidak bisa dilepaskan dari pikiran tentang praktik yang berbau mistik/supranatural. Masih banyak  yang membayangkan pengobatan ini dilakukan secara supranatural dengan kekuatan semacam hipnotis dari suatu ayat tertentu. Hal ini cukup beralasan karena kesembuhan penyakit secara logika dapat diperkirakan dan dicegah melalui keilmuan dunia medis.

Baca juga :  Tafsir Ayat Tafakur dalam Al-Qur’an

Jika ditelisik lebih lanjut, fenomena pengobatan dengan Alquran (Qur’anic healing) yang menggunakan bacaan ayat-ayat, surat-surat, bahkan seluruh Alquran dengan  tujuan menyembuhkan penyakit pasien sudah menjadi hal yang lumrah di berbagai negara. Bahkan, negara yang sangat modern seperti Amerika Serikat memiliki sejumlah pusat-pusat terapi Alquran, seperti Islamic Educational and Cultural Research Center of North America.

Penyembuhan dengan Alquran bukanlah hal yang baru. Literatur sejarah Islam telah mendapatkan legitimasi penyembuhan dengan Alquran melalui Alquran itu sendiri. Sebagai sumber otoritas pertama dalam Islam, Alquran sendiri sering kali menyebut dirinya sebagai syifa’ (penyembuh), sebagaimana QS al-Isra’ (17): 82.

Harus diakui bahwa terdapat banyak keistimewaan dari Alquran yang belum semuanya berhasil diketahui manusia. Hanya sebagian kecil saja yang telah diketahui oleh manusia, dan barangkali pengobatan dengan Alquran merupakan salah satunya.

Ayat-ayat Alquran yang digunakan dalam pengobatan merupakan unsur-unsur metafisika yang akan secara langsung terhubung dengan pusat otak. Hal ini dikarenakan yang memproses fungsi-fungsi non verbal dan emosional adalah bagian otak. Ayat-ayat tersebut dapat melakukan penyembuhan emosional dan secara ajaib bahkan meningkatkan kesadaran spritual.

Ayat-ayat penyembuh Alquran memiliki suatu keistimewaan tertentu yang tidak ditemukan dalam obat-obat kimia, yang hanya diciptakan oleh Allah. Dalam prosesnya, ayat-ayat tersebut akan membangkitkan energi spiritual yang mampu menyembuhkan rasa sakit yang dihadapi pasien.

Baca juga :  Benarkah di dalam Al-Qur’an Ada Lafal yang Bukan Bahasa Arab?

Tidak hanya itu, terdapat pula hadis riwayat Bukhari nomor 5294 yang menjelaskan bahwa Nabi ketika sakit membaca bacaan mu’awwidzat (Surah an-Naas dan al-Falaq) lalu meniupkan ke dua tangannya, kemudian mengusapkan ke wajah dengan kedua tangannya. Hal ini kemudian diikuti pula oleh Aisyah RA. pada nabi ketika sakitnya semakin parah.

Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Ma’mar dari Az Zuhri dari ‘Urwah dari Aisyah RA bahwa Nabi SAW meniupkan kepada diri beliau sendiri dengan Mu’awwidzat (surat An nas dan Al falaq) ketika beliau sakit menjelang wafatnya, dan tatkala sakit beliau semakin parah, sayalah yang meniup dengan kedua surat tersebut dan saya megusapnya dengan tangan beliau sendiri karena berharap untuk mendapat berkahnya.” Aku bertanya kepada Az Zuhri; “Bagaimana cara meniupnya?” dia menjawab; “Beliau meniup kedua tangannya, kemudian beliau mengusapkan ke wajah dengan kedua tangannya.” (HR Bukhari 5294).

Peristiwa tersebut mengindikasikan perbuatan nyata dari Nabi Muhammad yang melakukan pengobatan dengan membaca bagian dari surat Alquran. Praktik ini kemudian ditiru oleh Aisyah kepada nabi Muhammad ketika beliau sakit dengan cara yang serupa.

Praktik pengobatan Qur’ani yang terjadi sekarang menunjukkan pola yang serupa dengan hadis tersebut. Pembacaan Alquran dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk mendekatkan diri pada Allah. Allah diyakini sebagai Dzat yang mampu menyembuhkan segala penyakit karena Allah maha kuasa atas segala yang terjadi di dunia ini.

Baca juga :  Konsepsi Sejarah Menurut Al-Qur'an

Akan tetapi, keberhasilan praktik ini juga harus disertai dengan perbuatan nyata dari pasien untuk menyembuhkan diri dengan menempuh cara yang riil, seperti tetap menempuh pengobatan medis, terapi, dan lain sebagainya. Pasien (orang yang meminta didoakan) harus tetap berserah pada Allah dan menempuh cara-cara yang umum dilakukan orang yang sakit. Cara yang dimaksud adalah tetap menempuh pengobatan medis, menjaga pola makan dan tidur sesuai anjuran dokter, melakukan olahraga/aktivitas secukupnya, dan semacamnya.

Pengobatan Qur’ani ini hanya merupakan salah satu ikhtiar manusia untuk berusaha mendekat pada yang Maha Kuasa untuk diberi kesembuhan. Kesembuhan akan datang dengan niat yang tulus dan kemauan keras dari pasien melalui jalan-jalan medis ataupun cara yang tidak dapat diduga-duga lainnya dari Allah.

Wallahu a’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.