Melihat Secuil Keluasan Ilmu Mbah Moen

Tahun ini semesta sedang berduka, tidak berlebihan ketika saya menggunakan kata semesta untuk rasa duka yang mendalam ini, pasalnya salah satu paku bumi, seorang waliyullah yang wira’i, saleh, alim dan peka sosial itu pada hari Selasa bertepatan pada tanggal  5 Dzulhijjah 1440 H telah benar-benar memenuhi panggilan-Nya dan berada di sisi-Nya di tempat yang paling mulia. Beliau adalah KH Maemoen Zubair atau akrab dipanggil Mbah Moen yang bersama dengan para gurunya dimakamkan di Ma’la, Mekah.

Tidak hanya Indonesia saja yang merasa berduka, bahkan ucapan bela sungkawa mengalir dengan deras dari ulama dunia, seperti Syekh Hisyam Kamil, Syekh Fathi Abdul Rahman Hijazi, Habib Ali Jufri dan lainnya, yang meyakini bahwa beliau -Mbah Moen- adalah salah satu wali Allah yang ditempatkan di Indonesia.

Mbah Moen dikenal sebagai sosok yang luas wawasan ilmunya dan cinta tanah air, ia adalah sejarah hidup, yang dimiliki dunia, terlebih Indonesia.

Beliau telah mengalami berbagai macam fase dalam melihat perjalanan bangsa dari sebelum kemerdekaan sampai dengan kemerdekaan, maka tak heran jika Mbah Moen sering mewejangi para tamu untuk selalu cinta tanah air sebagai rasa ikut andil dalam jeri payah pengorbanan para pejuang.

Untuk mengenang Mbah Moen, saya ingin menceritakan secuil kisah yang saya peroleh dari Kyai Moh. Tamtowi Magelang yang ketika itu sedang sowan bersama dengan rekan-rekannya di Sarang. Ketika itu rombongan Kiai Tamtowi sampai ke ndalem Mbah Moen sekitar jam lima sore ba’da Asar, sedikit tamu yang hadir dan kebetulan ruang tamu pun tidak penuh sesak sehingga para rombongan bisa duduk di kursi yang disediakan.

Sudah menjadi hal yang lumrah ketika Mbah Moen menanyai tiap-tiap tamu yang hadir. “Kamu siapa dan dari mana?”

Para rombongan itu menjawab satu persatu siapa dan dari mana asal mereka. Namun, belum sampai semua tamu memperkenalkan diri, Mbah Moen tertarik dengan seorang tamu yang hadir di sana.

“Kamu dari mana?” tanya Mbah Moen.

Tamu itu pun menjawab, “Saya dari Fak Fak, Mbah.” Dengan senyum tersungging di bibir tamu itu.

“Kamu tahu tidak kenapa nama daerahmu itu dinamakan Fak Fak?” tanya Mbah Moen.

Terkejut dengan pertanyaan itu, si tamu dengan santun menjawab, “Tidak tahu Mbah.”

Dengan paras yang teduh, Mbah Moen kemudian menceritakan kisah yang beliau peroleh dari Ibn Batutah. Dahulu ketika Ibn Batutah menjelajah pulau-pulau yang belum terjamah, ia sampai ke suatu daerah yang mana daerah tersebut sangat kaya raya dan subur. Bahkan diceritakan kalung-kalung dari anjing-anjing milik tuannya terbuat dari emas.

Daerah itu sangat subur dan kaya sumber daya alamnya, terang Mbah Moen yang menjeda ceritanya. Mendengar cerita mbah Moen tersebut para tamu baik itu tamu dari Fak Fak  dan Kiai Tamtowi merasa takjub akan pengetahuannya.

“Tapi ada suatu hal yang membuat Ibn Batutah terkejut ketika dia singgah di sana”, lanjut Mbah Moen yang sudah membuat penasaran para tamu.

“Di sana Ibn Batutah menemukan pohon yang buahnya mirip dengan perempuan berambut panjang yang rambutnya bergelantung di cabang-cabang pohon. Dan anehnya,” lanjut Mbah Moen, “Buah itu ketika matang akan jatuh ke tanah dan ketika ada angin yang melewati buah tersebut akan terdengar suara waq waq.”Terang Mbah Moen sambil melihat tamu dari Fak Fak itu.

“Kamu tahu ndak sejarah daerahmu itu?” tanya Mbah Moen lagi ke tamu tersebut, tapi dengan rasa malu si tamu tetap menjawab, “Tidak tahu, Mbah.” Mbah Moen kemudian menasihati para tamu akan pentingnya untuk mempelajari sejarah karena dengan sejarah orang tidak akan meninggalkan dan menghianati bangsanya.

Betapa terkagumnya Kiai Tamtowi kala itu karena luasnya ilmu pengetahuan Mbah Moen yang tahu tiap jengkal daerah di Indonesia.

Pengetahuan Mbah Moen tidak hanya sebatas itu saja, saya pernah melihat ada seseorang yang mengunggah pengalamannya ketika sowan ke mbah Moen. Dia ingin meminta restu ke Mbah Moen karena ingin menikah. Sejurus kemudian ia memberi Mbah Moen undangan yang telah dibawanya.

Seketika Mbah Moen memperhatikan undangan itu dan membacanya dengan jelas. Sontak orang itu terkejut karena sampul di undanganya berbahasa Jepang dan Mbah Moen bisa membacanya.

Seketika itu Mbah Moen bilang, “Bagus sekali undanganya, tapi kamu masih cinta Indonesia kan?” tanya Mbah Moen.

Dengan tegas orang itu menjawab, “Iya, Mbah.”

Itulah beberapa cuil luasnya pengetahuan Mbah Moen yang mungkin tiap tamu yang sowan selalu menemukan hal baru yang belum pernah mereka temukan. Namun kini beliau sudah berpulang dan berkumpul dengan ahli-ahli ilmu lainnya. Semoga kita yang pernah semasa dengan beliau bisa dianggap sebagai muridnya yang selalu meneladani kearifan dan ketekunannya dalam mencari ilmu.

Untuk beliau, Mbah Moen Al-Fatihah.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *