Memahami Dimensi Tersembunyi dari Sebuah Musibah

Dalam hidup, terkadang kita dihadapkan oleh kondisi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang diinginkan. Bagaikan dua sisi mata uang, kebahagiaan dan kesedihan itu adalah keniscayaan. Seseorang yang memandang musibah itu adalah  sesuatu yang wajar-alami bisa saja terjadi atas kehendak Tuhan, maka dirinya cenderung mudah untuk ridha terhadap kehendak-Nya.

Sebaliknya, jika seseorang memandang musibah itu adalah sebuah bentuk kutukan Tuhan sekaligus beban, maka ia cenderung membenci datangnya musibah dan tak jarang, menjadikan aktivitas negatif sebagai bentuk pelampiasan.

Alladzi khalaqal mawta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala,” Alquran surah al-Mulk/67: 2 tersebut sebetulnya sudah memproklamirkan dengan sangat gamblang bahwa Tuhan yang Maha Suci—menjadikan kematian dan kehidupan adalah  sesuatu  yang pasti terjadi dalam diri makhluk hidup (dalam hal ini manusia) agar Allah mengetahui secara pasti siapa saja makhluk-Nya yang memiliki amal perbuatan yang terbaik (ahsanu ‘amala).

Penggunaan lafaz ahsan dalam surah al-Mulk/67: 2 menyiratkan bahwa dunia adalah tempat untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan sehingga hakikatnya, cobaan adalah sebagai hiasan dan ‘batu loncatan’ yang semestinya ada untuk menguji setinggi dan sekuat apa keimanan seseorang.

Allah tidak menggunakan lafaz hasan (baik) namun ahsan (terbaik) yang memiliki makna bahwa amal-amal terbaik adalah perbuatan-perbuatan yang lebih mendekatkan seorang hamba pada Tuhannya—yang biasanya ini terjadi ketika seorang hamba tertimpa musibah.

Baca juga :  Jangan Suka Merendahkan Orang Lain!

Jika kita mau merenungi dengan jiwa yang bersih, ujian duniawi juga sebetulnya tempat manusia untuk lebih mengenal Tuhannya (ma’rifatullah) sebab ketika musibah datang, manusia cenderung menghamba dan merendahkan dirinya kepada Zat yang Maha Besar.

Saat-saat datangnya musibah juga membuat seorang hamba cenderung tak memiliki daya apapun, hingga ia pun tersadar bahwa ada Zat yang Maha Kuasa yang dapat menghilangkan segala kesulitan dan kesusahan hidup.

Surah al-Mulk/67: 2 di atas akhirnya disempurnakan oleh tuntunan ayat berikutnya  yaitu surah al-Baqarah/2: 154-155. Dua ayat yang berkenaan langsung dengan musibah dan jenis-jenis musibah apa saja yang biasanya menimpa manusia.  “Dan sungguh, akan Kami timpakan kepadamu (segala jenis ujian) yaitu khauf (rasa takut), wal ju’i (dan kelaparan), wa naqsin minal amwal (dan kekurangan harta benda), wal anfus (kehilangan jiwa) wats tsamarat (dan bahan pangan/ buah-buahan). Dan berilah kabar gembira untuk orang-orang yang sabar”.

Kelima jenis bentuk musibah yang biasanya menimpa manusia seperti yang telah terurai di atas adalah hal-hal yang biasanya ditakuti oleh sebagian besar manusia; rasa takut (khawatir) akan rezeki, takut kehilangan orang yang disayang, takut kekurangan harta benda, takut kelaparan, dan  takut kekurangan makanan (krisis pangan). Ketakutan-ketakutan ini adalah keniscayaan yang pasti dihadapi oleh manusia.

Baca juga :  Memaafkan itu, Mudah!

Namun, satu hal yang perlu kita ketahui adalah bahwa Allah tentu tak membiarkan hamba-hamba-Nya menghadapi kelima jenis musibah di atas seorang diri. Petikan ayat di atas ditutup oleh jaminan bahwa Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

Siapakah golongan yang termasuk kategori orang yang bersabar? Jawabannya ada dalam redaksi ayat berikutnya; “(Orang-orang yang bersabar) yaitu mereka yang ketika tertimpa musibah, mereka melafadzkan ‘Sungguh, kami adalah milik Allah dan kepada Allah kami kembali”.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un— kata yang tak asing lagi kita dengar ketika ada seseorang kerabat maupun keluarga yang meninggal dunia. Namun tahukah kita, bahwa lafaz itu bukanlah dibaca hanya terbatas ketika kehilangan orang yang kita sayang saja namun juga ketika kita tertimpa rasa takut akan lima hal yang telah disebutkan di atas.

Lafaz istirja’ di atas sekaligus memberikan kita pengajaran dan dimensi yang tersembunyi dari sebuah musibah; pernyataan sepenuhnya dan kepasrahan atas kehendak Tuhan— bahwa sebagai manusia, tawakkal (perasan berserah sepenuhnya dengan tulus ikhlas pada Allah) diperlukan sebab di saat itulah, pertolongan Allah datang bagi orang-orang yang berprasangka baik terhadap takdir Allah kemudian bersabar atasnya.

Baca juga :  Hikmah di Balik Pandemi Covid 19 Menurut Islam

Artikel ini juga tersedia dalam bahasa: English

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.