Memahami Konsep Kehilangan

Belum lama ini viral pemberitaan mengenai seorang wanita yang mengirim racun Sianida pada mantan kekasihnya. Si wanita merasa sakit hati karena ditinggalkan. Sayangnya racun itu salah sasaran dan menimbulkan kematian pada orang yang tidak ada hubungannya dengan konflik tersebut.

Pada akhirnya wanita itu tidak hanya kehilangan kekasihnya, namun juga kehilangan kesempatan sementara untuk menikmati kebebasannya dan harus mendekam di bui.

Kehilangan adalah salah satu hal yang pasti ditemui oleh manusia. Bentuk kehilangan bukan hanya ditinggalkan manusia atau rusaknya benda favorit kita, yang berupa materi saja.

Ada beberapa kehilangan immateri seperti kehilangan kepercayaan seseorang, kehilangan perhatian atau hal yang berupa afeksi lain, kehilangan kersempatan mudik bertemu keluarga, bahkan ada yang pernah merasa kehilangan jati dirinya.

Cara menyikapi kehilangan setiap orang pun bermacam-macam. Ada orang yang terkejut dengan kehilangan karena tidak siap menghadapi, ada yang sedih  karena merasa sakit hatinya, ada yang biasa saja karena berpikir bahwa kehilangannya adalah hal yang masih bisa tergantikan, bahkan ada yang marah atas kehilangan karena merasa terbuang atau dikhianati seperti kasus di atas.

Kehilangan meski sekecil apapun bisa menyakiti perasaan dan bisa memunculkan emosi negatif seperti sedih atau marah. Bahkan manusia sekuat apapun bisa menangis atas kehilangan.

Baginda Nabi Muhammad saw. seorang yang tangguh secara mental dan kuat secara fisik yang telah memimpin puluhan perang tidak kuasa menahan air mata beliau ketika kehilangan Ibrahim, putra beliau.

Baca juga :  Sifat Perfeksionis Menurut Al-Qur’an

Namun bukan berarti munculnya emosi negatif seperti sedih, cemas, atau marah ketika kehilangan adalah bentuk kelemahan seorang manusia.

Bagi manusia, emosi tidak sekadar berfungsi untuk mempertahankan hidup (survival) seperti pada hewan. Akan tetapi emosi juga berfungsi sebagai pembangkit energi (energizer) yang memberikan kegairahan dalam kehidupan manusia. Selain itu, emosi juga merupakan pembawa pesan (messenger) (Martin, 2003).

Tiga Tindakan

Dampak dari munculnya emosi karena kehilangan tersebut akan muncul dalam bentuk tindakan. Menurut Karen Horney (1885-1952) ada tiga hal yang akan dilakukan manusia ketika menghadapi konflik batinnya.

Pertama, bergerak menuju orang lain (moving toward people). Ketika mengalami konflik batin karena kehilangan kita cenderung membutuhkan dukungan. Tindakan negatif yang dilakukan bisa berupa bergantung pada orang lain karena merasa takut kehilangan lagi, merasa takut terabaikan, dan tindakan lain yang bersifat parasit.

Tindakan yang tepat bisa dengan meminta bantuan orang lain sewajarnya, curhat dengan teman mengenai perasaannya agar beban emosi terkurangi, dan merangkul orang yang memiliki nasib serupa atau yang mengalami kehilangan lebih besar agar merasa bebannya lebih ringan.

Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kamu tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan (Al-Maidah, 5:2)

Baca juga :  Sifat Perfeksionis Menurut Al-Qur’an

Kedua, bergerak menjauhi orang lain (moving away from people). Ada beberapa orang yang menerima musibah kehilangan dengan tanggapan negatif pada dirinya sendiri. Misalnya seorang yang tidak diterima dalam pekerjaan tertentu menjadi tidak percaya diri untuk melamar pekerjaan lagi.

Atau seseorang yang mendapat nilai rendah pada ujian atau soal tertentu lalu merasa pantas untuk mendapatkannya tanpa melakukan usaha meningkatkan kemampuan dirinya. Istilah kerennya nge-down.

Pada beberapa kasus kehilangan mungkin orang memang melakukan tindakan menjauh dari orang lain namun dengan cara tepat. Kehilangan bisa memunculkan sifat kemandirian seseorang dan bisa membentuk sifat independensi lain.

Agama kita memang mengajarkan menyerahkan urusan pada Allah Swt. dengan bentuk perilaku sabar ketika mendapat musibah kehilangan.

Dan sesungguhnya Kami selalu menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ‘sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali’ ’’ (Q.S. Al Baqarah, 2: 155-157).

Menurut Sa’id Hawa kesabaran itu berkorelasi dengan rasa syukur. Maka memanfaatkan potensi semaksimal mungkin dengan berusaha lebih giat ketika menghadapi kehilangan namun tetap berada dalam koridor hukum agama adalah salah satu bentuk kesabaran.

Baca juga :  Sifat Perfeksionis Menurut Al-Qur’an

Ketiga, bergerak melawan orang lain (moving against people). Kasus “sate sianida” adalah contoh perlawanan terhadap orang lain dalam menghadapi konflik batinnya ketika menghadapi kehilangan. Pelampiasan yang dilakukan pelaku yang bersifat destruktif bukan hanya merugikan orang lain namun juga merugikan diri sendiri.

Lagu yang sedang trending akhir-akhir ini berjudul DPR-Musikal merupakan salah satu wujud tindakan melawan orang lain dalam menghadapi kehilangan yang bersifat konstruktif.

Menyikapi kehilangan dengan perlawanan yang bersifat konstruktif tentu bisa memberi kemanfaatan pada orang lain dan diri sendiri.

Siapapun kita pasti akan dan pernah mengalami kehilangan. Kita boleh marah atau sedih ketika menghadapi situasi tersebut. Namun yang paling penting bagaimana kita mengendalikan perilaku kita ke arah positif untuk mengatasi konflik batin atas kehilangan tersebut.

Yang tidak kalah penting adalah melibatkan Allah Swt. dalam setiap urusan termasuk kehilangan dengan berdo’a dan tidak berhenti berprasangka baik.

Sumber:

Teori-Teori Psikodinamik (Klinis), Calvin S. Hall & Gardner Lindzey. Penerbit:  Kanisius Yogyakarta

Tazkiyatun Nafs (Konsep dan Kajian Komprehensif dalam Aplikasi Menyucikan Jiwa), Sa’id Hawwa, Penerbit : PT Era Adicitra Intermedia

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.