Membaca Islam Indonesia dari Eropa

Sejumlah akademisi, aktivis dan diplomat berkumpul pada sebuah konferensi bergensi di London, United Kingdom, pada akhir Februari 2020 lalu. Konferensi yang bertajuk British Islam Conference ini mengkaji tentang dinamika, perubahan, sekaligus tantangan-tantangan yang dihadapi oleh komunitas muslim di seluruh dunia. Juga, memetakan problem mendasar bagi peradaban manusia saat ini.

Forum ini dihadiri ratusan pembicara dan peserta, yang datang dari pelbagai negara untuk sharing gagasan. Di antaranya, Prof. Ebrahim Moosa, Dr. Peter Mandaville, Moazzam Malik, Stephen Hoffman, Salah Anshari, Dr. Michael Privot, Dr. James Holt dan Dr. Hossein Dabbagh. Dari Indonesia, hadir Alissa Wahid (Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian) dan Ihsan Ali Fauzi (PUSAD Paramadina).

Pada konferensi ini, penulis turut hadir untuk silaturahmi gagasan, sekaligus berbagi ide dengan beberapa akademisi, aktivis dan penasihat politik pemerintah.

Di forum ini, Moazzam Malik, mantan Duta Besar United Kingdom untuk Indonesia, mengisahkan bagaimana perjalanan sekaligus pengalamannya mengenal dan merasakan Islam Indonesia. Ia bertugas di Indonesia sejak Oktober 2014 hingga Juli 2019.

Moazzam merupakan seorang diplomat yang cukup dikenal di Tanah Air, karena intensitasnya berdiskusi dengan tokoh agama lintas kelompok, juga kunjungan-kunjungannya ke berbagai pesantren. Selain itu, dirinya cukup aktif berkomunikasi di twitter, yang sering menyapa netizen dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Dalam sesi diskusi interaktif, Moazzam Malik berbagi kisah bagaimana ia mengenal Islam Indonesia dengan keunikan, keragaman, serta nilai-nilai yang khas. “Saya berkunjung ke banyak pesantren, madrasah dan sekolah-sekolah agama, baik dari NU, Muhammadiyah dan kelompok lain. Di antara yang membuat saya terkesan, pesantren-pesantren itu mengajarkan asas kebebasan, keberanian untuk berpikir,” demikian ungkapnya.

Baca juga :  Kritik Asghar Ali Engineer terhadap Teologi Islam Klasik

Sebagai diplomat, ia bertugas di Indonesia dalam jembatan relasi kerja sama pemerintah Inggris dan Indonesia. Namun, latar belakangnya sebagai seorang British-muslim, mendorongnya untuk ingin tahu lebih mendalam seraya mengkaji Islam Indonesia. Ia mengaku banyak bertemu dengan pemimpin-pemimpin Islam dari berbagai kelompok, ketika ia bertugas di Indonesia.

Bagi aktivis muslim di Indonesia, Moazzam Malik memang punya pengalaman luas. Ia berkomunikasi dengan ramah, serta mudah membangun persahabatan. Keramahan, kecerdasan, sekaligus kemauan untuk berbagai ide, yang membuatnya memiliki pergaulan luas dengan para tokoh muslim Indonesia. Ia bertukar sapa dengan komunitas-komunitas muslim, di sela-sela tugasnya sebagai diplomat.

Di sesi panel British Islam Conference itu, Moazzam mengapresiasi betapa Islam Indonesia dapat menjadi alternatif di tengah meningkatnya eskalasi konflik global. Kelompok-kelompok Islam moderat, semisal Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, punya peran penting dalam menjaga dinamika keislaman di Indonesia agar tetap pada kerangka perdamaian.

Meski demikian, dirinya juga menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi muslim Indonesia, di antaranya meningkatnya politik identitas, merebaknya kelompok ekstremis, hingga paham takfiri. Dalam konteks ini, ia mengapresiasi langkah NU yang berani melawan paham takfiri.

Bahwa kampanye melawan gerakan takfiri, sekaligus meredefinisi konsep ini harus digerakkan pada level internasional. Umat muslim di berbagai belahan dunia juga mengalami tantangan yang sama.

Baca juga :  Soal Poster Klepon Tidak Islami, Asli Apa Buatan Oknum?

Dari presentasi Moazzam Malik, saya kemudian mengajaknya diskusi bagaimana langkah-langkah konkret ke depan untuk membangun perdamaian. Salah satunya adalah dengan komunitas agama sebagai salah satu pilarnya.

Butuh gerak bersama untuk saling belajar, saling berbagi pengalaman bagaimana menganalisis tantangan masing-masing umat muslim di setiap negara. Hal ini juga sekaligus membangun solusi terencana yang konsisten.

Islam Eropa-Islam Indonesia 

Dari konferensi British Islam 2020 ini, setidaknya ada beberapa pesan penting yang menjadi catatan. Forum ini menggarisbawahi beberapa tantangan umat muslim sedunia.

Pertama, konflik internal umat muslim. Meruncingnya konflik antar sesama umat muslim di pelbagai penjuru dunia, merupakan tantangan besar. Perbedaan ideologi yang kemudian beririsan dengan politik, menjadikan konflik meluas menggunakan isu-isu agama.

Kedua, populisme politik. Kebangkitan populisme politik menjadi tantangan bagi demokrasi, maupun umat muslim di pelbagai negara. Di India, terjadi pembantaian umat muslim serta kerusuhan di beberapa kawasan.

Perdana Menteri Narendra Modi dan Bharatiya Janata Party (BJP) mengusung politik populisme, dengan mengkapitalisasi identitas agama dalam kontestasi politik. Fenomena populisme politik juga terjadi di Indonesia, yang ditandai dengan meningkatnya politik identitas berbasis etnis dan agama dalam persaingan politik untuk mendulang suara.

Ketiga, meningkatnya takfirisme. Politik pengkafiran mengalami peningkatan eskalasi pada komunitas-komunitas muslim, ketika berkontestasi di ruang publik demokratis. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga hampir merata di kawasan Eropa.

Baca juga :  Nalar Moderat dan Problem Konservatisme Agama

Fenomena takfirisme juga meluas pada komunitas-komunitas muslim di Inggris, yang sebagian besar muslim dari Pakistan dan Bangladesh. Di sisi lain, fenomena islamophobia meningkat drastis, yang disertai aksi vandalisme masjid, kebencian terhadap simbol-simbol agama Islam, serta serangan terhadap muslim di media sosial dan internet.

Lalu, apa yang ditawarkan konferensi British Islam untuk muslim dunia? Para akedemisi, diplomat dan penasihat pemerintah yang hadir dalam konferensi itu sepakat untuk mengambil langkah nyata, terutama terus menerus membangun langkah perdamaian melalui komunitas-komunitas muslim di berbagai negara.

Moazzam Malik mengapresiasi langkah Nahdlatul Ulama yang mengkampanyekan penghentian penyebutan kafir bagi warga negara di negara demokratis. Ia mengharapkan beberapa komunitas muslim dari pelbagai negara melakukan langkah yang sama dengan membangun aliansi.

Langkah tersebut juga sekaligus memulai kampanye untuk menghentikan pengkafiran sebagai bentuk penistaan. Takfirisme harus dibendung dengan membangun narasi damai serta welas asih (rahmah, compassion) antarsesama komunitas muslim. (mzn)

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.