Membaca Nalar Kritis Muslimah dan Narasi Keadilan

Judul Buku: Nalar Kritis Muslimah: Refleksi atas Keperempuanan, Kemanusiaan, dan Keislaman

Penulis: Nur Rofiah

Penerbit: Afkaruna.id

Cetakan I: Agustus 2020

Tebal: 225 halaman

ISBN: 978-623-906-329-0

 

Membaca Nalar Kritis Muslimah: Refleksi atas Keperempuanan, Kemanusiaan, dan Keislaman (2020), seakan-akan perempuan selalu “terendahkan” dan “terzalimi”. Baik secara ontologis, teologis, etis dan biologis. Bahkan kalau kita lihat secara jujur, perbincangan dalam buku ini, keberadaan personal-sosial perempuan seperti bertempat diposisi selalu “kalah” atau “rendah”.

Di sekujur pembahasan buku ini, Nur Rofiah menghadirkan perdebatan gender yang selalu dihadapkan-hadapkan antara laki-laki dan perempuan. Subjektivitas Nur Rofiah memandang kemanusiaan perempuan dan laki-laki berada di atas sekat-sekat hierarki tidak sejajar dalam legitimasi agama. Sambilalu ia mengkritisi itu dengan bangunan argumen agama untuk memperkuat asumsi ketidaksejajaran mereka atau sebaliknya.

Menyimak kompleksitas pembahasan gender, masalahnya bukan hanya problem gender, tetapi cara berfikir tentang gender itu sendiri. Interpretasi atas kontruksi kesejajaran laki-laki dan perempuan baik dalam tradisi Barat dan Timur atau masyarakat Muslim adalah tanggung jawab moral kita semua. Tetapi, usaha desiminasi itu perlu diarahkan pada tinjauan bangunan pikiran moderat. Agar, serapan nilai-nilai yang telah “diendapkan” bertranformasi jadi nalar/kritik/reflektif yang dinamik-bijak.

Sebagai usaha mewacanakan relasi kesetaraan laki-laki dan perempuan dan kemanusiaan berkeimanan, buku ini paling tidak memiliki satu kepentingan, yaitu komitmen menyuarakan atau mempertanyakan realitas keadilan dalam pandangan Islam. Keinginan memberdayakan perempuan memang harus bisa mengurai benang kusut praktik sosial-budaya-keagamaan yang melemahkan perempuan sebagai fondasi untuk melihat agensi masalahnya. Prosesnya, juga perlu mengubah pandangan mayoritas-otoritas lewat jalan pembacaan teks suci atau logika keagamaan secara maksimal. Karena, hanya itulah jalan tempuh atau paling tidak itulah teks utama yang dijadikan rujukan praksisnya.

Baca juga :  Indonesia dalam Gambaran Negara Wiranacita di Novel CAD*L
Perdebatan Relasi Laki-Laki dan Perempuan

Relasi eksistensial perempuan dan laki-laki sejak awal sudah diperdebatkan. Perdebatan itu biasanya mengacu pada teks-teks ayat penciptaan manusia (Hawa) yang menurut sebagian mufassir hanya sebagai pelengkap daripada laki-laki. Padahal, kalau dilihat dari muaranya, mereka sama-sama dari unsur yang sama: daging, atau nafs wahidah, jiwa yang sejenis. Bahkan tubuh perempuan dan laki-laki adalah sama, sama-sama menjadi tubuh manusia dan oleh karena itu kepemilikannya mutlak hanya milik sendiri atau penciptanya.

Maka, ketika ada penafsiran ayat, “perempuan bisa dipaksa menikah lalu diceraikan sebelum mestruasi pertama (QS. ath-Thalaq [64]:4), dipoligami dengan jumlah istri maksimal empat istri dengan syarat adil dan mendorong monogami (QS. an-Nisa [4]:3), dan perempuan boleh dicerai lalu dirujuk berkali-kali tanpa batas (QS. al-Baqarah [2]:229 membatasi maksimal dua kali yang boleh dirujuk), disitu Nur Rofiah bertanya keras, “siapakah pemilik mutlak tubuh perempuan?’

Secara tegas Nur Rofiah mengatakan, “laki-laki dilarang menuntut perempuan tunduk mutlak, sebab sebagai sesama hamba Allah, keduanya hanya boleh tunduk kepada Allah. Laki-laki dan perempuan hanya boleh menggunakan tubuhnya dan tubuh orang lain secara bermartabat, yakni diperbolehkan agama (halal), baik (thayyib), dan pantas/layak (ma’ruf). Dengan cara ini, manusia bisa membuat tubuhnya baik dan maslahat pada diri sendiri dan pihak-pihak lain. Tubuh laki-laki dan perempuan, lanjutnya, adalah miliki Allah” (hlm. 20).

Baca juga :  5 Buku Islami yang Bikin Betah di Rumah Selama Wabah

Sesungguhnya, Islam dan Al-Qur’an telah memberikan contoh konkret bagaimana mendudukkan relasi perempuan dan laki-laki tanpa mengabaikan pentingnya kebebasan  hak perempuan. Atau, kondisi-kondisi khusus yang dialami perempuan, seperti menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, menyusui dan sebagainya. Cuma, artikulasi Al-Qur’an atau pandangan agama pada kesetaraan itu terabaikan selama berabad-abad, bahkan sampai sekarang.

Maka itu, perumusan kebijakan baik dalam perspektif dan kebijakan otoritas negara harus bersumber pada pengalaman kondisi biologisnya manusia. Ia harus adil, bukan berdasarkan kekuatan, kejantanan, atau jumlah, tetapi pada keadilan yang beradab, setara dan bermaslahat.

Nilai Kesetaraan Manusia

Merumuskan nilai kesetaraan manusia, bukan juga pada kelas sosialnya, melainkan kepada ketakwaan, iman, dan perilaku baiknya. Sebagaimana bunyi ayat Al-Qur’an yang dijadikan argumen berulang-ulang dalam buku ini, “Sesungguhnya yang paling mulia di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa”. Pun Rasulullah mengingatkan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. Maka itu, standar nilai manusia itu mulia atau tidak hanyalah ketakwaan. Salah satu indikator kuat dari takwa adalah wujud sikap baik kepada sesama: istri ke suami atau suami ke istri, termasuk dalam pergulatan di atas ranjang.

Menurut Nur Rofiah, kesetaraan dan jati diri (nafs) manusia ditentukan oleh ketakwaannya. Dan takwa itu hubungan baik dengan Allah yang melahirkan hubungan baik dengan manusia baik laki-laki perempuan. Jati diri perempuan sebagai makhluk tidak berbeda dengan jati diri laki-laki sebagai manusia. Keduanya hanya ditentukan sejauh mana kebermanfataannya atau sejauh mana iman dan tauhid melahirkan perilaku maslahat kepada sesamanya, kelompok, negara, tak terkecuali kepada diri sendiri.

Baca juga :  Manusia Rohani di Zaman Ramai

Jika penilain, pengkajian, pemahaman dan pengalaman ajaran agama tetapi menistakan sebuah kemanusiaan itu adalah pelecehan terberat atas nama agama. Tuntunan dan mandat agama Islam selalu berporos pada kemanusiaan yang adil dan beradap. Maka, penting juga menggunakan nalar kritis supaya pendasaran tata nilai berdasarkan hakikat kemanusiaan. Hakikat kemanusiaan menyasar pada akar makna keadilan. Termasuk bagaimana memberi pandangan (nilai) kepada sesama manusia: laki-laki, lebih-lebih perempuan. Termasuk juga kepada orang yang dibenci.

Narasi penilain keadilan hingga kemuliaan yang hierarkis berdasarkan pemahaman manusia, bahkan telah disosialisasikan melalui proses ejawantah nilai-nilai agama dan sosial, dan dengan itu menjadi pembentuk kebenaran publik terhadap tata nilai perempuan dan laki-laki, adalah merupakan kecatatan besar yang harus ditukangi. Sikap manusia yang sering komplisit dalam menilai keperempuanan atau menilai cara perempuan memaknai kepuasan hidupnya harus segera dilawan: dikritisi. Barangkali dengan buku Nalar Kritis Muslimah inilah Nur Rofiah melawannya demi mewujudkan cita-cita kesetaraan gender yang adil dan membahagiakan(*)

 

 

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *