Membangun Agama Cinta

Mengapa kita perlu menghormati paham keagamaan umat lain dan mereka yang memiliki keyakinan berbeda? Jika kita tengok dari sisi terdalam kemanusiaan, maka tidak ada alasan apa pun bagi kita untuk saling membenci dan menyakiti, karena kita adalah manusia.

Bila keragaman dan perbedaan dihormati atas dasar kemanusiaan, maka kita tidak akan pernah terjerembab dalam membatasi kebebasan orang lain yang berseberangan dengan kita. Sebab kebebasan adalah hak primordial (paling dasar) yang sejatinya merupakan dimensi paling inti dari kedirian manusia. Tanpa kebebasan, sulit bagi manusia untuk mengekspresikan eksistensinya.

Seringkali perbedaan dipahami sebagai sesuatu yang tidak lazim, aneh, merusak, dan amat sangat bertentangan dengan pemahaman kita. Untuk itu, sebagian orang ada yang berupaya untuk menumpasnya.

Apalagi soal agama, kita cenderung menempatkan mereka yang berbeda pada kondisi yang salah dan pendosa. Para pendosa itu sering disebut kafir dan domba-domba yang tersesat. Lebih parah lagi, mereka dianggap tidak layak hidup di muka bumi ini.

Padahal, keragaman mengandaikan suatu keadaan di mana setiap individu dan kelompok tertentu, memiliki keunikannya sendiri-sendiri dan suasana keragaman itulah yang sebenarnya dapat menciptakan suatu keadaan yang rukun dan damai di tengah masyarakat yang majemuk. Bukankah keyakinan orang lain sama pentingnya sebagaimana apa yang kita yakini?

Agama bukan hanya soal hitam dan putih. Bukan soal membenci yang lain hanya karena mereka digolongkan sebagai kelompok yang hitam. Agama itu soal cinta-kasih, suatu perasaan yang mampu menjadikan umat manusia setara dan menjadi jembatan penghubung satu sama lain.

Sebab Tuhan membangun istana cinta untuk semuanya, bukan untuk kelompok tertentu saja. Tuhan tidak menciptakan alam ini hanya untuk satu agama saja, satu suku, dan satu bahasa, tapi untuk semuanya, untuk orang-orang yang hidup atas nama cinta dan kasih sayang.
Maka jangan jadikan agama sebagai dasar bagi sikap saling bermusuhan dan menyakiti.

Baca juga :  Perempuan Ulama di Pentas Sejarah; Rabi'ah Al-Adawiyah (6)

Janganlah kita berbicara atas nama cinta, tetapi di saat yang sama membenci orang lain yang juga mengkspresikan kecintaan mereka terhadap Tuhannya. Di muka bumi ini, Tuhan mencintai siapapun tanpa pilih kasih. Karenanya, kepedulian kita kepada sesama harus berangkat dari cinta kasih ini.

Kita harus sadar bahwa kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain. Kebebasan yang sebebas-bebasnya, justru menyalahi aturan demokrasi. Sikap merasa paling benar sendiri juga melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan. Setiap orang memiliki batasan, yang dengannya, ekspresi cinta kepada hidup diwujudkan dalam bentuk saling menghargai.

Manusia beragama harus saling menghormati satu sama lain. Inilah tuntutan yang paling fundamental pada tataran kemanusiaan. Sebab, kebaikan tidak pernah diukur dari keyakinan macam apa yang dimiliki oleh seseorang. Kebaikan adalah universalitas yang menjadi penghubung antar umat beragama.

Bila kita berbuat baik, kata Gus Dur, orang tak akan bertanya apa agamamu. Agama dan kata-kata sudah lenyap dan tidak berlaku lagi di sini, yang tersisa hanyalah perasaan cinta dan welas asih. Betapa luasnya jangkauan dimensi cinta ini, hingga orang tak butuh dalil untuk memastikan kebenarannya. Seperti pernyataan cinta kepada tanah air, orang tak butuh dalil untuk membenarkannya.

Baca juga :  Argumen Islam tentang Ide Kebebasan Beragama

Kita perlu menganggap satu sama lain sebagai saudara sebab kita manusia. Dengan begitu, pengalaman religiusitas seseorang harus ditundukkan pada cinta kasih, agar benih-benih kebaikannya dapat dirasakan oleh semua orang tanpa pilih-pilih. Dan, bukankah kita diciptakan dari Tuhan yang satu dan sama?

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.