Memblokir Media Sosial Apakah Berarti Memutus Silaturahmi? Ini Kata Habib Husein Ja’far

Habib Husein Ja’far

Habib Husein Ja’far Al-Hadar merupakan dai muda milenial kelahiran Bondowoso Jawa Timur. Selain menulis buku-buku islami, ia juga sekarang aktif dalam berbagai konten berdakwah khususnya di media sosial Youtube.

Nama Habib Husein mulai melambung ketika ia mendapat julukan The Light and The Protector bagi para pemuda tersesat. Apalagi ia punya rekan kolaborasi Tretan Muslim dan Coki Pardede yang menambah menarik konten-konten dakwahnya.

Melalui kanal Youtube “Jeda Nulis”, Habib Husein mengunggah sebuah video terkait problem yang sering terjadi di media sosial, yakni memblokir akun media sosial orang lain dianggap sebagai memutus silaturahmi. Benarkah demikian?

Berikut penjelasan Habib Husein Ja’far:

Saya itu kadang memblokir akun-akun yang menurut saya perlu diblokir. Dan orang kadang nanya, “Bib, memangnya memblokir akun orang itu boleh? Apa itu tidak berarti memutus silaturahmi?”

Nah, ini penting dijelaskan, beda antara memblokir dan memutus silaturahmi. Silaturahmi itu berakar kata dari dua kata, yaitu silah dan rahim. Silah itu artinya hubungan, rajutan. Dan Rahim itu adalah cinta kasih.

Maka, memutus silaturahmi artinya menghilangkan rasa cinta kasih di dalam hati kita kepada seseorang. Tapi, kalau memblokir bukan berarti menghilangkan cinta kasih di dalam diri kita.

Baca juga :  Habib Jindan: Ceramah Provokasi dan Caci Maki Bukan Ajaran Nabi

Justru, karena kita tidak ingin seseorang itu terus terjebak dalam dosa karena terus menebarkan kebencian tentang kita, terus menjelek-jelekkan kita, terus berkata buruk  tentang kita dengan mention-mention kita.

Dan agar kita menjaga kesehatan mental kita, menjaga kesehatan hati kita agar tidak terprovokasi untuk membenci dia, maka kita blokir saja. Demi kemaslahatan atau demi kebaikan.

Bagi siapa? Bukan hanya bagi kita, tapi bagi dia juga. Dengan diblokir, maka dia tidak memiliki akses untuk berkata buruk kepada kita.

Dan dengan diblokir, kita juga tidak melihat keburukan dia. Sehingga kita tidak jadi benci kepada dia. Yang tidak diperbolehkan adalah memblokir cinta dalam hati kita kepada dia. Kalau sekedar (memblokir) akunnya tidak ada masalah, demi kebaikan bersama.

Karena itu, saya kadang memblokir beberapa akun yang menyebarkan kebencian kepada saya, berkata buruk kepada saya, dan lain sebagainya. Tapi rasa cinta saya kepada dia, tidak pernah saya blokir dalam hati saya.

Justru karena saya cinta kepada dia, saya blokir akunnya. Tujuannya agar dia tidak melihat saya di timeline-nya, dan akhirnya dia tidak sesumbar kebencian kepada saya.

Dengan begitu dia tidak berdosa, dan saya juga akhirnya jadi sehat. Tidak membaca postingan-postingan dari dia yang menyebarkan fitnah, kebencian dan lain sebagainya kepada saya.

Baca juga :  Habib Zain bin Smith, Sang Penjaga Tasawuf Al-Ghazali

Kalau (Anda) nggak mau ngikuti jalan saya, silakan. Orang yang menyebarkan kebencian atau mengatakan hal-hal buruk kepada Anda, yang tidak jelas sumbernya, atau itu hanya fitnah, tuduhan, hoaks dan lain sebagainya, ya blokir saja.

Yang dilarang adalah, Anda memblokir orang-orang yang berbeda dengan Anda. Kalau (memblokir seperti demikian) itu dilarang, karena perbedaan itu adalah rahmat.

Perbedaan itu penting, untuk membuat kita semakin terbuka pikiran kita. Dan semakin berkembang pemikiran kita. Semakin meningkat kebenaran kita.

Perbedaan itu penting, asalkan perbedaan itu tidak dilandaskan oleh kebencian dan tidak terjadi dialog di antara orang yang berbeda dengan kata-kata yang penuh keburukan.

Jadi, say yes kepada perbedaan, dan say no kepada kebencian. Follow orang-orang yang berbeda, blokir orang-orang yang membenci!

Simak video sumber konten ini:Habib Husein Ja’far – Memblokir Medos

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *