Memperkuat Moderasi dan Wawasan Kebangsaan Siswa melalui Kurikulum Terfokus

Dalam satu dasawarsa ini, sejumlah survei mengenai keberagamaan generasi muda Islam Indonesia memperlihatkan adanya gejala mulai menipisnya moderasi beragama dan wawasan kebangsaan di sebagian generasi muda Islam Indonesia.

Gejala intoleransi, radikalisme, bahkan terorisme, dan ketidakpercayaan terhadap Pancasila sebagai dasar negara menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Oleh karena itu dilakukanlah penelitian melalui studi kasus mengenai pengetahuan dan implementasi moderasi dan wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda Islam Indonesia seperti pelajar SMA, santri, dan mahasiswa di berbagai lokasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya, moderasi Islam dan wawasan kebangsaan mereka cukup baik, walaupun, ditemukan juga adanya tingkat moderasi keberagamaan (Islam) dan wawasan kebangsaan mereka di kalangan sebagian mahasiswa yang masih rendah. Sejumlah lembaga pendidikan tersebut, secara sistematis telah menerapkan kurikulum yang mengandung nilai moderasi Islam dan wawasan kebangsaan.

Oleh karena itu, moderasi Islam dan wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda Islam, baik kalangan pelajar, santri, mahasiswa, dan masyarakat lainnya perlu lebih ditingkatkan dan disebarluaskan yang dilakukan secara lebih sistematis, terukur dan massif, melalui kurikulum yang lebih terfokus pada materi moderasi Islam dan wawasan kebangsaan.

Oleh karena itu, Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI melakukan penelitian tentang moderasi Islam dan wawasan kebangsaan terhadap sejumlah mahasiswa, pelajar, dan santri di lembaga-lembaga pendidikan di berbagai daerah. Penelitian tersebut dilakukan oleh sejumlah dosen Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum Umum (PTU) yang dipilih melalui seleksi Proposal mereka, sebagai bagian dari lomba karya tulis ilmiah.

Baca juga :  Kasus Aktual Pelayanan Keagamaan Isu Halal, Haji, dan Umrah Tahun 2019

Secara umum, tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui tingkat moderasi kebergamaan (Islam) dan wawasan kebangsaan mereka serta upaya-upaya yang telah dilakukan mereka melalui lembaga tempat mereka belajar. Penelitian tersebut dianggap sangat penting dalam rangka memperoleh informasi yang lebih banyak mengenai moderasi dan wawasan kebangsaan umat Islam dan upaya memperkuat moderasi Islam dan wawasan kebangsaan generasi muda Islam Indonesia.

HASIL DAN KESIMPULAN

Hasil penelitian terhadap sejumlah siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Kota Depok memperlihatkan bahwa semakin tinggi sikap moderasi mereka, semakin tinggi wawasan kebangsaannya. Pengetahuan agama Islam berpengaruh terhadap wawasan kebangsaan. Semakin tinggi pengetahuan agama Islamnya, semakin tinggi wawasan kebangsaannya. Siswa yang memiliki sikap moderasi tinggi akan lebih matang dalam menyikapi permasalahan kebangsaan.

Hasil penelitian di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) di Kota Tangerang Selatan memperlihatkan bahwa nilai-nilai wawasan kebangsaan yang ditanamkan pada peserta didik melalui penguatan pendidikan karakter pada umumnya, dan Pendidikan Agama Islam pada khususnya.

Proses penanaman wawasan kebangsaan dimulai dari integrasi kurikulum melalui beberapa mata pelajaran di antaranya, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan karakter dan Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Selain itu, proses penanaman wawasan kebangsaan dilakukan juga melalui upacara bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, menghormati bendera merah putih, pengucapan janji siswa untuk mencintai tanah air dan bangsa yang menjadi bagian dari isi buku pedoman tata tertib.

Baca juga :  Potret Kerukunan Umat Beragama di Indonesia Timur

Dalam rangka menanamkan moderasi dan wawasan kebangsaan, telah diterapkan pula Pendidikan Agama Islam yang bernuansa multikultural di SMA PIRI 2 Yogyakarta. Dengan model yang telah diterapkan tersebut, telah terlihat pula suasana multikulturalis seluruh warga sekolah tersebut, baik guru, siswa, maupun tenaga kependidikannya.

Moderasi Islam dan wawasan kebangsaan di kalangan Pondok Pesantren juga baik. Hasil penelitian terhadap Pondok Pesantren Puteri Tahfidzul Qur’an Ar Rahmah Pandeglang Banten dan Pondok Pesantren Salafi Jami’atul Ikhwan Kabupaten Serang menunjukkan bahwa persepsi santri mengenai moderasi dan wawasan kebangsaan kondisi yang demikian.

Penanaman nilai-nilai moderasi dan wawasan kebangsaan pada santri dilakukan melalui pembelajaran kitab-kitab kuning (baik kitab tauhid, fikih, maupun kitab akhlak), budaya pondok (dengan adanya interaksi antar santri dari berbagai daerah), dan kegiatan lainnya seperti ibadah wajib dan sunat, pembacaan kitab barzanji. Menghormati dan menghargai segala perbedaan, menjaga persatuan, cinta tanah air, membela tanah air dan sebagainya teraktualisasi dalam mindset dan sikap santri dalam kehidupan keseharian mereka di pesantren telah dipraktikkan oleh santri.

Pembentukan jati diri pelajar dan santri yang berkarakter demikian dilakukan melalui ruang-ruang sosial yang melingkupi seluruh alur proses dan dinamika sosial keagamaan dalam kinerja institusi pendidikan yakni yang meliputi 3 (tiga) lingkungan belajar, yaitu sekolah/madrasah, pesantren, dan masyarakat.

Ketiga, lingkungan tersebut pada dasarnya berperan penting dalam membentuk serta mempengaruhi perilaku pelajar santri pada tataran praksis sosial, yang pada gilirannya akan terkonstruksi dalam wujud jati diri dan karakter yang banyak berkontribusi dalam mempengaruhi nalar, persepsi, image dan penilaian serta tindakan individu-individu dalam serangkaian proses maupun pergaulan hidup mereka sehari-hari.

Baca juga :  Gerakan Moderasi Islam dan Kebangsaan di Kalangan Mahasiswa Kampus Umum

Di kalangan mahasiswa juga telah diperoleh informasi demikian. Program-program wawasan kebangsaan dan moderasi Islam diimplementasikan dalam beberapa mata kuliah, di antaranya, bela negara, Pendidikan kewarganegaraan, Pancasila, Pendidikan Agama Islam, dan olah raga. Implementasi wawasan kebangsaan dan moderasi Islam di antaranya adanya rasa tasāmuḥ (toleran), tawasuṭ (moderat), tawāzun (seimbang), amar ma’ruf nahi munkar mahasiswa. Mahasiswa juga mengikuti upacara bendera, persiapan kelas dan out bond bela negara. Hal ini sebagaimana yang terjadi di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. (mzn)

Hasil penelitian selengkapnya klik di sini

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *