Memperpanjang Napas

perempuan NU

Para politisi perempuan NU yang memperjuangkan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) dan perempuan-perempuan lain di NU yang menjabat jabatan publik, menjadi ulama perempuan yang tidak lahir mendadak.

Mereka telah mengikuti sejumlah pengkaderan di lingkungan NU secara formal atau informal. Mereka mengikuti latihan-latihan kader yang memuat berbagai materi. Keadilan dan kesetaraan gender adalah materi wajib.

Meskipun ada kader yang tidak ikut latihan formal, umumnya mereka mendapat materi melalui forum-forum informal. Seperti diskusi-diskusi dengan senior, seminar, atau sekadar jagongan yang bernas. Dengan demikian, Di NU, perjuangan atas keadilan dan kesetaraan gender tak akan tamat.

Jika di lembaga masyarakat sipil punya problem melahirkan kader-kader baru, tidak demikian dengan di ormas. Mauhamdiyah, NU, telah mapan dalam mereproduksi generasi baru. Nyai tumbuh di lingkungan NU juga ramah dengan lembaga masyarat sipil (LSM). LSM harus ngaji pada ormas. Bagaimana cara memperbanyak aktor.

Ormas tetap melakukan pengkaderan, tidak peduli ada lembaga donor atau tidak. Menciptakan aktor-aktor baru untuk menjaga agar perjuangan atas keadilan dan kesetaraan gender terus bernapas. Kami mengalami perjuangan tidak gampang. Bahkan tantangan muncul dari dalam. Kami cukup canggih menghadapi benturan dari dalam.

Baca juga :  Asmah Syahruni, Aktivis Tangguh Muslimat NU

Kelak mereka mungkin akan menjadi pejabat publik. Seperti para senior yang dilahirkan dari rahim yang sama: Anggia Ermarini, Luluk Nur Hamidah, Nur Nadlifah, Miftahul Janah, Nihayatul Wafiroh, dan lain-lain. Mereka Akan memperjuangkan keadilan dan kesetaraan gender.

Pada kelas SKK yang diikuti oleh 52 orang dari Jawa, Sumatra, Sulawesi ini, Nyai melengkapi studi keadilan dan kesetaraan gender dengan analisis sosial. Memperkenalkan sejumlah metodologi ansos.

India banyak menginspirasi sejumlah metodologi perubahan sosial, seperti musyawarah desa, audit sosial, dan komite sekolah. Sebenarnya, di Indonesia, juga ada praktik baik, bagaimana memperbanyak aktor, melahirkan kader kader baru. Sayang praktik ormas kerap dianggap tradisionalis, jadul, dan tidak keren. Kita terkontaminasi dengan “makin west makin the best“.

Di acara Fatayat NU, Ketum PBNU menyampaikan alasan memilih perempuan di jajaran tanfidziah. Sebab, mereka berkualitas. Siapa yang bisa menyangkal kualitas Mbak Alisa Wahid, Syekah Badriyah Fayumi?

Laki laki bahkan tak akan mampu memikul peran yang mereka ampu saat ini. Kader-kader muda dengan kualitas di atas rata rata ada banyak, Nurul Bahrul Ulum dan kawan-kawan contohnya. Idola lainnya adalah senior saya di Ciputat, Susianah Affandy yang kalau jumpa diskusi kita cukup berat. Kami berdua penyuka kajian filsafat.

Baca juga :  R.A. Sutartinah, Perempuan Hebat di Balik Kesuksesan Ki Hajar Dewantara
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *