Apik dan Mendidik

Mendengar Ocehan Nawang

 

Judul               : Hilang

Penulis            : Nawang Nidlo Titisari

Penerbit          : Mediakita

Cetakan           : Keempat 2019

Tebal                : vii + 160 hlm; 13 x 19 cm

ISBN                 : 978-979-794-573-2

 

Puisi esai akhir-akhir ini memang cukup digemari. Muncul mewarnai gemelut kesusastraan Indonesia. Tema yang diangkat juga kekinian. Dengan bahasa yang renyah dan enteng. Tidak begitu memerlukan waktu banyak untuk menelaahnya. Beda dengan puisi-puisi Khairil Anwar yang penuh dengan kata nyeleneh yang perlu beberapa waktu untuk mengerti makna sesungguhnya.

Nawang Nidlo Titisari dapat menampilkan kumpulan puisi esainya dengan apik. Remaja yang kerap disapa oleh para follower di akun media sosialnya dengan panggilan Nanidlot ini menuliskan keadaannya dengan sangat realistis. Tentunya dengan bentuk puisi esai.

Buku perdananya ini yang ia karuniai judul “Hilang”, cukup menarik untuk dibaca. Saya rasa ini adalah kumpulan curahan hati seorang Nawang, karena ditinggalkan pergi oleh kekasihnya. Tentu saja itu hanya angan-angan pribadi saya sendiri.

Tapi angan-angan saya dikuatkan dengan keberadaannya buku “Hilang” itu sendiri. Di dalam buku ini, Nawang sebagai penulis berperankan seorang perempuan yang patah hati, sepatah-patahnya. Perempuan yang merindukan pelukan dan kehangatan belahan jiwanya. Tanpa memberi kabar kepastian, meninggalkan akad janji yang tak terpenuhi. Hal ini digambarkan oleh Nawang pada penggalan puisi esai yang berjudul “Renggang”.

“…Aku mulai berfikir bagaimana mengembalikan semua ke posisi semula-ke tempat yang seharusnya, tentu saja. Saat kita masih jatuh cinta berdua. Saat dunia masih mengelilingi kita. Tapi tampaknya, aku sudah kalah telak sebelum kau tolak. Sesuatu telah membuatmu menjadi juara tanpa ada pertandingannya. Aku mulai merasa hampa, tak ada artinya. Kau tahu maksudku. Benar, kata “renggang” kini adalah yang paling pantas dalam gambaran kita…”. Hlm 1.

Pengungkapan yang begitu nyata ditampilkan oleh Nawang. Seorang yang ditinggalkan oleh orang yang pernah menjadi kekasih cintanya. Curhatan orang yang bimbang dengan hubungan asmaranya. Hubungan yang tidak lagi seperti dulu lagi. Yang awalnya saling mencinta, kini tidak adalagi yang dicinta dan yang mencinta. Menyedihkan.

Curhatan Nawang tidak berhenti disitu saja. Raungan hatinya terus berlari. Mengaung, berteriak, menggelegar, merintih dan menjerit.

Memang tidak bisa dibungkam. Pikirannya mulai terbang melayang-layang. Membayangkan mengapa kekasihnya pergi, mengapa belahan hatinya beranjak meninggalkan dirinya. Dia mulai memikirkan, apakah dia tidak cantik lagi. Apakah dia mulai tidak membuatnya tidak nyaman lagi. Semakin menggila tak terarah. Bahkan dia kini menamainya perempuan gila.

Dia mulai menulis: “Perempuan Gila. Tengah malam tiba bersama dinginnya dunia. Seorang perempuan menari di jalan raya. Ia terbawa dengan alunan lagu paling merdu dari sudut kota paling hampa. Tak mau peduli dengan puluhan pasang mata yang sedang menononton dengan tatapan iba. Bakan … Bukan karena pertunjukkannya. Karena dada perempuan itu penuh sekali dengan luka. Tapi ia terus saja tertawa lepas seperti tidak merasakannya. Ia tetap menari seperti jiwa yang sedang baik-baik saja. Kalau kau sungguh mengenalku, kau pasti tahu perempuan itu adalah aku”. Hlm 59.

Sebagai pembaca tulisan Nawang, aku mencoba mengerti perasaannya. Yang kini keadaannya semakin terpuruk. Semakin prihatin juga aku kepadanya. Padahal aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung. Namun Nawang sudah membuatku merasa kasihan kepada dirinya. Hanya dengan membaca keluh kesah yang ia curahkan di buku ini.

Kala kita membaca buku Hilang ini, kita seperti ditarik paksa oleh Nawang untuk menjadi saksi atas kesedihannya. Dia mengumbar semua yang dia rasakan. Tanpa ragu kalau kita tidak memperhatikannya.

Namun luar biasanya Nawang adalah, dia tahu bahwa sekali saja orang yang telah masuk dalam bualan-bualannya maka orang itu akan termangu. Menyisihkan waktunya untuk mendengar ocehannya sampai tuntas. Awal kata amblas ditelan hingga kata terakhir.

Hal ini bisa terjadi sebab, Nawang memilih tema pembahsan yang sangat dekat dengan kehidupan percintaan remaja. Skil menulis yang dimilikinya juga terbantu oleh kerapnya ia menulis di blog dan akun social medianya. Dia mengakuinya dengan twetnya diakun twitternya. Katanya: “Dulu banget baru bikin twitter Cuma buat nyampah. #KembaliKeTwitter buat berkarnya, secara nggak langsung, twitter jadi saksi prosesku dari titik bawah ….”

Keterpurukan Nawang masih berlanjut, kini dia berusaha mengikhlaskan kekasihnya pergi meninggalkan dirinya. Dia berusaha berbaikan dengan dirinya sendiri yang sesungguhnya masih menginginkan kesaihnya kembali mendekap dan memeluknya dengan hangat.

Penggambaran Nawang pada keadaan ini dilukiskan dalam puisi esainya, Percobaan yang Gagal: “…. Ternyata bagian terberat dalam berusaha mengikhlaskanmu adalah tertampar sendiri oleh doa dan permohonanku. Musuh terbesar dalam melupakanmu, adalah ketidakmampuanku melakukan itu. Semuamnya akan segera terlewati. Ini semua tidak akan lama lagi. Meski aku tak akan menemukan seorang pengganti. Setidaknya aku menemukan cara untuk berdamai dengan diriku sendiri …” Hlm 69-70.

Buku ini diakhiri oleh Nawang dengan sikap yang mengejutkan. Iya, merelakan. Seseorang yang awalnya iya pertahankan mati-matian, kini dia coba lepaskan. Ikatan yang dulu erat melingkar, kini renggang dan lepas. “…aku tak menyalahkan genggaman tangan kita yang terlepas dengan tiba-tiba. Aku hanya member kabar baik, bahwa kini aku sudah bisa menerima. Hatiku akhirnya telah merdeka.” Hlm 155. Begitu kiranya.

 

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *