Mendidik dengan Cerita

buku

Identitas Buku

Judul               : Si Anak Pelangi

Penulis             : Tere Liye

Penerbit           : PT. Sabak Grip Nusantara

Cetakan           : I, Maret 2021

Tebal               : 367 halaman

ISBN               : 978-623-96074-3-2

Serial anak-anak mamak adalah seri buku karya Tere Liye yang secara khusus bercerita tentang kehidupan masa kecil anak-anak lengkap dengan kepolosannya, kesederhanaannya, dan ketulusan hati mereka. Nasihat suci itu memang benar, bahwa setiap anak memang dilahirkan dalam keadaan suci. Lingkungan dan pergaulanlah yang akan membuatnya tetap suci atau malah terkotori.

Seri Si Anak Pelangi adalah seri ketujuh sekaligus seri terbaru dari kumpulan serial anak-anak mamak karya Tere Liye yang bercerita tentang Rasuna sebagai tokoh utamanya. Rasuna dikisahkan sebagai seorang anak perempuan kelas 5 Sekolah Dasar yang menyukai pencak silat, rajin bekerja, menghargai pluralisme, dan yang paling penting memilki hati yang mulia.

Seri Si Anak Pelangi pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan seri-seri sebelumnya, yakni mendidik anak-anak dengan cerita, namun di setiap seri memiliki tokoh utama dan konsep cerita yang berbeda. Di setiap serial anak-anak mamak tak akan lepas dari pesan-pesan kejujuran, kepedulian terhadap sesama, saling tolong menolong, hingga setia kawan. Hanya saja dengan alur cerita dan suasana yang berbeda.

Pada seri Si Anak Pelangi, pesan kejujuran disampaikan lewat cerita latihan pencak silat dan kejadian di hotel bintang seribu; anjuran untuk saling tolong menolong lewat cerita perlombaan lari; ketulusan dalam memberikan pertolongan lewat cerita membantu pemilik hotel bintang seribu; hingga cara memuji yang romantis lewat cerita Bapak dan Mamak.

Karakter yang Perlu Dimiliki Anak-Anak Sejak Dini

Sejak kecil, anak-anak harus dibiasakan bersikap jujur. Mengajarkan kejujuran kepada anak dapat dimulai dengan menyelipkan kejujuran ke dalam hal-hal yang disukainya. Sebagaimana Tere Liye menyelipkan pesan kejujuran dalam latihan pencak silat yang disukai oleh tokoh Rasuna dan kawan-kawan. Berikut kutipannya,

Baca juga :  Menyelami Ruang Gerak Perempuan Ulama Madura

“Jurus tak terkalahkan itu adalah jujur dan sabar. Kalau jujur dan bersabar, kalian akan menjadi kesatria tanpa tanding. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan kalian. Tidak akan pernah ada.” (halaman 16)

Karena setiap anak menyukai pencak silat dan ingin menjadi kesatria terhebat dengan jurus-jurus di dalamnya, maka anak-anak akan mulai belajar untuk senantiasa bersikap jujur dan sabar agar menjadi kesatria tanpa tanding. Di dalam kutipan yang lain, Tere Liye juga menjelaskan alasan dari keharusan bersikap jujur sebagaimana dalam kutipan berikut ini,

“Terima kasih. Aku tahu hotel ini. Walau banyak hotel yang lebih bagus berdiri di kota ini, aku selalu ke sini. Kejujuran, itulah yang membuatku selalu kembali.” (halaman 45)

Lewat kutipan tersebut, ditunjukkan bahwa kejujuran menjadi sangat penting karena ia berhubungan dengan kepercayaan. Rasa percaya membuat setiap orang kembali kepada yang dipercayai, meskipun masih banyak yang lebih baik. Konsep seperti ini akan bermanfaat dalam urusan bisnis seperti dalam cerita tersebut, dalam urusan pekerjaan, hingga dalam urusan pertemanan.

Selain jujur, sikap yang yang perlu ditumbuhkembangkan sejak dini adalah saling tolong menolong antarsesama, bahkan kepada saingan atau rival sekalipun. Tere Liye dalam Si Anak Pelangi menyampaikan hal itu lewat cerita atlet lomba lari yang justru ditepuki penonton satu tribun karena sikap tolong menolongnya, bukan karena kemenangannya. Berikut kutipannya,

“Satu-dua kisah atlet yang hebat itu malah membuat kita menunduk dalam. Itu bukan tentang siapa yang pertama kali mencapai garis finis. Bukan. Kisah itu tentang ketika si atlet tinggal tiga meter lagi dari garis finis, dia memutuskan berhenti berlari karena melihat pesaing terdekatnya jatuh tertelungkup. Dia memutuskan untuk membantu, merangkul pesaingnya, bersama menuntaskan pertandingan yang tinggal sedikit lagi. Sedangkan para pelari lainnya susul-menyusul melewati mereka.” (halaman 107)

Baca juga :  Toko Buku dan Memudarnya Penerbit Buku Keislaman

Pada akhirnya dua atlet lari yang berjalan hingga garis finis tersebut berhasil finis di dua urutan terakhir. Hebatnya lagi, saat para juara melewati garis finis tak ada penonton dari tribun yang bertepuk tangan. Para penonton justru sibuk menunggu dua atlet yang terakhir finis tersebut. Penonton lebih mengetahui mana pemenang sejati dan mana yang menjadi pecundang sejati, sebab mereka yang menjadi pemenang adalah mereka yang bersikap kesatria dengan menjaga sisi kemanusiaannya untuk saling tolong menolong terhadap sesama.

Hal terakhir yang perlu diajarkan sejak kecil kepada anak-anak adalah ketulusan hati dalam memberi pertolongan. Satu di antara tanda ketulusan atau keikhlasan adalah tidak berharap imbalan atas pertolongan yang telah diberikan. Anak-anak sejak dini harus memahami bahwa pertolongan sangat jauh berbeda dengan pekerjaan sebagaimana yang diungkapkan tokoh Rasuna dalam kutipan berikut ini,

“Aku jelas menolak pemberian Popo. Bahkan aku telah punya jawaban yang lebih hebat daripada Ridwan. ‘Kami berlima bukan kaki tangan Popo. Bukan karyawan, bukan pula pesuruh Popo. Mengapa Popo harus membayar? Kami berlima adalah temannya Popo. Teman macam apa kami ini yang menerima bayaran atas apa yang telah kami kerjakan untuk menolong seorang teman?’ Aku berkata dengan sedater mungkin.” (halaman 283)

Lewat kutipan di atas, sudah seyogianya dipahami bahwa ketulusanlah yang menjadi pembeda antara teman dan karyawan. Karyawan membantu segala urusan majikan karena berharap gajian, sedangkan teman menolong sesama temannya karena hal itu adalah sebuah keharusan.

Baca juga :  Sosok Perempuan Ulama dalam Muslimah Reformis

Romantisme Antara Suami dan Istri

Selain mendidik anak-anak dengan karakter yang mulia, seri Si Anak Pelangi juga mengajarkan romantisme antara suami dan istri, sebab bukan tidak mungkin jika Si Anak Pelangi juga dibaca oleh para orang tua yang ingin menceritakan isi Si Anak Pelangi kepada anak-anaknya. Wujud romantisme tersebut adalah cara memuji seorang suami kepada istrinya agar memicu suasana keluarga yang harmonis seperti dalam kutipan berikut ini,

“’Luar biasa!’ Bapak berkomentar di akhir cerita Mamak. Aku lihat wajah Mamak bersemu merah. ‘Hanya mamak-mamak genius yang bisa seperti itu. Dari seratus mamak di seluruh dunia ini, belum tentu ada satu yang seperti itu,’ tambah Bapak.” (halaman 136)

Hubungan romantis antara Bapak dan Mamak akan memberikan dampak yang positif pada Rasuna dan Damay sebagai anak-anaknya. Suasana keluarga yang harmonis akan membuat anak-anak memiliki emosi yang positif ketika menjalin relasi sosial di luar rumah.

Akhir kata, selamat menikmati Si Anak Pelangi untuk menanam benih-benih sikap terpuji sejak dini.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *