Mendidik Generasi Z dan Alpha

Saya adalah generasi millennial. Penyebutan ini tidak ngawur sebagaimana kebanyakan orang yang menyebut generasi millennial adalah generasi kekinian. Padahal millennial atau tidaknya bukan karena kekinian atau tidak. Pengelompokan itu dibuat berdasarkan tahun lahirnya. Generasi millennial adalah generasi Y, yang lahir dari tahun 1981 – 1994. Saya lahir di antara tahun itu. Tidak perlu saya sebut tahun berapa.

Generasi setelahnya, yang lahir tahun antara tahun 1995 – 2010 disebut generasi Z. Generasi setelahnya lagi, yang lahir tahun 2011 – sekarang disebut generasi alpha.

Saya berprofesi sebagai guru Pendidikan Agama Islam di sebuah MI di sekitar tempat tinggal saya. Kebanyakan murid saya adalah generasi Z akhir dan generasi alpha.

Menurut apa yang saya rasakan, terjadi lompatan cukup jauh antara generasi saya dengan generasi Z akhir dan generasi alpha. Terutama dalam hal pemahaman nilai-nilai lokal seperti tata karma dan sopan santun.

Seingat saya, sewaktu sekolah dulu ada semacam sense yang dimiliki oleh anak-anak sekolah tentang nilai-nilai lokal seperti tata krama, sopan santun yang khas dengan daerah tempat saya tinggal.

Misalnya, ketika belajar di kelas, tidak mungkin kaki yang bersepatu saya taruh di atas kursi. Bagi orang-orang di daerah saya itu dianggap ora ilok atau tidak pantas. Contoh lain, ketika berbicara dengan seorang guru berusaha untuk menggunakan bahasa Jawa halus. Tidak berani memotong pembicaraan guru di kelas.

Sekarang, keadaan begitu berbeda. Murid-murid generasi Z akhir dan generasi alpha tak punya sense semacam itu. Mereka merasa tak bersalah ketika pelajaran kakinya yang bersepatu ditaruh di atas kursi.

Baca juga :  Pendidikan Karakter Berbasis Ahlussunnah Wa al Jamaah

Bahkan, ada juga murid yang memasukkan kakinya ke laci. Saat berbicara dengan guru, alih-alih berusaha menggunakan bahasa Jawa halus, mereka menggunakan bahasa Jawa kasar sebagaimana mereka berbicara dengan temannya. Di kelas tidak jarang murid memotong pembicaraan guru.

Bagi saya hal-hal semacam itu terasa masyghul. Saya bertanya-tanya pada diri saya, apa yang terjadi pada diri mereka? Mengapa bisa sampai seperti itu?

Saya mencoba untuk bersabar dan mengingatkan mereka. “Nak, tolong kakinya ditaruh di bawah.”

Di saat lain saya mengingatkan di depan kelas, “Kalau berbicara dengan guru bagi yang menggunakan bahasa Jawa, tolong menggunakan bahasa Jawa halus. Kalau tidak bisa lebih baik memakai bahasa Indonesia saja.”

Kali lain saya mengingatkan, “Tolong kalau ada siapa pun saja sedang berbicara di depan jangan dipotong.”

Hal-hal yang saya coba ingatkan tersebut tidak lantas langsung dipraktikkan begitu saja. Setelah saya mengingatkan itu kepada murid-murid masih saja mereka tak berubah.

Ini, bukan tentang salah dan benar. Ini hanya sebatas upaya untuk mengingatkan kepada mereka, bahwa kultur di tempat mereka tinggal ini bukan seperti itu. Kalau di Eropa, Amerika atau di mana pun selain di Jawa sila saja. Juga mengingatkan bahwa hal-hal sepele tentang tata krama, sopan santun adalah identitas lokal. Jangan dihilangkan begitu saja.

Sampai sekarang upaya-upaya saya untuk mengingatkan mereka tak kunjung berhasil. Mereka tetap saja bersikap semaunya sendiri ketika di dalam kelas. Juga tak menunjukkan perubahan dalam cara berbicara mereka kepada guru. Saya terus berusaha sebisa saya untuk terus mengingatkan hal-hal tersebut kepada murid-murid saya.

Baca juga :  Mati Segan, Hidup Tak Mau

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan murid-murid saya dari generasi Z akhir dan generasi alpha itu. Tampaknya mereka benar-benar tidak mempunyai sense tentang nilai-nilai lokal di dalam dirinya. Kalaupun ada sangat tipis.

Zaman berubah menjadi begitu modern. Modernitas ada konsekuensinya. Termasuk tanggal sense tentang nilai-nilai lokal dari para pelakunya. Mungkin di dalam isi pikiran para generasi Z akhir dan alpha itu seperti ini, kenapa saya harus meletakkan kaki di bawah toh saya hadir di kelas, tidak membolos; kenapa saya harus menggunakan bahasa Jawa halus, toh saya tidak mengejek guru saya; kenapa salah memotong pembicaraan guru, toh saya juga punya mulut.

Informasi-informasi yang dikonsumsi oleh generasi Z akhir dan generasi alpha ketika mereka masih kecil jauh berbeda dengan zaman saya dulu ketika masih kecil. Generasi Z akhir dan generasi alpha ketika lahir sudah ada handphone dan internet. Saat saya lahir dulu, belum berkembang hanphone dan internet. Teknologi informasi paling canggih adalah TV.

Selain itu, tidak semua orang punya motor sehingga tidak bisa sering-sering bepergian jauh. Informasi yang saya dapat hanya dari wilayah-wilayah terdekat dengan lingkungan saya. Sekarang sebagian besar orang punya motor, bahkan mobil, keluarga bisa mengajak piknik keluarganya kapan saja. Banyak informasi dari berbagai wilayah didapatkan.

Banyaknya informasi yang masuk ke dalam kepala generasi Z akhir dan alpha ini sangat berpengaruh membentuk rasa di dalam diri mereka. Apalagi informasi-informasi itu tidak dibatasi. Berbagai informasi tentang budaya dan nilai-nilai dari belahan dunia dapat diakses dengan mudah.

Selain itu, sekarang pembelajaran tentang nilai lokal tak begitu diperhatikan. Lembaga pendidikan hanya berfokus supaya murid-muridnya mempunyai kompetensi yang kompatibel dengan zaman modern.

Baca juga :  Ragam Pendekatan dalam Pendidikan Multikultural

Pendidikan keluarga semakin tidak diperhatikan. Banyak orang tua yang menitipkan secara penuh kepada lembaga pendidikan untuk membentuk akhlak, mendidik anaknya supaya tahu banyak hal sehingga mempunyai kompetensi tertentu yang dianggap kompatibel dengan zaman modern. Padahal pendidikan keluarga adalah kunci pembentukan akhlak seorang anak.

Globalisasi tak terbendung. Perubahan karakter manusia menjadi suatu keniscayaan. Pendidikan harus lebih dinamis menyikapi perubahan-perubahan itu. Mempertahankan budaya dan nilai lokal yang sedang berada di pusaran globalisasi tidak mudah. Itu adalah PR besar pendidikan kita.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.