Meneladani Esensi Kemanusiaan dari Berkurban

Memasuki bulan haraam (Dzulhijjah) atau yang lebih akrab disebut dengan bulan (musim) haji, euforia mulai terasa. Penjual hewan kurban bermunculan, bau khas hewan kurban di sepanjang jalan, tawa riang anak-anak seraya memberi makan hewan kurban hingga kemacetan jalanan yang akhirnya tak terelakkan. Begitu biasanya khas berkurban ala Indonesia. Tradisi berkurban di negara lain, sangat mungkin berbeda. Di negara-negara maju misalnya. Perayaan tahunan ini dijalankan secara ekslusif. Penjual hewan kurban yang telah terstandar dibekali perawatan hewan kurban; dari gizi hingga kebersihan hewan sampai kepada soal tempat penjualan hewan kurban yang terpisah dan jauh dari rumah penduduk sekitar. Oleh karenanya, tak heran jika tradisi anak-anak menyuapi hewan kurban dengan rerumputan itu hanya terjadi di Indonesia; negara dengan ratusan ribu kepulauan.

Musim haji memang menyimpan pengalaman dan cerita unik. Selain jamaah haji sedang melaksanakan rukun Islam terakhir di tanah haraam, hal ini juga berkaitan dengan perintah untuk berkurban. Sejarah mengenai kurban sendiri diabadikan secara sempurna oleh Alquran dalam Qs. Shaffat/ 37: 102. “Maka tatkala ia telah mencapai usia dewasa (bisa bekerja bersamanya), ia berkata, “Duhai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkan apa pendapatmu!” maka anaknya menjawab, “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah. InsyaAllah, engkau akan menemuiku sebagai orang-orang yang sabar,”

Sepenggal cerita di atas dikhabarkan Alquran melalui kisah Ibrahim khalil Allah dan anaknya, Ismail. Nama Ismail sendiri tersebut dalam Alquran sebagai sosok yang sabar dan bertakwa. Hal ini tercermin ketika Ibrahim menyampaikan mimpi (wahyu) pada Ismail; persis seperti surah ash-Shaffat di atas. Ibrahim tidak serta mengucapkan, “Aku sembelih kamu”. Tidak. Ayahnya para Nabi ini mengucapkan kata-kata yang santun lagi menyejukkan, “Duhai anakku, sungguh aku bermimpi menyembelihmu, bagaimana pendapatmu (mengenai hal ini?)”. Sungguh diskusi asyik yang dibungkus secara apik. Contoh teladan dari Alquran untuk para orangtua—bahwa keputusan apa pun (apalagi keputusan terberat; menyembelih, red. seperti di atas) yang ingin ditempuh bersama anak, harus terlebih dahulu diawali dengan musyawarah.

Diskusi (syura) atau istilah musyawarah sendiri tetap ditempuh oleh Ibrahim as. bersama anaknya, kendati dirinya tahu bahwa mimpi itu adalah wahyu yang harus segera dilaksanakan. Isyarat ini terlihat dari penggunaan fi’il mudhari (kata kerja yang bersifat masa kini maupun akan datang). Isyarat ini terlihat dari penggunaan lafadz ara (aku melihat/ bermimpi) adzbahuka (menyembelihmu). Demikian juga kata tu’mar (diperintahkan). Perintah ini setidaknya memiliki makna perintah Allah melalui mimpi itu belum selesai dilaksanakan tetapi harus segera dilaksanakan. Oleh karenanya, jawaban Nabi Ismail pun bersifat mudhari yakni if’al ma tu’mar (laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu). Sungguh dialog komunikatif yang menggetarkan dari sepasang ayah dan anak ini. Keikhlasan (walau tentu berat) Nabi Ibrahim as. karena ia harus menyembelih darah dagingnya sendiri. Ketabahan Nabi Ismail dan tawakkalnya pada Allah luar biasa besarnya.

Kurban sendiri berasal dari lafadz qaf-ra-ba yang bermakna dekat. Banyak derivasi  kata ini yang tersebut dalam Alquran. Namun kata yang benar-benar diucap dengan qurban (an) atau bi-qurban (in); hanya ada dalam surah al-Imran/3: 183 dan al-Maidah/5: 27. Terkait surah ali-Imran/3: 183. Huruf alif dan nun yang menghiasi akhir kata itu mengandung makna agung dan kesempurnaan. Sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan itulah yang dinamai kurban, demikian tulis Quraish Shihab.

Satajiduni insya Allah minash shabirin—demikian jawaban Nabi Ismail as. Mungkin akan timbul pertanyaan dalam benak kita; mengapa Ismail dikurbankan? Kalaulah berdasarkan wahyu, kenapa mimpi itu mengharuskan dirinya atau menjadikan Ismail sebagai sosok yang harus disembelih?

Isyarat berkurban ini nyatanya juga merekam kondisi ril dan konteks sejarah kehidupan masyarakat Palestina bahkan dunia kala itu. Nabi Ibrahim as. hidup pada zaman di persimpangan pemikiran manusia menyangkut pengorbanan manusia pada Tuhan. Kala itu, hampir di seantero dunia masyarakat rela mempersembahkan manusia sebagai sesaji kepada tuhan yang disembah. Di Mesir, misalnya, gadis cantik `dipersembahkan kepada Dewa Sungai Nil. Di Kan’an (Iraq) bayi dipesembahkan kepada Dewa Baal. Berbeda dengan suku Astec di Meksiko, mereka mempersembahkan jantung dan darah manusia kepada Dewa Matahari. Berbeda dengan Eropa Timur, mereka mempersembahkan pemuka agama sebagai sesaji kepada Dewa Perang.

Berdasarkan fenomena tersebut, perintah menyembelih Ismail selain sebagai ‘rekaman kejadian’ yang biasa dilakukan masyarakat dunia, sekaligus membantah dan menolak dengan keras kebiasaan masyarakat dunia mengenai penyembelihan manusia kepada Tuhan. Nyawa manusia terlalu mahal jika dijadikan sesajian untuk Tuhan—sekaligus manusia sebagai makhluk sempurna yang diciptakan Allah, tidak layak untuk disembelih. Oleh karenanya, isyarat penyembelihan Ismail yang kemudian diganti oleh Allah dengan domba besar, menyiratkan bahwa qurban mengajarkan kita untuk siap menyerahkan apa saja yang kita cintai. Ismail adalah simbol kecintaan Ibrahim kepada anaknya. Anak yang ia nantikan dan hidup jauh di Bakkah yang kala itu kering tandus. Anak yang juga membantu risalahnya untuk membangun rumah Allah (ka’bah).

Terlepas dari rekaman sejarah di atas, maka esensi kemanusiaan dalam kurban tentu masih relevan dalam masa ini. Dalam konteks kekinian, isyarat kurban memiliki arti bahwa kita harus siap mengorbankan apa pun yang kita cintai demi mencapai derajat qariibullah; makin tunduk dan dekat dengan Allah. Tentu saja, cita-cita ‘qaribullah’ tidak bisa dicapai ketika manusia masih memiliki sifat sombong kepada manusia lain yang menyebabkan dirinya menindas, menyakiti, menzalimi bahkan membunuh sesamanya. Sebab, derajat manusia satu dengan lainnya adalah sama di hadapan Tuhan, pembeda mereka hanyalah ketakwaan. Dengan menjaga kelangsungan hidup manusia, berarti kita telah menjaga ciptaan Tuhan yang teramat sempurna. Semoga kita semua mampu merenungi dan meneladani nilai-nilai kemanusiaan dari perintah berkurban. Amin.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.