Meneladani Konsep Kearifan Lokal Gus Dur

Kearifan Lokal Gus Dur

Meneladani Konsep Kearifan Lokal Gus Dur- Kearifan lokal bersumber dari nilai-nilai sosial-budaya yang berpijak dengan pada tradisi dan praktik terbaik kehidupan masyarakat setempat. Kearifan lokal di Indonesia di antaranya berwujud dasar Pancasila, konstitusi UUD 1945, Prinsip Bineka Tunggal Ika, dan seluruh tata nilai kebudayaan Nusantara yang beradab.

Gus Dur menggerakkan kearifan lokal dan menjadikannya sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial-budaya-politik dalam membumikan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap perkembangan peradaban .

Dalam konteks ini Gus Dur ingin mengembangkan pendidikan Indonesia menjadi lebih eksis dan bagi penikmat pendidikan bisa menjadi manusia yang ideal, bisa berpikir luas dan mampu berguna untuk bangsa dan negara. Karena dengan jangkauan dan pemikiran yang luas, seseorang akan menemukan jati dirinya.

Bagi Gus Dur, lembaga pendidikan harus mampu membangun basis dan fondasi. Dan, basis itu adalah kearifan lokal. Di sini yang dimaksud kearifan lokal Gus Dur ialah nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi dan agama. M. Sufyan Al-Nashr menjelaskan, bahwa dalam bahasa Gus Dur, kearifan lokal itu disebut dengan pribumisasi Islam. Di mana ajaran Islam dan tradisi lokal dijadikan sebagai landasan moral dalam nyata kehidupan.

Hal semacam inilah yang seharusnya dikembangkan dalam kehidupan. Selain Indonesia memiliki budaya dan suku yang beraneka ragam banyak, apa yang diajarkan Gus Dur menjadi salah satu landasan untuk memupuk generasi baru agar tidak menghilangkan budaya lama. Meskipun ada budaya baru yang muncul.

Dalam arti luasnya, masyarakat sekarang agar tidak terpicu dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Tidak usah untuk mengikuti budaya barat, sebagai orang Indonesia sudah seharusnya bangga dengan budaya sendiri. Karena sejatinya kebudayaan yang ada di Indonesia lebih indah dibandingkan dengan kebudayaan yang ada di negeri orang.

Dengan budaya Indonesia, kita bisa bebas mengekspresikan diri. Seperti yang dilakukan Gus Dur, di mana-mana beliau selalu memakai peci berbicara dengan gaya bahasa dan pemikiran dirinya sendiri. Beliau selalu merasa bebas untuk mengekspresikan dirinya sendiri.

Karena ini sudah menjadi watak dan identitas beliau. Dan Gus Dur selalu bangga dengan hal yang demikian. Itulah yang menyebabkan dirinya selalu gampang untuk bergaul dengan siapa pun. Bisa langsung senang dengan lingkungan baru dan mampu menghormati budaya lokal.

Berawal dari pendekatan kearifan lokal inilah, Gus Dur selalu dengan senang hati mendengarkan ketika ada seseorang yang ingin berkeluh kesah. Dalam buku Fatwa dan Canda Gus Dur, Dalam acara Masura. Gus Dur berkata seorang yang menemaninya, “Saya bahagia di tengah mereka. Saya ingin mendengar keluhan mereka. Saya ingin selalu membaca realitas kehidupan masyarakat langsung dari jantung persoalannya. Karena inilah ayat-ayat Allah yang bersifat kauniyah yang lebih banyak, luas dan rumit dibanding ayat-ayat Quraniyah.”

Dalam buku Struktur Masyarakat Jawa dan Pedesaan, karya Laksono. Dia menjelaskan, bahwa pengetahuan tentang sejarah, tradisi dan nenek moyang merupakan landasan untuk menjelaskan diri kita dan salah satu upaya untuk membangun masa depan. Hal ini semakin menguatkan, bahwasanya sejarah selalu melewati fase kebudayaan, dan selalu meninggal sebuah kebudayaan yang harus di jaga. Upaya ini sejatinya ingin membangun kemakmuran di dalam negara tersebut. Berusaha menguatkan, setiap kesenian memiliki kebudayaan yang harus dijaga.

Seseorang diajarkan bagaimana membuat sebuah kebudayaan baru tanpa melupakan kebudayaan yang lama. Karena salah satu bagian terindah dalam hidup seseorang adalah bagaimana menjaga dan membumikan kebudayaan yang ada di Indonesia. Sehingga ia bisa memahami identitasnya sebagai orang Indonesia.

Ketika seseorang mencintai kebudayaan yang ada di lingkungannya. Berarti ia sudah berusaha untuk mencintai Indonesia sepenuhnya. Adanya sebuah budaya adalah salah satu upaya untuk membangun kerukunan dan menjaga kearifan. Menyatukan keberagaman yang terkadang melewati jalur keindonesiaan.

Untuk itu, sudah seharusnya kita sebagai penerus untuk mengembangkan kembali kearifan lokal yang ada di Indonesia ini. Sebagai penguat untuk menjadi diri sendiri. Hingga kita juga menyadari, betapa pentingnya nilai kemanusiaan yang beradab. Selain itu, dengan memahami kearifan lokal, seseorang akan menemukan kebebasan, keadilan, dan kesetaraan sesuai dengan norma dan keinginan diri sendiri.

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *