Meneladani Sifat al-Amin dalam Konteks Kekinian

Suasana Mekah sore itu mencekam. Satu demi satu tetua kaum Quraisy juga beberapa perwakilan kabilah bersitegang. Pikiran mereka sama; ingin sekali mendapat kesempatan meletakkan batu suci itu di tempat terdalam.

Siapa yang tak ingin meletakkan batu mulia nan pekat hitam? Tentu, karena batu itu dianggap suci oleh Rasulullah, setiap suku dan para pembesar Quraisy bersikukuh ingin mendapatkan kehormatan meletakkannya. Namun, sayang, perdebatan berlangsung sangat panjang dan sengit, tak kunjung memeroleh jalan keluar.

Sebagian dari mereka berpikir bahwa para leluhur dan penjaga Ka’bah-lah yang paling berkuasa untuk meletakannya, sementara dari kabilah lain tentu berat menerima keputusan sepihak yang seolah tiada dasarnya. Hingga akhirnya, datanglah sosok pemuda terpercaya di tengah-tengah mereka.

“Jika aku boleh mengajukan usul, ambillah kain lalu letakkan batu hitam itu di tengah-tengah kain ini. Dengan demikian, seluruh perwakilan kabilah mendapatkan kesempatan meletakkan batu mulia ini,”  ucap Sang Nabi meyakinkan, disusul dengan rona kebahagiaan dari seluruh utusan. Usul yang dilontarkan al-Amin ini disambut baik dengan penuh sukacita hingga hajar aswad berpindah ke tempatnya semula.

Al-Amin. Tentu kita tidak asing lagi dengan istilah ini bukan? Amin sendiri berasal dari lafadz alif-mim dan nun (amana). Dari akar kata amana tersebut, maka lahirlah banyak derivasi perubahannya yaitu amanu (orang-orang yang beriman), imanan (keimanan/ keyakinan), hingga lahirlah amanah (sesuatu yang dipercayakan).

Dengan demikian, gelar kehormatan yang disematkan kepada Rasulullah atau al-Amin seperti tertulis di atas, mengejawantahkan sifat-sifat mulia seorang Rasul (penyampai risalah) sekaligus pemberi ide cemerlang yang dapat dipercaya.

Tak cukup hanya sosok yang dapat dipercaya (al-Amin), kata ini juga memiliki makna bahwa Rasulullah saw. adalah juga sosok yang mampu memberikan keamanan, ketenangan dan membuat orang lain merasa aman dan tidak membahayakan berada di dekat Rasulullah saw.

Muhammad Fu’ad ‘Abd Baqi’mencatat, kata a-ma-na beserta perubahannya yang sangat banyak, beberapa  di antaranya yakni a-mi-na, amanu, amana, amantum, a>manna, yu-minnu, amin, amanatahu, amanatan, amanatahu, dan terakhir al-amanah memiliki arti yang sama yaitu beriman, merasa aman, atau sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang.

Baca juga :  Tanggung Jawab Sosial dalam Islam, Bagaimana Bentuknya?

Definisi ini cocok disematkan untuk lafaz terakhir (al-amanah) yang disebutkan di atas yaitu sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang karena yang memberikan amanah itu yakin bahwa ia mampu memberikan rasa aman dan keamanan atas apa yang dititipkannya. Perlu diketahui, lafaz al-amanah hanya satu-satunya dalam Alquran dan terdapat dalam Qs. al-Ahzab/33: 72 yang mengisahkan amanah besar dari Allah untuk segenap makhluknya.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Ketika membaca dan memahami dengan seksama ayat di atas, terlintas dalam pikiran kita semua mengapa amanah-amanah itu enggan dipikul oleh ciptaan-ciptaan Allah  di alam raya ini? Kemudian mengapa pula amanah itu diterima lalu kemudian manusia diberi  gelar dengan penyebutan dzaluman (zalim) jahula (bodoh)?

Sebelum mengurai fakta di atas, perlu diketahui bahwa yang dimaksud amanah di atas ialah tugas-tugas keagamaan, demikian menurut Quraish Shihab. Jika kita pun meyakini hal yang sama, maka tentu, amanah ini tidak kuasa dipikul oleh langit, bumi dan alam raya seisininya karena mereka tidak dibekali sesuatu yang Allah berikan kepada makhluknya  yang lain (manusia) yakni akal pikiran.

Baca juga :  Tanggung Jawab Sosial dalam Islam, Bagaimana Bentuknya?

Adapun  kata ‘aradhna berasal dari kata ‘a-ra-dha yang berarti tawaran kepada pihak lain apakah ia mau mengambilnya atau justeru menolaknya? Ibn ‘Asyur memahami kata amanah dalam arti yang hakiki yaitu apa yang diserahkan kepada pihak lain untuk dipelihara dan ditunaikan sebaik mungkin serta menghindari segala bentuk penyia-nyiaannya baik secara sengaja, alpa maupun lupa.

Nah, yang sengaja itulah yang termasuk kategori di atas yakni orang-orang zalim (dzhaluman) sedang yang lengah atau lupa itulah termasuk ke dalam jahulan (bodoh). Amat zalim yang tertulis dalam  ayat di atas ditunjukan untuk hamba-hamba Allah yang lalai karena tidak mau menunaikan amanah-amanah itu dan amat bodoh karena mau menerima amanah itu namun mengkhianatinya.

Thabathaba’i berpendapat bahwa al-amanah yang dimaksud  di atas adalah wilayah ilahiyyah atau kesempurnan sifat ‘ubudiyah.  Penolakan langit dan bumi adalah bukti bahwa mereka tidak mampu mengemban amanah besar itu. Sedangkan manusia dengan dibekali potensi akal pikiran yang luar biasa, tentu diberikan kewajiban untuk menjalanan tugas-tugas keagamaan yang tentu hanya bisa dilaksanakan oleh orang-orang yang memiliki hati, dan akal pikiran.

Sayyid Quthb melihat ayat ini dari dimensi amanah yang  diberikan. Mengapa Allah memberikan  atau menawarkan amanah kepada segenap ciptaan Allah; katakanlah kepada alam raya yang luas ini? Namun justeru, makhluk kecil bernama manusialah yang kemudian menerima amanah itu?

Baca juga :  Tanggung Jawab Sosial dalam Islam, Bagaimana Bentuknya?

Di sinilah kelebihan, potensi dan keluarbiasaan manusia. Alam raya dengan segala isinya yang Allah ciptakan ini, adalah juga makhluk Allah yang juga beribadah (tunduk)  kepada-Nya. Namun, ketundukan itu otomatis tunduk dan menghamba pada Allah  tidak dengan atau melalui proses berpikir.

Nah, manusia, kendati  kecil dari ciptaan Allah tersebut, dibekali akal dan potensi berpikir sehingga amanah-amanah atau tugas keagamaan, dipikul olehnya untuk dilaksanakan. Amanah-amanah keagamaan ini tak hanya berkisar di wilayah ibadah wajib seperti rukun Islam saja; namun juga ibadah-ibadah lain yang sifatnya horisontal (kepada sesama makhluk).

Dengan demikian, orang-orang yang beriman (amanu) sepatutnya mampu menjaga kemanan (privacy/amanah) orang lain juga menjauhkan diri dari sifat aniaya yang dapat membahayakan orang lain baik dari sikap, sifat dan tutur kata—agar orang lain pun merasa ‘aman’ ketika berada di dekat kita. Kiranya, inilah yang bisa kita teladani dari sifat-sifat luhur Rasulullah (al-Amin) dalam konteks kekinian. Wallahu a’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.