Mengajarkan Semangat Perlawanan, Kitab Ini Diberangus Oleh Kolonial Belanda

Sejarah mencatat andil besar kaum Islam, khususnya warga pesantren, terhadap perebutan kemerdekaan negeri ini dari cengkraman penjajahan. Di berbagai pelosok negeri perlawanan dikobarkan. Puncak perlawanan yang paling besar, sekaligus menjadi tonggak ditetapkannya Hari Santri Nasional (HSN), adalah peristiwa perlawanan di Surabaya pada Oktober 1945. Perlawanan ini pecah setelah ada intruksi dari Rais Akbar KH. Hasyim Asy’ari dengan “Resolusi Jihad Fi Sabilillah”. Perlawanan ini dipimpin langsung oleh KH. Wahab Hasbullah. Dalam Resolusi Jihadnya, Mbah Hasyim menegaskan bahwa wajib hukumnya menolak dan melawan segala bentuk penjajahan.

Semangat Perlawanan dari Pesantren

Salah satu kitab yang diajarkan sekaligus menjadi menu pokok di seluruh pesantren negeri ini adalah Kitab Idzotu An-Nasyi’in karya Syekh Musthafa Al-Gholayaini (w. 1944 M).

Kitab ini merupakan kumpulan artikel Syekh Musthafa yg tersebar di media koran Al-Mufid. Kitab yang terdiri dari 192 halaman (cetakan ke-sembilan tahun 1953 M, diterbitkan Maktabah Ashriyyah, Beirut) terbagi menjadi 44 bab.  Secara keseluruhan kitab ini  diperuntukkan untuk kawula muda.

Di dalamnya dijelaskan berbagai akhlak dan etika yang wajib dimiliki pemuda, serta kewajiban pemuda untuk andil dalam bermasyarat, dan aktif merawat bangsanya. Karenanya, judul lengkap kitab ini adalah Idzotu An-Nasyi’in Kitab Akhlak wa Adab wa Ijtima’ (Nasehat untuk generasi muda, kitab akhlak, etika dan sosial kemasyarakatan).

Syekh Musthafa Al-Gholayaini adalah seorang ulama besar, ahli hukum, ahli bahasa, wartawan sekaligus ahli sastra yang kondang di zamanya. Beliau lahir di Beirut, Libanon pada tahun 1886 M/ 1330 H. Setelah selesai mengenyam pendidikan di negerinya, beliau pindah ke Universitas Al-Azhar Asy- Syarif Mesir. Sekembalinya dari Mesir, beliau aktif berkiprah untuk negerinya dalam berbagai sektor.

Baca juga :  Etika Pesantren dan Santri Progresif

Selain menjadi wartawan dan pengarang, beliau aktif mengajar di berbagai sekolah di Beirut, di antaranya adalah Universitas Islam milik Syaikhul Azhari, Madrasah Sulthoniyyah dan Universitas Syar’iyyah. Beliau juga pernah menduduki kursi kehakiman di Beirut beberapa tahun. Setelah itu beliau diangkat menjadi Penasihat Tinggi Kehakiman Beirut, Libanon. Pada tahun 1902 M, Syekh Musthafa Al-Gholayaini menerbitkan Majalah Al-Nibras. Beliau meninggal pada tahun 1944 M setelah terbaring sakit.

Sebenarnya karangan beliau sangatlah banyak, akan tetapi yang masyhur dikaji di pesantren adalah kitab Idzotu An-Nasyi’in dan Jami’u Ad-Durus Al- ‘Arobiyyah (Gramatika Bahasa Arab).

Nasionalisme dan Kemerdekaan

Dalam kitab ini Syekh Musthafa Al-Gholayaini menjelaskan secara detail tentang Wathaniyyah (Nasionalisme). Nasionalisme adalah kecintaan yang disertai segala usaha untuk mewujudkan kebaikan dan bekerja dengan totalitas demi kepentingan bangsa dan negaranya. Sedangkan seorang nasionalis sejati adalah mereka yang rela mati demi tegaknya negara, dan mereka yang rela sakit demi kebaikan rakyatnya.

“Saya merasa heran sekali, terhadap orang yang mengaku berjiwa nasionalis dan mengklaim bahwa dia telah mengorbankan jiwa dan hartanya demi negaranya; namun orang tersebut berupaya untuk merusak benteng-benteng ketahanan negara dengan berbagai macam tindakan makarnya”, ungkap Syekh Musthafa saat membuka tema nasionalisme.

Setelah panjang-lebar menjelaskan nasionalisme, beliau melanjutkan ke pembahasan kemerdekaan ( Hurriyah ). Memang, antara nasionalisme dan kemerdekaan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan.

Baca juga :  Kitab Kuning dan Tranformasi Bahasa

Hurriyyah (kemerdekaan) secara terminologi berarti bebas dari segala ikatan. Kemerdekaan adalah anugerah dari sang Khaliq (Tuhan) kepada makhluk-Nya. Setiap manusia yang terlahir di dunia adalah dalam kondisi merdeka. Maka tidak patut bagi siapa pun merampas kemerdekaan setiap orang.

“Sejak kapan engkau memperbudak orang-orang yang dilahirkan ibu-ibunya dalam keadaan merdeka?” Demikian teguran keras Khalifah Umar bin Khattab kepada Amr bin Ash, Gubernur Mesir, saat mengetahui anaknya telah memukul orang Mesir.

Lebih lanjut, Syekh Musthafa Al-Gholayaini mengingatkan bahwa yang dikehendaki dengan kemerdekaan bukan kebebasan tanpa batasan. Bebas sebebas-bebasnya, tanpa aturan tanpa batasan. Setiap kebebasan individu dibatasi oleh kebebasan individu lainya. Tidak dikatakan merdeka selama sebuah kebebasan malah merampas kebebasan orang lain.

Pemerintah Kolonial Belanda Memberangus Kitab Idzotu An-Nasyi’in

Begitu hebatnya kandungan nilai yang dipaparkan kitab ini, pemerintah Belanda pun merasa ketakutan. Dari mengaji kitab ini, nasionalisme santri, kaum pesantren, semakin kuat. Tekad perlawanan semakin kuat untuk dikobarkan.

Menurut H. M. Fadhil Said An-Nadwi, salah satu penterjemah kitab Idzotu An-Nasyi’in; karena demikian pentingnya kitab ini, para ulama’ Indonesia mengajarkan kepada santrinya, pemerintah kolonial Belanda merasa gusar, merasa terganggu kepentinganya dan pada akhirnya melarang pembacaan kitab ini di seluruh pesantren di Indonesia. Tidak hanya larangan saja, lebih lanjut pemerintah kolonial melakukan operasi penangkapan bagi kiai yang masih mengajarkan kitab ini, sekaligus memberangus kitab yang ada.

Baca juga :  7 Langkah Pesantren dalam Menangani Covid-19

Demikian ihwal riwayat nasionalisme para santri, yang pada akhirnya melahirkan perlawanan terhadap segala tindak penjajahan. Perlawanan yang demikian perih dianugerahi dengan kemerdekaan negeri ini.

Sampai saat ini, tekat kaum pesantren dalam menjaga dan merawat negeri ini tak pernah padam. Adagium Hubbul Wathon Minal Iman, Mencintai Tanah Air adalah sebagian Iman bukanlah slogan omong kosong tanpa tindakan, melainkan sudah terpatri dalam hati, menjadi ruh kehidupan dan diwujudkan dalam tindak nyata.

Ngaji Kitab Idzotu An-Nasyi’in pun masih eksis dan banyak kita temukan di seluruh pesantren sampai sekarang. Salah satunya adalah Gus Mus (KH. Musthafa Bisri) setiap Ramadan rutin mengkajinya.

“Sesungguhnya bangsa ini telah memanggil kalian, wahai kawula muda. Maka jawablah panggilan itu dengan tindakan nyata. Sudah sepatutnya ilmu menjadi amal nyata. Tidak ada kerusakan yang lebih berbahaya di dunia yang fana ini, melebihi kerusakan akibat ilmu tanpa amal atau amal tanpa dasar keilmuan…” Demikian pesan Syekh Musthafa di bagian akhir kitabnya.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.