Mengambil Pelajaran dari Kisah Qarun

mengambil pelajaran dari kisah qarun

Memperoleh kekayaan yang berlimpah adalah keinginan banyak orang. Minimal, setiap orang berharap segala kebutuhannya terpenuhi. Maka kita perlu belajar dan mengambil pelajaran dari mereka yang sudah terkenal sebagai saudagar kaya. Di antara nama orang kaya yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah Qarun (Qārun).

Qarun disebutkan tiga kali dalam Al-Qur’an, yakni QS. Al-Qasas ayat 76, dan 79, serta QS. Al-Ankabut ayat 39. Qarun sendiri adalah orang kaya raya yang hidup pada zaman Nabi Musa As, namun akibat kesombongannya, ia harus mengakhiri cerita hidupnya dengan tragis.

Nama Qarun sudah sangat terkenal dalam kehidupan bermasyarakat kita. Ada anggapan yang berlaku jika kita menemukan harta peninggalan yang tidak wajar, maka barang itu disebut dengan harta Qarun.

Qarun mampu membaca peluang bisnis yang bisa mendongkrak kekayaannya. Keahlian ini didapatkannya sebab ia mampu memahami dengan baik isi kitab Taurat.

Pernah Menjadi Ahli Ibadah

Ia, sebagaimana dikatakan Al-Qusyairi, pernah menjadi pendeta (rahib) yang menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah. Namun kemudian Iblis menjadi temannya, sehingga Qarun secara total meninggalkan ibadah dan fokus pada urusan dunianya.

Ia menguasai ilmu pembuatan emas (‘ilm al-kimiyā). Mampu mengubah timah dan tembaga menjadi emas. Dalam riwayat lain, sebab kekayaan Qarun adalah karena kemampuannya dalam berbagai jenis sekaligus, seperti berdagang, berladang, dan bercocok tanam.

Ia juga menguasai trik investasi yang menguntungkan. Mulai dari nol, dengan ulet dan jujur dia menjual barang dagangannya pada masyarakat Bani Israil lainnya. Mengumpulkan hartanya sedikit demi sedikit hingga kaya raya. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Ajibah.

Kisahnya disebutkan secara runtut dalam Al-Qur’an surat Al-Qasas (28): ayat 76-82.

Baca juga :  Kisah Ki Jaha Cirebon yang Disegani Bangsa Jin

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ  [القصص: 76

“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. (QS. Al-Qassas: 76).

Qarun sendiri masih terhitung sebagai saudara sepupu (anak paman) dari Nabi Musa As, sebagaimana dikatakan oleh Sahabat Ibnu Abas dan dinukil oleh Syaikh Ali Shabuni. Nama lainnya adalah Al-Munawwar (bercahaya) sebab wajahnya yang tampan.

Menjadi Sombong Setelah Kaya

Kekayaannya melimpah ruah dan perbendaharaan harta yang Allah Swt berikan kepadanya sangat banyak, sehingga kunci-kunci petinya tidak sanggup dipanggul oleh sejumlah orang yang kuat sebab saking beratnya. Ibnu Abas mengatakan bahwa kunci penyimpanan harta Qarun dapat dibawa oleh empat puluh laki-laki dewasa yang kuat.

Hal ini menyebabkan Qarun menjadi sangat berbangga diri. Ia berlaku semena-mena, sombong, dan memandang rendah orang di sekelilingnya. Meskipun ia diperingatkan oleh kaumnya agar tidak terlalu membanggakan harta benda dan kekayaannya, sebab Allah Swt tidak menyukainya, Qarun tidak menggubrisnya.

Pada suatu hari dikisahkan bahwa Qarun mengadakan parade iring-iringan yang lengkap dengan pengawal, hamba sahaya dan pengasuh, serta berbagai macam perhiasan mewahnya untuk memperlihatkan kemegahannya dan kekayaannya kepada kaumnya. Karenanya, kaumnya terpecah dalam dua kelompok dalam menanggapinya.

Baca juga :  Kisah Cinta Jalaluddin Rumi dan Setangkai Bunga untuk Kara Khatoon

Pertama, orang-orang yang orientasinya pada dunia. Mereka berpikir dan berusaha sekuat tenaga agar hidup mewah di dunia. Dalam anggapan mereka, hidup yang demikian adalah sebuah kebahagiaan. Mereka memimpikan diri duduk layaknya Qarun di kursi mewah dengan berbagai fasilias lengkap yang dimilikinya.

Kelompok kedua, yaitu orang yang berilmu dan sehat pikirannya. Mereka menganggap bahwa corak pemikiran golongan pertama adalah keliru. Orientasi mereka adalah pada pahala di sisi Allah Swt melalui amal saleh, yang jauh lebih baik dari pada hanya tumpukan harta.

Empat Nasihat untuk Qarun

Di ayat 77 QS. Al-Qasas, Allah Swt memberikan empat macam nasihat dan petunjuk kepada Qarun agar memperoleh kesejahteraan di dunia dan akhirat, yaitu:

Pertama, orang yang dianugerahi kekayaan yang melimpah, simpanan harta yang berlebih, serta nikmat yang banyak, hendaknya dipergunakan di jalan Allah Swt dalam wujud kepatuhan dan ketaatan menjalankan perintah-Nya, serta mendekatkan diri untuk memperoleh sebanyak-banyaknya pahala.

Kedua, setiap manusia dipersilakan untuk tetap menikmati kesenangan-kesenangan duniawi, baik berupa makanan, minuman, pakaian dan sebagainya, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran yang telah digariskan-Nya.

Ketiga, setiap orang memiliki kewajiban beramal baik, sebagaimana Allah Swt berbuat baik kepadanya, misal dengan membantu orang lain yang membutuhkannya, menjalin silaturrahmi, dan lain sebagainya.

Keempat, setiap orang dilarang berbuat nista di atas muka bumi, berbuat jahat kepada sesamanya, sebab Allah Swt tidak suka orang yang berbuat kerusakan di bumi-Nya.

Tidak sedikit manusia yang apabila tertimpa bala dan musibah, ia akan kembali kepada Allah dan berdoa dengan sepenuh hatinya. Semua amalan doa akan dilahapnya dengan harapan agar bahaya yang dideritanya segera dilenyapkan dari kehidupannya.

Baca juga :  Berguru Pada Anjing

Akan tetapi jika tujuannya tercapai, ia lalu lupa kepada Allah Swt yang telah menghilangkan kesusahannya. Bahkan mengaku-aku bahwa hal itu terjadi sebab kepandaiannya, kerja kerasnya, dan sebab kepintarannya dalam melepaskan diri dari jerat masalah.

Dibenamkan ke Perut Bumi

Akibat kesombongan dan keangkuhannya, Qarun dibenamkan ke perut bumi beserta rumah dan segala kemegahan yang dimilikinya. Tidak ada yang mampu menyelamatkan dari adzab dan siksa yang Allah Swt telah menakdirkannya. Orang-orang seketika mengurungkan ambisinya begitu melihat kejadian itu di depan matanya.

Kekayaan tidak menjadi tolok ukur keselamatan sesorang di dunia dan di akhiratnya. Mengutip dan memodifikasi kata Gus Dur “Tidak ada kekayaan yang perlu dicari mati-matian”. Allah Know The Best.

Referensi:

Al-Qur’an Al-Karim

Ali Al-Shabuni, Shafwat al-Tafasir, (Suriah: Dar al-Qalam al-Arabi, 1994

Abu Al-Abas Ahmad bin Muhammad bin Al-Mahdi bin ‘Ajibah Al-Hasani, Al-Bahr Al-Madid, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2002),

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *