Mengenal Nyai Ahmad Dahlan, Emansipator Pendidikan Indonesia

Nyai Ahmad Dahlan

Nyai Ahmad Dahlan memiliki nama kecil Siti Walidah binti Kiai Penghulu Haji Ibrahim bin Kiai Muhammad Ali Ngraden Pengkol. Ayahnya biasa dipanggil dengan nama Kiai Fadhil dan ibunya biasa dipanggil dengan Nyai Mas. Sejak kecil Siti Walidah berada dalam lingkungan agamis tradisional.

Hal ini menjadi alasan Siti Walidah tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan beliau hanya dididik oleh kedua orang tuanya. Beliau diajarkan berbagai aspek tebtang agama Islam termasuk bahasa Arab dan Alquran. Sejak kecil beliau telah memiliki kemampuan berdakwah, sehingga beliau dipercaya ayahnya untuk membantu ayahnya mengajar  di Langgar Kiai Fadhil.

Mendirikan Sopo Tresno

Pada tahun 1889, Siti Walidah menikah dengan Muhammad Darwis yang lebih dikenal dengan nama Kiai Haji Ahmad Dahlan. Siti Walidah turut berkontribusi dalam mendampingi perjalanan dan perjuangan suaminya dalam mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912 M.

Dari perjalanan dan perjuangan ini beliau belajar banyak dan mengenal banyak tokoh nasional. Seperti Jenderal Soedirman, Bung Karno, Bung Tomo dan Kiai Haji Mas Mansyur. Pada 1914, Nyai Ahmad Dahlan mendirikan pengajian yang diberi nama Sopo Tresno. Sebuah kelompok pengajian bagi para remaja perempuan terdidik di sekitar Kauman Yogyakarta.

Pengajian tidak hanya  mengajarkan tentang agama tetapi juga mengajarkan tentang pentingnya pendidikan bagi masyarakat, sekaligus sebagai bentuk menghindari sekolah yang dibangun oleh pemerintah kolonial di Jawa sebagai lembaga resmi kristenisasi.

Nyai Ahmad Dahlan mulai menyenarkan isu-isu perempuan dengan menggorelasikan ayat-ayat Alquran. Beliau memulai dengan membahas tafsiran Surah Al-Ma’un. Surah ini sengaja diajarkan untuk mengasah kepekaan muridnya untuk peka pada fenomena kemiskinan yang hampir marak di kalangan umat muslim. Pengajian ini berkembang pesat hingga ke Lempuyangan, Karangkajen, dan Pakualaman.

Sopo Tresno dimulai setelah ibadah salat Ashar dan kemudian dikenal dengan nama Wal’Ashri. Pengajian ini juga diikuti oleh para buruh batik di Kauman yang merupakan kelompok marjinal dan sulit mengakses pendidikan. Tidak hanya  belajar agama, pengajian ini juga mengajarkan kepada buruh  cara menulis dan membaca. Pada 1923 pengajian Sopo Tresno dan Wal’Ashri diganti menjadi konsep “Aisyiyah” lembaga khusus perempuan.

Kepemimpinan dan Perjuangan Nyai Ahmad Dahlan

Pada 1923, Kiai Ahmad Dahlan meninggal dunia. Nyai Ahmad Dahlan  tetap aktif di Muhammadiyah dan Aisyiyah. Pada 1926, Nyai Ahmad Dahlan memimpin konferensi Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya. Beliau menjadi orang pertama yang memimpin konferensi seperti itu.

Banyak cabang perempuan yang bergabung ke dalam Aisyiyah dan membuka cabang lainnya di buka di pulau-pulau lain di Indonesia. Nyai Ahmad Dahlan memimpin organisasi ini hingga 1934. Pada era kepemimpinan Jepang, Aisyiyah dilarang oleh Militer Jepang di Jawa dan Madura pada 10 September 1943.

Beliau kemudian bekerja di sekolah-sekolah  dan berjuang untuk menjaga dan mendidik siswa dari paksaan untuk menyembah matahari dan menyanyikan lagu-lagu Jepang. Selama berlangsungnya masa revolusi nasional Indonesia, beliau memasak sup dari rumahnya bagi para tentara dan mempromosikan dinas militer di antara mantan murid-muridnya. Beliau juga berkontribusi dalam diskusi tentang perang bersama Jenderal Soedirman dan Presiden Soekarno.

Konsep Pendidikan Perempuan Nyai Ahmad Dahlan

Pendidikan bagi kaum perempuan pada masa beliau merupakan suatu hal yang langka, di mana kaum perempuan tidak diperbolehkan untuk bersekolah layaknya kaum laki-laki. Jika pun ada anak perempuan yang bersekolah, pasti berasal dari kaum priyayi. Atas dasar itu, Nyai Ahmad Dahlan menggagas sekolah-sekolah perempuan.

Konsep pendidikan yang digagas oleh Nyai Ahmad Dahlan adalah bahwa perempuan muslimah tak hanya tahu urusan rumah tangga. Namun perempuan juga memiliki tugas dan kewajiban bernegara dan bermasyarakat. Pendidikan ini didukung dengan dibangunnya sekolah-sekolah putri dan asrama. Serta keaksaraan dan pendidikan Islam bagi perempuan. Tak hanya itu, ia juga menolak kawin paksa. Berbeda dengan adat dan tradisi Jawa yang sangat patriarkis, Nyai Ahmad Dahlan menyatakan bahwa perempuan adalah mitra dari seorang suami.

Pada tahun kedua kepemimpinannya, Nyai Ahmad Dahlan berfokus pada pendirian masjid perempuan. Tahun berikutnya beliau memusatkan kegiatan organisasi kearah pendidikan keagamaan dan kursus-kursus kesehatan mental. Pada tahun 1924, beliau terpilih untuk yang keempat kalinya.

Di tahun ini, beliau memusatkan perhatiannya pada pendidkan formal dan non formal. Pada tahun 1925, 1926 dan 1930 beliau kembali menjabat. Pada masa itu tidak ada program kerja baru, beliau hanya membuat majalah yang membantu dan memajukan perempuan yakni majalah “Suara Aisyiyah’.

Konsep pendidikan perempuan yang diusung beliau sangat relevan dengan konsep pada saat ini. Di mana pola pikir manusia semakin berkembang dan cenderung terbuka dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Apresiasi kepada perempuan semakin meningkat karena sudah banyak terlihat dari sektor pendidikan dan kedokteran yang didominasi oleh perempuan yang memang ahli.

Dalam hal ini kaum perempuan bisa disebut sebagai mitra dalam pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Pemikiran Nyai Ahmad Dahlan adalah bentuk memperjuangkan hak-hak perempuan untuk  memperoleh pendidikan yang setara dengan kaum laki-laki.

Tak hanya dalam dunia pendidikan. Dalam kehidupan berkeluarga dan bernegara, Nyai Ahmad Dahlan memperjuangkan hak-hak untuk perempuan.

 

Sumber:

Riwayat Hidup Nyai Ahmad Dahlan Ibu Muhammadiyah  dan Aisyiyah Pelopor Pergerakan Indonesia, 1968. 

Aisyiyah Pelopor Pergerakan Indonesia, 1968.

Perjuangan dan pengabdian Muhammaadiyah, 1989.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *