Apik dan Mendidik

KH Muhammad Tolchah Hasan, Sosok Kiai Multitalenta

Orang masuk surga tergantung Peninggalan (legacy) dalam masa hidupnya,” ucap Prof. Kiai Muhammad Tolchah Hasan dalam Haul Kiai Hasyim Muzadi pada 2018.

Lima puluh hari lebih beliau meninggalkan umat Islam di Jawa Timur khususnya kota Malang dan Kota Batu. Beliau wafat di pekan terakhir bulan Ramadan. Bukan hanya warga nahdliyin, Partai Keadilan Sejahtera dan Ma’arif Insitute turut merasa kehilangan dan mengucapkan rasa duka cita yang mendalam.

Pertanyaannya, apa saja peninggalan Mustasyar PBNU yang menetap di jalan Ronggolawe, Singosari ini? Di bidang dakwah, sudah tak terhitung ribuan kali beliau memberi tausiah (wejangan), orasi dan sambutan. Tausiah di Haflah Akhirussanah sebuah pesantren, haul para kiai, sambutan di lingkungan SD, SMP-SMA Islam Sabilillah hingga Pengajian Kitab Ihya Ulumuddin yang beliau gelar di kediamannya.

Kepandaian tidak menjamin kejujuran seorang.” Kata Kiai Tolchah Hasan dalam Raker SMP Islam Sabilillah tahun 2017. Beliau menambahkan, modal yang wajib dimiliki seorang guru yaitu : ikhlas, sabar dan jujur. “Lembaga yang guru-guru dan pengurusnya sabar maka lembaga tersebut akan tetap eksis“.

Soal pengajian Ihya Ulumuddin, ditemani Sofyan Afandi M.Hi., saya pernah merasakan atmosfer kajian kitab Ihya Ulumuddin. Karena masih baru, peserta lain tak segan meminjamkan buku catatannya kepada saya. Peserta pengajian tak hanya mendapat penjelasan kitab Ihya, tetapi juga suguhan camilan, sepiring nasi rawon dan berkesempatan minta doa kepada beliau. Sebetulnya selain Ihya Ulumuddin, Kiai Tolchah pernah menggelar kajian kitab Rowa’iul Bayan Tafsir Ayatul Ahkam karangan Syekh Muhammad Ali as-Ashobuny

Di bidang keorganisasian, Dalam postingan facebook milik Imron Rosyadi Hamid (kandidat doktor Hubungan Internasional dari Jilin University, Tiongkok), beliau “menolak” dicalonkan menjadi pucuk pimpinan organisasi.

Pertama, ketika KH. Hasyim Muzadi sowan ke Kiai Tolchah Hasan agar bersedia dicalonkan sebagai Rais ‘Aam dalam rangka persiapan Muktamar NU Jombang. Kiai Tolchah tidak bersedia karena faktor usia.

Kedua, ketika Luhut binsar Panjaitan dan Yenny Wahid ke Singosari untuk sebuah diskusi kemungkinan Kiai Tolchah Hasan bersedia menjadi Ketua umum MUI, beliau juga menjawab tidak bersedia karena faktor usia.

Di bidang literasi, Kiai Tolchah Hasan adalah seorang kutu buku. Dr Masyhuri mengatakan bahwa Kiai Tolchah sampai usianya yang ke-80 tahun masih merupakan sosok yang gemar membaca. Diberitakan laman nujabar.or.id (16/7/2019), untuk mempersiapkan mengisi kuliah di Unisma (baik magister maupun doktoral), beliau bisa menelaah berpuluh kitab atau buku sebagai bahan mengajar. Dari kitab-kitab itu kiai Tolchah lalu membuat satu makalah. Dalam kebiasaannya, makalah tersebut digandakan sendiri oleh Kiai Tolchah untuk disebarkan kepada para mahasiswa.

Kiai Tolchah setiap mau mengajar di kelas, malamnya harus membaca minimal 20 kitab,” tutur Masyhuri di hadapan para mahasiswa. Setelah membaca berbagai referensi, Kiai Tolchah biasanya akan meminta kepada salah satu menantunya untuk membuat tayangan power point berdasarkan ringkasan konsep yang dibuatnya dalam tulisan tangan.

Karya tulisnya lumayan banyak. Siska Ainun Jariah di dalam skripsinya (UIN Sunan Ampel, 2009) menyebut Kiai Tolchah termasuk sosok intelektual muslim yang cukup produktif, baik dalam bentuk tulisan maupun gagasan-gagasan. Karya beliau dalam bentuk tulisan yang cukup segar dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial budaya, kepemimpinan, dan lain sebagainya. Totalnya,  5 buku diterbitkan Lantabora press dan 4 buku diterbitkan Listarafiska Putra. Sisanya 1 makalah di Jurnal Fakultas hukum Unisma dan 2 artikel di Majalah Aula.

Mencermati kegemaran beliau dalam menelaah kitab dan menerbitkan buku-buku, maka layak sekali mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta pada 30 April 2005. Akhir kata, Meskipun beliau tidak mendirikan sebuah Pondok Pesantren, akan tetapi hal itu tidak mengurangi kharisma beliau sebagai sosok intelektual muslim yang disegani berbagai kalangan. Rasanya sebutan “Kiai Kampung” tidak layak, marilah kita kenang beliau sebagai “Kiai Multitalenta”. Wallahu’allam.

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *