Mengenangmu Gus Dur [Cerpen]

Gus Dur

Tepat di hari Senin, dua buku dengan cover dan judul yang berbeda tapi memiliki wajah yang sama, berpeci dan tergambar senyum bahagia disuguhkan kepada saya. Samudra Kezuhudan Gus Dur dan Ajaran-Ajaran Gus Dur, “Nah baca” katanya sambil meletakkan buku di atas meja yang biasa saya buat menulis ketika tidak malas. “Menarik sekali bukumu, dapat dari mana”, jawabku sumringah telah dibawakan buku-buku yang menceritakan tokoh yang sangat abadi di bangsa ini.

Bergegas aku pergi ke dapur dan memanaskan air untuk membuat secangkir kopi. Kemudian kubuka lembaran buku ajaran-ajaran Gus Dur, Seperti yang aku duga kemanusiaan menjadi salah satu tema yang santun dan sentral di dalamnya. Mengingatkan berapa tahun silam, ketika ayahku menceritakan tentang Gus Dur yang selalu menerima setiap tamu yang mampir ke rumahnya.

“Gus Dur itu tidak pernah menolak setiap orang yang bertamu ke rumahnya, siapapun yang berkunjung ke rumahnya pasti akan di terima dengan lapang dada, nggak memandang dari mana orangnya, Wong itu sama-sama ciptaan manusia”, kata ayah yang dengan seksama menceritakan tentang kebaikannya.

Kenangan itu membuatku selalu rindu dengan keadaan masa lalu, semua terasa indah, cerita-ceritanya yang tidak pernah melepaskan diri sosok Gus Dur selalu mengajariku bagaimana selalu bersabar meniti kehidupan, menolong setiap orang menjadi satu kewajiban pasti yang harus dilakukan. Toh setiap apa yang kita keluarkan juga akan kembali kepada kita sendiri. Itu sudah menjadi hukum alam.

Baca juga :  Gus Dur, Fidel Castro dan Diplomasi Humor 

Semakin jauh aku membaca dua buku ini, ada kaidah yang membuatku tersentuh dengan kesantunan yang dilakukan Gus Dur, “tidak penting apapun agama ataupun sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah tanya apa agamamu. Kuhentikan membaca, kurenungkan bagaimana indahnya makna yang terkandung dalam bahasa Gus Dur tersebut. Menggambarkan bagaimana dunia ini memang selalu memberikan keindahan apabila selalu menghargai perbedaan di dalamnya.

Kemarin kamu lihat berita tidak, ada orang humoris yang ditangkap polisi, gara-gara menggunakan Narkoba?, kata temanku yang kemudian membangunkan lamunanku.

“Sedang rame dibicarakan di mana-mana orang itu, sampai bosan aku mendengar beritanya, sosial media dari yang group belajar, sampai dengan group keluarga sibuk membicarakan dia. Apa tidak ada yang lebih menarik dari itu? Bagaimana dengan kemiskinan yang tidak kunjung usai? Bagaimana tingkah laku mereka yang selalu berebut kursi dengan dalih kemakmuran, akan menyejahterakan rakyat? Toh mereka juga yang jadi penyebab kemiskinan”, celetukku yang sedikit kesal dengan keadaan negeri ini.

Aku masih ingat benar bagaimana dalam buku biografi yang di tulis Greg Barton, yang sekarang bisa dikatakan sudah menjadi referensi setiap orang untuk menuliskan tentang perjalanan Gus Dur. Di dalamnya memberikan penjelasan bagaimana Gus Dur berhasil menyelamatkan Indonesia yang pada saat itu berada dalam ujung kebuntuan, beliau berhasil menenangkan masyarakat agar saling menjaga, menghormati, dan jangan kekerasan di antara satu sama lain. Semua itu dilakukan hanya satu dalih, karena kita saudara.

Baca juga :  Lobi Gus Dur, Rabbi Abraham Cooper dan Tragedi Holocaust

Sayangnya yang demikian sudah hilang dalam peradaban, semua dengan senang hati dan tanpa rasa bersalah mengumbar aib orang lain di berbagai Gadget. Media baru yang dianggap tonggak kemajuan bangsa ini seakan sudah merenggut kebahagiaan. Perlahan merenggut kelucuan ketika aku berkumpul dengan keluarga, saudara ataupun teman nongkrong. Seakan-akan manusia dengan pasrah mengatakan aku kalah, aku menyerah, dan aku tunduk padamu.

Di bagian akhir dalam pembacaan, bibirku spontan berucap, aku merindukanmu Gus. Semoga bangsa ini selalu ada orang baik sepertimu Gus. Amin.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *