Menggali Khazanah Manusia dalam Balutan Musim (1)

Menggali Khazanah Manusia dalam Balutan Musim

Dibalik gugusan pulau menawan, warna-warni bunga yang keluar dari serbaneka flora, nada suara silih berganti dari pelbagai jenis fauna, Indonesia juga menyimpan bahaya bencana yang dahsyat. Dalam perjalanan sejarahnya, letusan gunung berapi di negeri ini tidak saja memorak-porandakan daerah sekitar, tetapi juga memengaruhi iklim bumi. Gunung Toba, Gunung Sunda, Gunung Tambora, Gunung Krakatau, dan Anak Krakatau, adalah di antara sekian banyak bencana yang terjadi di Nusantara. Dari serba-serbi keindahan itu, ada ancaman yang tetap menjadi misteri.

Terletak di garis khatulistiwa, letak geografis Indonesia menciptakan iklim tropis yang sangat khas. Hanya ada dua musim; hujan dan kemarau. Walau di beberapa tempat, terutama di wilayah hutan hujan tropis, hujan bisa terjadi kapan pun sepanjang hari, tanpa ada jeda kemarau. Pagi hari cerah, agak siang hujan, lalu cerah sebentar, dan kembali hujan. Bahkan, hujan bisa terjadi dalam kelokalan yang tidak begitu luas, dan cenderung istikomah. Silakan berkunjung ke Kwatisore di Papua sana.

Dari segi geologi pun, di Nusantara ada banyak ragam jenis bebatuan yang menyiratkan usia. Ada yang sudah muncul saat masa Pangea, Pleistosen, maupun daratan baru yang muncul akibat tabrakan lempeng, maupun proses-proses alamiah lain. Seperti Anak Krakatau, yang untuk ukuran geologi bertumbuh dengan sangat cepat. Ada juga Laurasia (bagian barat) dan Gondwana (bagian timur [Papua]), serta ada pulau yang memadukan antara dua tipe daratan tersebut. Pulau Sulawesi secara umum adalah Laurasia dan Gondwana.

Hal terpenting di kawasan yang memadukan keindahan dan kegentaran tersebut, ada masyarakat yang hidup, dalam kurun waktu yang lumayan lama. Lukisan di Goa Maros, Sulawesi, diperkirakan berusia 43.000 SM. Temuan lain ada di Sangiran dan Tegal, Jawa Tengah, yang berusia jauh lebih tua. Kuat dugaan justru manusia Homo Erectus bermula dari Nusnatara. Secara bio-geografi, di Nusantara juga telah ada binatang-binatang seperti banteng dan kerbau yang berukuran cukup besar. Dengan ukuran mamalia seperti itu, tentu ada juga predator atau pemangsa yang jauh lebih gigantik.

Pertanyannya adalah, bagaimana bangsa Nusantara mengembangkan perikehidupan untuk bertahan dan mengelola keindahan di tengah kepungan ancaman? Ada beberapa karakter yang kita warisi dari leluhur sampai kepada generasi sekarang.

Jam Besi dan Jam Karet

Kita mengenal satu istilah yang berkembang dalam masyarakat, yakni “jam karet” alias suka terlambat, sering molor kalau janjian, atau tidak jelas keberadaannya padahal sudah lama ditunggu. Berbeda dengan orang-orang yang hidup di iklim temperate, tepat waktu.

Kondisi ini bukan tidak bisa dijelaskan dan bukan juga karena orang Indonesia tidak menghargai waktu atau janji. Tetapi ada yang lebih penting dari hal tersebut. Hidup pada iklim tak terduga untuk rentang waktu yang cukup lama, tentu terekam dalam “genetika” manusia. Masyarakat temperate yang mengenal empat musim dan semuanya ekstrim, turut membentuk konsep mereka terhadap waktu. Pada musim-musim lain, orang-orang akan beraktifitas, baik berladang, berburu, maupun berniaga. Mereka mempersiapkan diri menghadapi ancaman yang akan datang, yakni musim dingin—di mana pada saat tersebut mereka tidak bisa keluar mencari makan. Semua musim dapat diperkirakan oleh mereka, berapa lama musim panas, berapa hari musim semi, dan berapa lama musim dingin yang akan datang.

Tanpa kalkulasi yang matang, maka manusia takkan bertahan hidup. Dengan demikian, maka wajar jika kita bertandang ke rumah orang Eropa atau Amerika, tidak akan disuguhi makanan atau minuman. Tentu tidak semua begitu. “Winter is Coming” seperti judul film thriller, adalah gambaran bagus mengenai ancaman bencana akan mendatangi masyarakat temperate.

Berbeda dengan orang yang mukim di iklim tropis. Mereka tidak memerlukan kalkulasi tersebut. Sebab tidak ada ancaman cuaca. Di puncak musim hujan, orang masih bisa keluar rumah mencari bahan makanan. Di tengah terik musim kemarau, ada saja pohon yang berbuah atau bahan makanan lain tersedia di alam. Ikan lebih mudah ditangkap atau dijerat pada musim kemarau. Jadi kapan pun orang bisa mencari makanan tanpa takut ancaman cuaca.

Demikian juga dalam menggarap lahan. Orang-orang di iklim temperate harus menyiapkan betul kapan waktu menanam. Tanpa kalkulasi, biji tidak akan berkecambah dan hasil tentu saja menjadi buruk—yang berarti juga mereka tidak bisa menyiapkan makanan menghadapi musim dingin. Sedangkan di iklim tropis, kapan pun orang bisa bercocok tanam. Di tengah musim kemarau, bisa menanam padi, ubi, atau jenis-jenis lain. Walaupun kemarau, tetapi sumber air masih melimpah, sehingga kebutuhan tanaman dapat dipenuhi. Seandainya pohon belum berbuah atau padi belum panen, maka kita dengan mudah mendapatkan pinjaman dari tetangga, bayarnya saat panen.

Dengan ancaman yang demikian, wajar jika manusia yang hidup di iklim temperate sangat ketat pada waktu. Tanpa hal tersebut, mereka takkan bertahan. Berbeda dengan manusia iklim tropis, karena kapan pun bisa keluar rumah, maka lebih santai dalam menjalani hidup. Sudah siap-siap hendak ke ladang, tiba-tiba ada saudara yang datang ke rumah membicarakan suatu urusan, maka peralatan ladang pun diletakkan kembali dan menerima tamu terlebih dahulu. Rencana ke ladang pun ditangguhkan pada hari berikutnya dan orang tersebut akan mengerjakan hal lain, apakah membenahi rumah, pagar rumah, atau kegiatan lain.

Sikap demikian bukan berarti pergi ke sawah atau ladang tidak penting, tetapi iklim telah membentuk ke sawah kapan pun bisa, sehingga menerima tamu atau situasi yang dihadapi sekarang lebih penting. “Masih ada hari esok,” begitulah ungkapan yang umum di masyarakat kita.

Dampak selanjutnya dari kalkulasi bahan makanan membentuk karakter pada generasi setelahnya. Orang-orang di iklim temperate, karena terbiasa menghitung bahan makanan dikalikan jumlah hari, maka mereka terbiasa dengan perhitungan. Kuantitatif adalah salah satu hal penting dalam mempertahankan kehidupan bagi mereka. Tanpa hitungan yang tepat, mereka akan mati. Berbeda dengan orang-orang yang tinggal di iklim tropis, hitung-hitungan tidaklah begitu penting, yang lebih penting adalah nilai atau kualitatifnya.

Walaupun lebih bersifat kualitatif, masyarakat yang tinggal di iklim tropis justru terkadang lebih rinci dalam mengamati suatu kejadian, atau materi. Perubahan cuaca yang cepat tak urung membuat sebagian orang mengembangkan pemikiran berbeda. Agak susah dikuantitatifkan. Orang Nusantara, mengenal ilmu niteni, yakni kemampuan observasi pada suatu kejadian atau peristiwa sampai tingkat rigid, dan kemudian menjadi acuan ketika menghadapi situasi serupa. Weton, pasaran, hari baik-buruk dan semacamnya, adalah pengalaman berinteraksi dengan lingkungan dalam kurun waktu yang lain.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *