Menggugat Nalar Pendidikan Modern

Nalar

“Saya tidak pernah mengajari murid-murid saya,

kecuali hanya mencoba menyediakan suasana

di mana mereka bisa belajar.” –Albert Einstein

RISALAH ini kami susun dengan kesadaran penuh sebagai bagian penting dari pelaku pendidikan Indonesia. Kenapa penting? Karena puluhan siswa yang sudah diserahkan orangtuanya ke sekolah Cerdik Cendekia (kini berganti nama jadi Atmanagari) yang kami kelola sejak 2017, berpotensi besar melanjutkan tongkat estafet peradaban yang kini sudah semakin berat kita topang di pundak. Berdasar posisi itulah, kami mengajukan sebuah pertanyaan sederhana belaka kepada salah seorang karib yang baik hati:

“Pada masa yang katanya masih diliputi pandemi begini, kenapa tempat wisata sudah dibuka, dan sekolah masih ditutup?”

Secara tak terduga, dan dengan cerdas, karib kami menjawab ringkas, “Tempat wisata bisa menghilangkan stress, dan sekolah biangnya stress.”

Sepintas lalu nampaknya jawaban tersebut cukup menohok. Tapi mari kita cermati secara menjeluk. Sedari awal bergulir, sekolah yang kami bina tidak pernah membebani adik-adik dengan tugas menumpuk segunung. Jam belajar yang kaku. Kurikulum menjemukan, dan bentuk tekanan lain yang kami mafhumi, dulu pernah menyiksa semasa menjadi siswa di sekolah. Tolok ukur yang kami pakai untuk menandai tepat gunanya program yang dijalankan adalah, wajah mereka yang tak pernah absen dari senyum dan tertawa. Mereka belajar dengan gembira ria. Berbahagia…

Baca juga :  Mendidik Generasi Z dan Alpha

Anak didik di sekolah, harus juga dikenalkan pada beragam cara menggali ilmu. Belajar sambil bercanda, juga ampuh tuk menanamkan nilai indah kehidupan–pada mereka. Toh pada ghalibnya, hidup hanya sekadar singgah. Mampir ketawa. Sebelum akhirnya purnasia. “Dan tidaklah kehidupan dunia ini, selain bersenda gurau (bercanda/dolan) belaka, dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orangorang yang betakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al An’am [6]: 32)

Mengalihbahasakan nasihat Einstein yang lain, kami menyusunnya jadi seperti ini, “Masalah penting yang kita hadapi kini, tak dapat dipecahkan pada tingkat berpikir yang sama seperti ketika kita menciptakan atau berada dalam masalah tersebut.” Sebagai pendidik anak manusia, terlarang hukumnya mendidik anak kandung zaman berbekal perangkat dari masa lalu. Kita harus mencarinya dari masa kiwari. “Jangan didik anak-anakmu dengan cara kaudibesarkan oleh orangtuamu dulu,” demikian petuah Imam ‘Ali bin Abi Thalib.

Manakala sudah menikmati gelar profesor dan nobel fisika dengan Teori Relativitas, Einstein kemudian melansir beberapa pernyataan yang menarik kita cermati, “Satu-satunya hal yang bertentangan dengan pengetahuanku, dan mencampuri pembelajaranku, adalah pendidikanku.” Pada kesempatan lain, ia berkata, “Banyak orang mengatakan bahwa kecerdasanlah yang menjadikan seseorang sebagai ilmuwan hebat. Mereka salah: karakterlah penentunya.” Secara mengagumkan, Einstein meyakini bahwa, “Semua agama, seni, dan ilmu pengetahuan, adalah cabang-cabang dari pohon yang sama.” Kita menyebutnya, kehidupan.

Kami membangun sekolah ini berdasar niat sederhana. Bukan untuk mencetak indeks prestasi a la dunia barat. Bukan semata meluluskan siswa strata menengah. Bukan demi memancang tiang menjadi yang terdepan, terbaik, terintegrasi, terpadu, paling ekslusif, apa pula termahal. Bukan itu tujuan kami. Sekolah Atmanagari berdiri untuk anak-anak manusia. Dari kalangan apa dan mana saja. Lintas batas budaya. Maka harus bisa dimiliki dan jadi kebanggaan bersama.

Baca juga :  Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam, dan Kesehatan Mental

Sekolah Cerdik Cendekia kami dirikan, demi melawan itu semua. Tak ada kurikulum. Tak ada seragam, dan penyeragaman. Kurikulum yang tak pernah jelas itu, hanya membuat pusing kepala murid dan juga dewan guru, serta memperkaya para pengambil kebijakan dengan proyek pegadaan buku–yang entah kenapa selalu tak pernah ajeg. Padahal tanpa kurikulum yang “jelas”, pondok pesantren terus melahirkan generasi unggul dan guru manusia untuk bangsa ini.

Ini sekolah memang tak bergantung pada gedung secara fisik, tapi bangunan karakter anak didik, akhlak mulia, budi pekerti, kenal diri sendiri. Tentu demi mencapai itu semua, bukan perkara mudah. Jelas butuh perjuangan panjang bertahun lamanya. Alam takambang manjadi Guru.

Salah sebuah cara memulihkan sekolah manusia pada Abad 21 ini adalah, mengembalikan lagi hak anak didik pada ghalibnya, khittahnya. Sekolah itu tempat belajar segala yang maslahat, dan harus mencerahkan. Para pelajar tetap bisa belajar sambil bermain. Bukan malah tergerus mental-pikirannya, apalagi sampai kehilangan gairah belajar. Ini sudah kecelakaan dalam dunia paedagogis.

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *