Menghapus Tafsir Sepihak Atas Diri Perempuan

Tafsir Sepihak Atas Diri Perempuan

Menghapus Tafsir Sepihak Atas Diri Perempuan- Seiring massifnya semangat “beragama” dan kajian Islam akhir-akhir ini, ada satu isu yang tak pernah luput dalam topik para pendakwah; Perempuan. Kita semua tahu bagaimana Islam memosisikan seorang Ibu sedemikian mulia sehingga Nabi mengulang kalimat ummuka (Ibumu) tiga kali berulah abuka (ayahmu) sebagai sosok yang wajib kita hormati.

Namun hari-hari ini, jiwa saya selalu teriris mendapati muatan dakwah yang sangatlah tidak adil bagi perempuan. Tafsir sepihak banyak pendakwah yang mayoritas laki-laki atas diri perempuan dengan menafikan pengalaman biologis dan spiritualnya sebagai subjek yang utuh terus dikampanyekan.

Wacana “sunnah” bagi perempuan untuk tetap di rumah, berdiam diri untuk menjaga kehormatan sehingga terwujud iffatunnisa sebagai sumber keberkahan, wacana perempuan sebagai “sumber fitnah”, penyebab negeri ini “kering berkah”, begitu dipercaya oleh teman-teman sejawat saya yang rentang usianya sekitar dua puluh tahunan. Dan celakanya, dianggap sebagai satu-satunya rujukan kebenaran.

Kesedihan saya bertambah, bagaimana bisa berharap terwujud tatanan masyarakat yang tidak bias gender kalau agama sebagai nilai utama yang dipegang teguh masyarakat kita, malah menjadi legitimasi peminggiran peran sosial perempuan.

Saat ini, jamak kita temui perempuan-perempuan muda yang memilih untuk bersikap lemah lembut, penurut, pasif, dan berserah diri bukan semata-mata lahir dari pemaknaan atas jiwa dan raganya sendiri. Melainkan tuntutan tafsir patriarkis yang telah menjelma menjadi budaya dalam masyarakat kita.

Melihat perempuan sebagai “sumber fitnah” sehingga menganjurkan untuk tetap di rumah demi menjaga “kehormatan”, sesungguhnya hanyalah produk. Yang sebenarnya perlu kita benahi adalah mindset dan alam pikiran kita.

Jika kita terus-menerus menganggap perempuan sebagai objek, menganalogikan perempuan dengan barang seperti: perempuan tidak berjilbab bak permen tanpa bungkus dan perempuan berjilbab bagaikan permen berbungkus rapi sehingga lalat pun tak akan bisa “hinggap”. Dengan pandangan yang seperti itu, sebenarnya kita tengah menurunkan derajat kita sendiri sebagai manusia, perempuan tak lebih dari sekadar barang (permen) dan laki-laki adalah lalatnya.

Padahal, relasi antara laki-laki dan perempuan bukan hanya sebatas makhluk seksual, dalam istilah Dr. Nur Rofiah, juga sebagai makhluk intelektual dan spiritual. Tentu kita tahu, Sayyidah Aisyah adalah satu dari enam sahabat senior Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits sekaligus alim dalam ilmu fikih, atau Sayyidah Nafisah seorang Ulama perempuan guru Imam Syafi’i.

Dalam bukunya Nalar Kritis Muslimah, Dr. Nur Rofi’ah, Bil.Uzm, memberikan pembacaan kritis atas wacana agama yang seringkali luput dalam pandangan kita. Bahwa Alquran sejak 1400 tahun lalu telah membangun kesadaran kemanusiaan perempuan.

Saat budaya Arab jahiliyah melegalkan poligami tanpa batas dalam waktu yang lama, Alquran hadir dengan semangat pengurangan jumlah istri masih ditambah syarat adil. Bahkan menganjurkan monogami sebab berlaku adil itu sulit.

Atau dalam kasus waris, perempuan pada masa itu sama sekali tidak memiliki nilai. Ia bahkan diwariskan layaknya properti. Lalu kita semua tahu, hari ini perempuan juga memiliki hak waris separuh dari laki-laki bahkan bisa sama persis. Yakni ketika menjadi ayah atau ibu dari anak yang wafat dan punya anak, yaitu sama-sama 1/6.

Perbedaan pembagian dalam hukum waris ini, menurut Kiai Imam Nakhai Situbondo dilandasi oleh spirit keadilan, bukan berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Begitu revolusioner Islam mendobrak kemapanan berfikir patriarkis sejak lebih dari seabad yang lalu, namun sampai hari ini, agaknya masih sukar diterima.

Padahal, ketika kita melihat perempuan sebagai subjek, tentu tak akan ada penghakiman atas diri perempuan yang beraktivitas di luar rumah. Sebab perempuan dengan akal dan pengalamannya mampu berfikir dan mengetahui apa yang paling baik dan tepat bagi dirinya.

Jika kita hanya terpaku pada dogma “Perempuan-perempuan terhormat adalah perempuan yang suka diam di rumah, makin dihormati oleh Allah” lantas bagaimana nasib para akademisi, pelajar, pengajar, atau dokter perempuan yang beraktivitas di luar rumah?

Apakah mendidik, mengajar, dan belajar bukan hak perempuan? Apakah menyelamatkan dan mengobati manusia bagi dokter perempuan bukan suatu kebaikan?

Atau bagaimana kemudian kita melihat janda-janda muda dengan banyak anak yang harus mengais rezeki di luar rumah agar anak-anaknya tak kelaparan? Realitas ini begitu dekat dengan hidup saya. Nenek saya dari jalur Ibu adalah seorang janda dengan lima orang anak ketika Bapak dari Ibu saya meninggal dunia. Serba kesulitan sebab anak sulung masih kelas 4 SD dan adik bungsu Ibu saya saat itu masih berumur 40 hari.

Nenek saya tiap hari mengayuh sepeda berjualan sayur ke pasar dan mengelilingi kampung, agar asap dapur tetap mengepul, masih dengan keharusan menyusui si bungsu. Pilihan untuk berjualan sayur keliling bagi nenek saya adalah hasil dari pergulatan batin, fikiran, dan pengalamannya sebagai seorang perempuan yang jadi single parent.

Dengan melihat konteks yang ada, apakah kita masih bisa menganggap perempuan yang bekerja di luar rumah sebagai sumber fitnah dan penyebab negeri ini kering berkah? Jawabannya masih. Selama kita hanya melihat dari kacamata seksualitas, sekaligus menjadikan agama sebagai legitimasi bagi subordinasi peran dan kemanusiaan perempuan.

Tapi kemudian apakah kita mau terus-menerus melanggengkan diri sebagai makhluk seksual semata ketika berhadapan dengan perempuan? Bukankah ada banyak hal yang jauh lebih substantif, dari sekedar “fitnah perempuan”? Dan, bukankah Islam hadir sebagai Rahmat bukan hanya untuk laki-laki tapi juga perempuan bahkan seluruh alam?

Menjawab pertanyaan fundamental di atas dalam mewujudkan keadilan gender, akhirnya mengharuskan kita untuk menyudahi tafsir sepihak atas diri perempuan yang tidak memperhatikan pengalaman biologis dan spiritualnya. Karena sekali lagi, perempuan adalah subjek yang utuh dengan kemampuan berfikir dan beragama yang sama dengan laki-laki. Namun sampai hari ini, seringkali dilemahkan oleh budaya patriarki dan tafsir agama sesuka hati.

There are 2 comments for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *