Menghidupkan Nabi di Masjid Kami

Para jamaah salat yang safnya sudah rapi celingukan. Imam salat yang biasanya mengimami mereka belum datang. Mereka pun menunjuk Ustaz Ahmad, sang guru mengaji, untuk maju. Sebaliknya, Ustaz Ahmad malah mendorong Yusuf pelan. Mengisyaratkannya untuk ke depan. Yusuf menggeleng. Ia ragu.

Namun, Ustaz Ahmad sudah menggamit lengannya ke ruangan kecil berukuran 2×2 meter dengan mimbar di sebelah kanannya. Yusuf hendak melipir, tetapi gerakan Ustaz Ahmad lebih cepat. Pemuda berahang kokoh itu sudah menginjakkan kakinya tepat di atas sajadah imam. Laki-laki berjenggot pendek di belakangnya mengangguk. Menyakinkan Yusuf kalau ia mampu.

“Ayo, Mas Yusuf diimami saja.” Laki-laki paruh baya berambut putih memotong “pertikaian” antara Ustaz Ahmad dan Yusuf.

Mau tak mau Yusuf akhirnya mengangkat kedua tangannya dan memulai salat. Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun merdu. Hati para jamaah bergetar dibuatnya. Wanita baya berkulit cokelat di ujung saf yang duduk di atas kursi salat menitikkan air mata.

Akan tetapi, seorang laki-laki berpeci putih yang baru menginjakkan kaki di teras masjid mengerutkan kening dalam. Garis-garis yang menandai usianya semakin tampak jelas. Ia berbalik arah, mengenakan sandalnya, dan bergegas menjauh. Wajahnya ditekuk. Hatinya terbakar kesal.

 

Rapat digelar

Sekitar lima belas orang lelaki yang masih mengenakan pakaian salat duduk melingkar. Sebagian menyandarkan punggungnya ke dinding. Seorang pria berkumis yang duduk di tengah-tengah mereka berdehem. Ia mengucapkan salam kemudian membuka pertemuan malam itu.

Alhamdulillah. Sebentar lagi kita akan kedatangan tamu istimewa. Bulan Ramadan yang mulia. Seperti biasanya, mari kita agendakan siapa saja yang akan menjadi imam salat tarawih dan mengisi kultum.” Ustaz Jupri, ketua takmir, merapikan kopiah putihnya kemudian melanjutkan, “Ini ada daftar nama-nama yang sekiranya bisa mengisi jadwal.” Laki-laki berkening hitam itu mengulurkan fotokopian kepada bapak di sebelah kirinya untuk dibagikan kepada para pengurus.

“Dia yang ngadain rapat, dia sendiri yang nentuin imamnya.” Pak Jamal berbisik seraya menyenggol lengan Ustaz Ahmad.

Ustaz Ahmad hanya tersenyum kecut.

“Trus, ngapain buat rapat kalau kayak gitu, Taz. Ini jadwalnya kan udah jadi. Rapat cuma formalitas supaya pengurus takmir masjid tahu. Ustaz Jupri kan gitu. Dikasih masukan iya-iya aja, tapi nggak dijalanin. Kekeh sama pendapatnya sendiri. Males jadinya.” Pak Jamal kembali ngomel.

“Silakan kalau ada yang mau ditambahkan atau ada usulan.” Ustaz Jupri menoleh ke arah Pak Jamal, terganggu dengan kasak-kusuk yang dibuatnya.

Ustaz Ahmad mengangkat tangan kanannya.

Monggo, Ustaz Ahmad.”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Jawaban salam terdengar hampir bersamaan.

“Terima kasih, Ustaz Jupri. Saya hanya sekedar saran, bagaimana kalau Yusuf dimasukkan sebagai imam? Saya rasa Yusuf mumpuni. Dia hafiz dan bacaan Al-Qur’annya pun bagus.”

Beberapa orang yang hadir manggut-manggut. Raut muka mereka terlihat setuju. Ustaz Jupri terpekur hampir satu menit lamanya. Ia berpura-pura sibuk meneliti daftar nama imam tarawih di tangannya. Sementara pengurus takmir masjid yang lain membentuk forum sendiri, berdiskusi dengan satu dua orang di sebelahnya.

“Saya setuju, Ustaz. Yusuf punya kapasitas dan layak menjadi imam,” ujar Pak Jamal. Semua pasang mata langsung tertuju padanya. Ustaz Jupri masih belum membuka suara.

Nama Yusuf resmi terpampang di jadwal sebagai imam salat tarawih dan pemberi kultum pada hari Jumat, malam ke-27. Pemuda itu sudah bersiap murajaah juz 27 dengan surat favoritnya, Ar-Rahman, dan membaca referensi untuk kultum setelahnya.

Ustaz Jupri duduk tepat di belakang tempat imam saat azan isya dikumandangkan oleh marbut masjid. Setelah menunaikan salat sunnah rawatib, ia maju dan mengambil tempat di depan. Ustaz Ahmad dan Pak Jamal mengira ia hanya akan mengumumkan perolehan infaq di hari sebelumnya serta nama imam dan pemberi kultum, tetapi ternyata dugaan mereka keliru. Ustaz Jupri ternyata mengambil tempat di samping mimbar. Ia membuka mushaf besar yang terletak di atas meja kayu tinggi di depan sajadah imam dan memulai salat, bahkan sebelum Yusuf bangkit dari duduknya.

Ustaz Ahmad dan Pak Jamal yang berdiri bersebelahan saling pandang. Raut muka Pak Jamal menyiratkan tanda tanya. Ustaz Ali menaikkan bahunya sebagai jawaban. Saat waktu kultum tiba, Ustaz Jupri baru mengisyaratkan Yusuf untuk maju ke arah mimbar.

“Kok Ustaz Jupri yang ngimami tadi? Bukannya hari ini jadwalnya Yusuf?” Pak Jamal berbisik pada Ustaz Ahmad saat Yusuf bersiap kultum.

“Tauk, Pak. Susah wes, susaaahh dibilangin.” Ustaz Ahmad geleng-geleng kepala.

 

Kegelisahan Yusuf

“Mi, tadi bacaan Ustaz Jupri ada yang salah.” Yusuf meluruskan kakinya di lantai. Pemuda berambut ikal itu memandang ibunya yang tengah menjahit.

“Trus, nggak kamu ingetin?” Wanita bertubuh subur itu bertanya.

“Yusuf nggak enak, ntar dikiranya sok.”

“Lho, bukannya hari ini jadwalnya Yusuf yang jadi imam dan ngasih kultum ya?”

“Yusuf emang ngisi kultum, Mi, tapi yang ngimami Ustaz Jupri.”

Umi Yusuf menoleh ke arah Yusuf yang kini merebahkan tubuhnya di lantai. “Kalo bacaan Ustaz Jupri ada yang salah harusnya Yusuf ingetin. Bukankah kewajiban bagi yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an untuk membenarkan jika orang yang membacanya salah?”

“Iya, Mi. Masalahnya bacaan Ustaz Jupri banyak yang salah. Ustaz Ahmad udah ngingetin pas beliau salah baca. Ustaz Jupri ngulang bacaannya. Yang kedua, Yusuf ingetin tapi Ustaz Jupri malah lanjut. Tajwid dan makhraj hurufnya juga nggak pas, Mi.”

Umi Yusuf menghentikan kegiatannya. Ia memandang Yusuf lekat. “Setidaknya kita udah ngingetin, masalah diterima atau tidak itu urusan lain.”

Yusuf mengangguk. Ibunya selalu mengajarinya untuk berani menegakkan kebenaran. Meskipun kehidupan keduanya kurang mampu, Ummi Yusuf selalu menekankan agar anaknya tak merasa rendah diri, takut, atau malu untuk menegur jika ada yang salah, selama mereka tidak melenceng dari syariat Islam.

“Kenapa kamu nggak maju kemarin, Suf?” tanya Ustaz Ahmad yang sedang bersantai selepas salat magrib sembari menunggu waktu salat isya tiba.

“Saya baru selesai salat rawatib, Taz. Ustaz Jupri sudah maju duluan.”

“Harusnya kan jadwalmu yang ngimami, Suf,” celetuk Pak Jamal geregetan.

“Nggak apa, Pak.” Yusuf tersenyum.

“Kalau kamu atau Ustaz Ahmad yang ngimami, jamaah rasanya lebih khusyuk. Nyes gitu, kena ke hati. Mereka seneng banget, malah selalu nanya jadwal kalian lagi kapan. Udah ditunggu-tunggu, loh.”

Alhamdulillah, Pak Jamal. Itu semua hanya karena Allah menutupi aib-aib kita,” sahut Ustaz Ahmad.

“Betul, Taz. Sama aja, Pak, siapa pun yang ngimami,” kata Yusuf.

“Sama gimana? Ya jelas beda banget, Suf.” Pak Jamal menggeser posisinya. Tubuhnya semakin mendekat. Ia lantas memelankan suaranya. “Ustaz Jupri itu kan bacaannya banyak yang salah. Ikhfa’ aja didengungkan. Ini saya baru tahu pas belajar ngaji intensif sama Ustaz Ahmad. Sekarang bapak-bapak juga udah tahu tentang itu.”

“Makanya saya ngajukan Yusuf untuk jadi imam, Pak. Masjid ini harus punya generasi muda yang hebat sebagai penerus, biar nggak cuma orang sepuh yang mengisi masjid. Harapannya biar para pemuda juga ikut memakmurkan masjid. Ngaji di masjid, nongkrong di masjid, berkegiatan positif di masjid, jadi mereka punya tempat yang tepat untuk menyibukkan diri agar terhindar dari maksiat,” jelas Ustaz Ahmad panjang lebar.

“Wah, mantap itu, Taz.” Pak Jamal mengacungkan dua jempolnya.

“Kamu juga harus pede, Suf. Yakin kalau kamu InsyaAllah bisa. Syekh dan imam masjid di negara Islam sana ada yang masih usia anak-anak, loh,” kata Ustaz Ahmad pada Yusuf. Yusuf meletakkan tangan kanannya di pelipis. Sikunya membentuk sudut empat puluh lima derajat.

“Kayaknya Ustaz Jupri cuma takut tersaingi karena bacaan Al-Qur’an Ustaz Ahmad dan Yusuf jauh lebih bagus.” Pak Jamal kembali melontarkan kalimat bernada nyinyir.

Astagfirullah,” ucap Ustaz Ahmad. Pak Jamal langsung memalingkan wajahnya malu. Ia ikut beristigfar dalam hati.

 

Jalan Tengah

Pengurus takmir masjid tengah menekuri selembar kertas berisi jadwal imam salat lima waktu yang sudah dibuat Ustaz Jupri. Rapat takmir masjid kali ini untuk “menentukan” imam tetap salat lima waktu. Ada lebih dari lima nama di dalamnya dengan satu imam tetap dan dua orang imam cadangan pada masing-masing waktu salat. Pak Jamal mengernyitkan keningnya.

“Ustaz Ahmad jadi imam cadangan?” batin Pak Jamal.

Ngapunten, Taz. Sebenarnya apa saja syarat menjadi imam?” Pertanyaan Pak Jamal barusan membuat Ustaz Jupri mendongak.

Lalu, Ustaz Jupri menjelaskan beberapa syarat untuk menjadi imam salat secara singkat. Pak Jamal manggut-manggut.

“Kalau memang begitu, apa tidak sebaiknya Ustaz Ahmad dimasukkan sebagai imam tetap? Beliau bisa mengisi waktu salat subuh atau isya?” Di jadwal tersebut, nama Ustaz Jupri tercatat sebagai imam tetap dua waktu salat yang disebutkan Pak Jamal belakangan.

Nggeh, monggo. Tergantung waktu senggang Ustaz Ahmad dan kesepakatan bersama saja.” Ustaz Jupri berusaha bersikap bijak.

“Mungkin Yusuf saja yang menjadi imam salat isya, Taz, sementara Ustaz Jupri mengisi salat subuh,” ujar Ustaz Ahmad.

Ustaz Jupri kembali menimang-nimang lama. Ia jelas tampak keberatan.

“Bukankah syarat menjadi imam itu yang pertama fasih bacaan Al-Qur’annya, tidak dinilai dari usianya? Benar begitu nggeh, Ustaz Jupri?” Pak Jamal menskak mat Ustaz Jupri.

Ustaz Jupri memalingkan wajahnya kesal.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *