Mengurai Konflik Israel-Palestina Berdasarkan Sejarah Abrahamic Faith

Abrahamic berkaitan dengan Abraham atau Ibrahim, bapak segala Nabi. Para pengkaji Muslim dan Barat mengakui agama Yahudi, Kristian dan Islam berasal dari Nabi Ibrahim. Ini diperkukuhkan dengan kisah-kisah historis dalam kitab suci masing-masing.

Sedangkan Faiths merupakan perkataan bahasa Inggris yang berasal dari Latin fidere yang bermaksud untuk mempercayai (to trust) (Reese 1980: 166).

Ketiga agama tersebut dimasukkan dalam agama Nabi Ibrahim karena memiliki ciri-ciri yang sama. Ciru-ciri itu antara lain: 1) Berasal dari keturunan Nabi Ibrahim (Valkenberg 2006); 2) Mengajarkan monotisme atau menyembah Tuhan yang Satu (Chittister 2006), 3) Memiliki nabi yang mereka yakini sebagai utusan Tuhan.

Selain itu, konsep agama Yahudi, Kristen dan Islam berdasar pada unitarian monoteisme yang merupakan doktrin kepercayaan pada satu Tuhan (Amaliyah, 2017). Allahlah yang menjadi Tuhan berdasarkan kepercayaan Islam, Yahudi dan Kristen. Hanya saja dalam praktiknya ketiganya memiliki perbedaan pelaksanaan dan cenderung memiliki penafsiran tersendiri.

Berdasarkan fakta historis, figur Ibrahim terdistorsi oleh pengalaman sejarah yang berbeda antarsatu agama dengan agama lainnya. Meskipun ia adalah satu orang yang sama, masing-masing agama menggambarkan Ibrahim dengan sosok yang sama sekali berbeda.

Muncul Yahudisasi Ibrahim, Kristenisasi Ibrahim, dan Islamisasi Ibrahim. Bahkan memunculkan persaingan antara Ibrahim dalam satu agama dengan Ibrahim pada versi agama lainnya.

Penyebab Konflik Israel-Palestina

Penyebab utama konflik Abrahamic Faith adalah perebutan posisi dominan atas Yerussalem, kota impian ketiga agama samawi. Sebuah kota yang terletak di Palestina, kota suci yang telah dijanjikan Taurat di dalamnya.

Terdapat tembok yang dianggap suci oleh Yahudi yaitu tembok ratapan. Mereka meyakini tembok tersebut tidak akan hancur karena ada kekuatan Tuhan di dalamnya. Berdoa di depan tembok ratapan diyakini sama dengan berdoa di hadapan Tuhan.

Baca juga :  Melihat Palestina dalam Karya Sastra Ibrahim Nasrallah

Dalam pemahaman Yahudi yang direpresentasikan oleh Israel isi Taurat menyatakan bahwa Yahudi akan mengalami kemenangan jika Yerussalem mereka kuasai kembali. Karena jauh sebelum Nasrani dan Islam datang dengan risalahnya, Yahudi adalah agama samawi pertama yang memiliki warisan sejarah di Yerussalem.

Kemudian dengan datangnya agama Kristen, muncullah konflik antarkeduanya. Perang dingin yang terjadi antara Kristen dan Yahudi telah ada sejak munculnya pemahaman Kristen yang meyakini bahwa kaum Yahudilah yang melakukan penyaliban terhadap Isa Al-Masih.

Penyaliban itu diyakini terjadi di Yerussalem, dan kebangkitan Messiah juga akan terjadi di tempat di mana ia disalib. Yahudi tidak mengakui Isa sebagai Rasul apalagi Tuhan (Attamimi, 1994). Keterangan ini semakin diperkuat dengan adanya bukti-bukti pemusnahan bangsa Yahudi secara massal atas nama Isa Al-Masih.

Sedangkan perseteruan antara Kristen dan Islam dimulai sejak keberhasilan ekspansi Arab atas kemenangan Palestina di masa kekaisaran Byzantium. Hal ini mengakibatkan terbatasnya akses masyarakat Kristen untuk melakukan ziarah ke makam kudus Messiah.

Meskipun mereka sudah membayar pajak yang tinggi pada khalifah namun orang-orang Seljuk di masa kekhalifahan Abdul Hakim pada saat itu tetap tidak memberikan akses pada masyarakat Kristen untuk melakukan ziarah.

Kekaisaran Byzantium ingin menjaga eksistensi Masjid Al-Aqsa yang memiliki sejarah panjang disyariatkan perintah shalat bagi Muslim dalam peristiwa Isra Mi’raj. Terlebih, Masjidil al-Aqsa adalah kiblat pertama Muslim sebelum dipindahkannya arah kiblat ke Makkah.

Maka pelarangan ziarah bagi umat Kristen oleh  Khalifah Saljuk bertujuan untuk mempertahankan independensi Yerussalem sebagai tempat bersejarah bagi Islam.

Baca juga :  Palestina Undang PBNU untuk Bicara Aneksasi Israel

Hal ini memicu kemarahan Paus Urbanus II dan menilai itu adalah suatu penindasan dan perlakuan yang tidak manusiawi. Kristen menganggap Islam sebagai perampok dan segera melakukan suatu upaya untuk melakukan perebutan terhadap Baitul Maqdis (Sanusi, 2001).

Maka terjadilah  peristiwa perang salib yang terjadi selama dua kali pertempuran dan semakin mempekuat ketegangan antara Kristen dan Islam saat itu.

Perang semakin memanas karena kedua pasukan sama-sama mengatasnamakan pedangnya dengan nama agama dan Tuhan. Kristen menganggap perang salib sebagai holy war (perang suci), sehingga pasukan Kristen yang gugur diyakini akan mendapatkan pengampunan messiah.

Sedangkan Islam juga mengatasnamakan pedangnya dengan jihad yang menjanjikan surga bagi mujahid yang gugur di medang perang. Melalui Solahuddin al-Ayyubi akhirnya peperangan berakhir dengan kembalinya otoritas Muslim di wilayah Yerussaleam.

Upaya Mencapai Perdamaian Israel-Palestina

Karena sama-sama mengusung monoteisme, sama-sama memiliki kitab suci yang diyakini berasal dari Tuhan, dan sama-sama memiliki nabi sebagai penyambung wahyu, maka ketiga agama Ibrahim merasa keyakinannyalah yang paling benar. Hal inipulalah yang menyebabkan langgengnya konflik agama Ibrahim.

Tindakan mengecam, dan mengutuk yang selama ini masif dilakukan oleh Muslim di seluruh dunia atas tindakan Israel justru akan semakin menguatkan semangat jihad mereka atas penegakan kembali agama Yahudi.

Karena motif Israel sebagai representasi Yahudi dalam penyerangan terhadap Yerusslaem adalah tuntunan kitab suci Taurat yang mereka yakini kebenarannya. Semakin banyak yang mengecam, semakin kuat jihad yang akan mereka lakukan.

Maka sebagai bentuk dukungan terhadap saudara Muslim di Yerussalem yang bisa kita lakukan saat ini adalah dengan mengkampanyekan Ibrahim inklusif. Hal ini sejalan dengan pendapat Amir Ghufron (2014), yang menyatakan bahwa keselamatan bukanlah milik agama tertentu.

Baca juga :  Kenangan Gus Dur Menziarahi Gaza Palestina

Semua agama mengklaim agamanya sebagai agen perdamaian, peperangan dan genjatan senjata seringkali dimaknai sebagai perlindungan terhadap agama yang diyakini kebenarannya oleh masing-masing pemeluknya.

Maka pemeluk agama yang satu harus memberikan kesempatan pada pemeluk agama lain untuk saling mempraktikan eksklusifisme agama di lingkungannya sendiri-sendiri. Dan menerapkan agama yang inklusif ketika berinteraksi dengan agama lainnya.

 

Referensi

Reese, W. L. 1980. Dictionary of Philoshopy and Religion. United Stated of America: Humanities Press INC

Valkenberg, P. 2006. Sharing The Light On The Way To God: Muslim-Christian Dialogue and Theology in The Context of Abrahamic Partnership. Amsterdam: Rodopi B.V.

Chittister, J., Chisti, M.S.S., Arthur Waskow, A., Armstrong, K. 2006. The Tent of Abraham: Stories of Hope and Peace For Jews, Christians and Muslims. Britain: Beacon Compress.

Amaliyah, (2017). Satu Tuhan Tiga Agama (Yahudi, Nasrani dan Islam di Yerusalem). Religious: Jurnal Lintas Agama dan Budaya 1, 2 (Maret 2017): 185-190

Attamimi, Asy Syaekh As’ad Bayudh. (1994). Impian Yahudi dan Kehancurannya Menurut Al-Qur’an. Jakarta: Gemas Insane Press.

Sanusi, Ahmad. (2001). Relasi Damai Islam Kristen. Pustaka Alvabet

Amir Gufron,  Inklusifisme  Islam Di  Indonesia, Al-A’raf Jurnal  Pemikiran  Islam dan Filsafat XI, no. 1 (2014): 12

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.