Menilik Santri Waria dalam Kehidupan Masyarakat

Menilik Santri Waria dalam Kehidupan Masyarakat

Judul: Santri Waria

Penulis: Masthuriyah Sa’dan

Penerbit: Diva Press

Tahun Terbit: Agustus, 2020

Cetakan: ke-1

Tebal Buku: 360

ISBN: 978-623-293-078-0

 

Tergugah, setidaknya ini yang saya rasakan ketika mengawali buku karangan Masthuriyah Sa’dan ini. Betapa tidak, penulis begitu lihai menyuguhkan suasana batin, di mana para waria sering memperoleh perlakuan diskriminatif, termasuk saat beribadah.

Tentu, sebelum membicarakan waria yang dikisahkan dalam buku ini, ada baiknya kita merekonstruksi pikiran lebih dulu. Bukan apa-apa. Selama ini, tingkah waria dianggap sebagai perbuatan mengada-ngada. Sikap gemulai mereka disangka dibuat-buat dan tidak nyata.

Ah, tentu waria semacam ini benar-benar ada dalam lakon hidup masyarakat. Namun, waria dalam buku Masthuriyah adalah mereka-mereka yang memiliki kelamin ganda sejak lahir. Secara jasmani memiliki batang kemaluan seperti lelaki, tapi naluri mereka layaknya sifat perempuan.

Umpama mereka ditanya, bagaimana hidup memiliki dua kelamin yang kontras, niscaya mereka akan berkata alangkah baiknya tidak usah lahir saja. Sebab tidak mudah menjalani hidup dengan kondisi batin terluka yang berlangsung seumur hidup. Kondisi ini menyebabkan mereka memilih banyak jalan.

Tak sedikit yang menekuni pekerjaan sebagai kupu-kupu malam. Sialnya, mereka-mereka yang bekerja sebagai kupu-kupu malam, justru melekat sebagai stigma buruk dalam padangan masyarakat. Padahal tidak sedikit waria yang menekuni profesi lain, semisal usaha salon kecantikan bahkan menjadi da’i.

Baca juga :  Kitab Ngudi Susilo; Pentingnya Mengajarkan Adab dan Etika Kepada Anak

Tak pelak, perlakuan timpang kerap didapat waria yang ingin mengenal agama lebih dekat. Padahal mereka tak ubahnya manusia norma lainnya yang membutuhkan siraman rohani. Mereka juga ingin mengenal Tuhan lebih dekat, tapi sayangnya, banyak orang beranggapan bahwa Tuhan tidak layak untuk mereka. Sungguh suatu perbuatan bodoh sebab sifat Tuhan sendiri adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang―tanpa mengenal jenis kelamin.

Saya kira, Masthuriyah cukup berani menerbitkan buku dengan kondisi masyarakat yang labil dalam bersosial. Selaku pengajar di pesantren, ia berhasil menyuguhkan kisah epik, baik dari kalangan waria sebagai subjek cerita, pengalaman staf pengajar serta dawuh para sesepuh seperti Gus Mus. Tentu tak sedikit yang menghujat Masthuriyah. Hanya saja, keteguhan hati menyebabkannya bertahan meski diterpa badai.

Perjalanan Pesantren Waria sendiri penuh warna dan konflik. Pada tahun 2016, pesantren yang kini dipimpin Shinta ini terpaksa ditutup paksa. Sebuah ormas yang intoleran mengepung dan menggrebek pesantren. Penyelesaian konflik tak berjalan mulus sebab komunikasi penuh sesak akan sikap intimidasi. (Hal. 73). Padahal metode pendidikan yang ada di dalamnya adalah mengaji Alquran dan mengaji kitab kuning.

Sementara santri yang mendiami pesantren tak kalah berwarna. Hidup mereka lebih banyak menyimpan luka dan duka. Katakanlah Desi yang ditolak keluarga saat ketahuan hidup sebagai waria. Sang ibu, perempuan yang melahirkannya bahkan menyuruh Desi mati. Sontak Desi bertanya pada Tuhan, mengapa ia dilahirkan ke bumi. Mengapa tak dimatikan saja ketika ia dilahirkan sebagai waria. (Hal. 119).

Baca juga :  Ngaji Fikih Kontekstual yang Humanis Ala Gus Nadirsyah Hosen

Pesantren dan santri yang sama-sama memiliki perjalanan kelam seakan belum cukup menyeruak permukaan. Masalah mulai timbul ketika fiqh tentang waria sangatlah sedikit. Tidak banyak ulama yang membahas fiqh tentang mereka. Tentu diperlukan ijtihad dari para alim ulama akan kekosongan ini. Bukan apa-apa, waria juga manusia. Mereka berhak mengenal agama dan Pencipta. Tentu, sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, mereka berhak memahami agamanya secara lebih dekat. Ibarat orang yang hendak ingin pergi ke suatu tujuan, mereka memerlukan jalan dan alat transportasi. Sayangnya, infrastruktur ini belum terpenuhi.

Selaku pembaca dari masyarakat biasa, saya hanya mampu menitikkan air mata kala membaca kisah hidup mereka. Ah, mungkin saya terlalu cengeng. Terlalu sensitif hingga mudah menangis. Tetapi, bukan ini sebabnya. Saya menitikkan air mata sebab saya tak mampu membayangkan hidup dengan memiliki takdir seperti mereka. Hidup dengan luka tiap hari, dan baru berhenti kala mati.

Akan tetapi, saya kira terdapat hal positif yang dapat dipetik, yakni, kedekatan pada Tuhan. Saya yakin, dengan segenap perlakuan diskriminasi dan intimidasi dari masyarakat, hidup yang penuh luka akan memudahkan mereka ‘curhat’ kepada Dzat Mahaagung.

There is 1 comment for this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *