Menjadi Guru Pembelajar di Era Pandemi

Era pandemi menuntut pembelajaran berbasis daring untuk menghindari penyebaran virus korona melalui kerumunan di sekolah. Guru era ini harus menguasai keterampilan pembelajaran berbasis digital.

Karena itu, guru harus memiliki jiwa pembelajar sehingga selalu siap menghadapi perubahan zaman dan perkembangan pengetahuan baru. Guru pembelajar akan menjadi guru yang efektif. Guru pembelajar bisa tumbuh karena sifat bawaan guru sendiri atau dari sekolah yang pembelajar di mana kepala sekolah sebagai kuncinya.

Guru Pembelajar

Guru belajar secara mandiri dan kelompok untuk menguasai kompetensi mengajar daring. Mereka ikut seminar dan pelatihan tentang PJJ berbasis digital. Guru-guru juga belajar bersama melalui kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Kelompok Kerja Guru (KKG), dan Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis (APKS) PGRI. Narasumbernya dari guru atau dosen.

Ragam perkumpulan guru itu telah menjadi wadah guru berbagi pengetahuan dan keterampilan baru. Tujuannya memastikan guru-guru terampil dalam PJJ. Prinsipnya dari guru untuk guru. Guru saling menguatkan dan saling mencerahkan satu sama lain. Sambil mengajar, guru belajar keterampilan-keterampilan baru. Era pandemi menghidupkan makna aneka perkumpulan guru tersebut.

Guru pembelajar merupakan guru yang selalu belajar dan mengembangkan potensi dirinya dan kapasitasnya sebagai seorang guru yang profesional. Pengembangan kapasitas guru sebagai guru pembelajar dapat dilakukan melalui strategi penerapan pembelajaran organisasional (organizational learning) di sekolah hingga terwujudnya sekolah sebagai organisasi pembelajar.

Kepala Sekolah

Kepala sekolah juga mengambil inisiatif pelatihan internal guru dan staf dalam hal keterampilan PJJ. Memastikan bahwa semua guru di sekolahnya siap dan terampil melaksanakan PJJ. Dengan demikian siswa tetap terlayani dengan baik. Keberhasilan PJJ era pandemi ini tergantung kepada kepemimpinan kepala sekolah

Kepala sekolah juga melakukan supervisi PJJ secara rutin untuk perbaikan PJJ berikutnya. Tujuan supervisi PJJ adalah memberikan saran-saran atas kelemahan-kelemahan PJJ setiap guru baik aspek materi, metode, media, maupun penilaian. Hasil supervisi ditindaklanjuti dalam bentuk diskusi rutin guru dengan kepala sekolah.

Guru Efektif

Guru efektif mampu mengatasi perbedaan kecerdasan siswa yang beragam dengan menghadirkan metode pembelajaran yang menyenangkan.

Kemampuan guru merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran dengan jelas juga sangat penting. Selain persiapan mengajar, guru juga harus memiliki kepercayaan diri yang kuat bahwa ia akan mampu mengajar dengan baik meskipun melalui PJJ. Model mengajar yang mungkin belum pernah mereka lakukan sebelumnya, termasuk bagi siswanya.

Memanfaatkan Waktu Luang

Ciri guru pembelajar adalah memanfaatkan waktu luang untuk berkarya. Misalnya menulis pengalaman mengajar selama pandemi atau PJJ, mengikuti lomba-lomba menulis, dan mengumpulkan tulisan-tulisan untuk dijadikan buku. Pandemi memberikan manfaat bagi guru untuk lebih produktif karena memiliki banyak waktu luang. Referensi bisa didapatkan dari google books, sinta, dan media daring. Hasil riset akademisi Indonesia dapat mudah diakses melalui laman jurnal secara gratis tanpa proses administrasi yang rumit.

Penutup

Kunci peningkatan kompetensi guru adalah guru itu sendiri yang berjiwa pembelajar dengan pemanfaatan internet dan pelatihan-pelatihan secara daring. Kunci lainnya adalah dorongan kepala sekolah melalui pelatihan-pelatihan untuk guru-guru dan supervisi PJJ. Kepala sekolah juga memastikan kelengkapan fasilitas PJJ seperti internet dan laptop guru dan siswa. (AL)

 

Tulisan ini adalah rangkuman dari diseminasi penelitian Jejen Musfah yang diterbitkan Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama Tahun 2020.

Ilustrasi: DetikNews

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.