Menua

Timeline Facebook saya beberapa hari ini dipenuhi oleh foto orang—bermuka—tua. Tentu saja saya punya teman dunia maya yang telah berusia senja, dan semuanya sengaja saya add. Di antaranya adalah professor, penulis, dosen, guru-guru, yang semuanya aktif menulis dan membagikan kabar-kabar menarik.

Namun yang saya sitir sebetulnya bukan mereka-mereka itu, melainkan teman seumuran, lebih muda, dan bahkan sedikit lebih tua dari saya.

Mereka ramai-ramai menggunakan Faceapp—sebuah platform yang dapat mengubah dan mengedit bentuk wajah penggunanya semau yang diinginkan. Faceapp dapat mengubah wajah penggunanya agar terlihat lebih muda, tirus, bontot, brewokan, dan tentu saja: tua.

Setelah foto asli itu selesai diedit menjadi tua, mereka mengunggahnya. Tentu dengan cepat tanggapan bermunculan. Mereka tertawa melihat wajah yang mengeriput, rambut memutih, dan bibir yang mengerut.

Yang tidak kalah menarik, adapun yang memberi beberapa kalimat penanda “Jika wajahku nanti akan seperti ini di kemudian hari, apakah kau akan tetap mencintaiku?”. Kata beberapa orang yang keki melihatnya “Sosmed terasa seperti panti jompo”.

Tapi, apakah memang menjadi tua itu semudah menggeserkan jari, membuat pilihan-pilihan, mengunggah, memberi caption, lalu menertawakannya? Saya kira juga tidak.

Kita sedang memasuki sebuah era yang serba “melampaui”. Perkembangan teknologi mutakhir di abad ini, khususnya dalam tekonologi simulasi, memang telah mengubah cara pandang manusia terhadap kenyataan sekitarnya. Lewat kemampuan teknologi menciptakan “realitas yang melampaui”, persepsi orang-orang bergerak dari realitas “asli” menuju realitas “bentukan” yang melebihi keadaan fisiknya saat ini.

Jean Baudrillard, seorang filsuf kontemporer Perancis menyebut keadaan ini sebagai “hyperealitas”. Di dalam Simulations (1983), Baudrillard menyatakan bahwa perkembangan teknologi simulasi telah berhasil membawa masyarakat kontemporer pada sebuah kondisi, di mana realitas telah diambil oleh bentuk-bentuk simulasi realitas.

“Teknologi,” ujar Baudrillard, “telah menciptakan model-model realitas, yang tidak ada sama sekali dengan referensinya yang asli: hyper-real”. Akibatnya, fantasi, mimpi, dongeng, fiksi, imajinasi, halusinasi—yang dulu dianggap bukan merupakan bagian dari realitas—kini dapat direalisasikan menjadi kenyataan dengan bantuan teknologi.

Baca juga :  Dakwah Islam Digital di Bali

Mereka, yang sedang hingar-bingarnya menjadi tua dengan Faceapp tengah mengalami hal itu. Kegembiraan seketika memenuhi wajah orang-orang ini ketika melihat penuaan mengepung mereka.

Simulasi penuaan yang diciptakan Faceapp akhirnya melenyapkan batas antara yang benar dan salah, yang asli dan palsu, yang nyata dan imajiner. Namun mengapa orang-orang begitu kegirangan dengan hal ini? Jawabannya adalah hyperealitas itu sendiri—dengan bantuan teknologi—dapat memberi ruang agar orang-orang dapat melihat jauh ke depan, menembus ruang “penasaran” yang selama ini menyelimuti diri mereka dalam sebuah pertanyaan “Bagaimana nanti wajahku saat tua?”

Padahal, kita tahu bahwa definisi “menua” tidak semudah itu. Ada proses panjang penuh onak dan duri yang mesti dilewati. Ada harapan-harapan yang membentang sejauh ruang dan waktu yang mesti dilalui. Dan teknologi, lewat bentuk-bentuk simulasi yang dihadirkannya, takkan pernah mempu menghadirkan proses itu secara instan. Pendeknya, manusia bisa saja melihat gambaran diri mereka saat tua lewat pemindaian algoritma di dalam Faceapp, namun mereka tidak akan mampu merasakan bagaimana “menua” itu terjadi dengan penuh ketabahan.

Artinya, hyperealitas justru melemahkan makna sejati menjadi “tua”. Lalu apa sebenarnya arti menua dan menjadi tua?

Di sebuah tempat terpencil di Texas, Amerika Serikat, sebuah percakapan penting terjadi antara seorang anak muda berumur 16 tahun dan kakeknya yang berusia 83 tahun. Meski terpaut usia yang begitu jauh, keduanya berkisah tentang pengalaman hidup yang mereka lalui. Mereka lantas larut dalam percakapan intim yang mendabik-dabik. Anak itu berkata:

“Saat ini, Apple telah menciptakan robot berteknologi canggih. Namanya Siri. Ia tahu segalanya. Ketika aku bertanya tentang sejarah atau apapun yang tidak kuketahui, Siri dengan cekatan memberitahukan informasi-informasi itu tanpa sedikitpun faset (kesalahan).”

Baca juga :  Mendidik Generasi Z dan Alpha

“Nanti,” kata anak itu, “ketika aku punya cukup uang, aku akan membelinya. Menjadikannya teman ngobrol sepanjang hari.”

Kakek berusia senja itu tetap menatapnya lamat-lamat. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, melainkan tetap mendengar pernyataan-pernyataan cucunya tadi dengan hasrat yang menggebu-gebu.

“Dengan Siri, toh aku juga tidak akan pernah merasa kesepian, kesakitan. Robot adalah ciptaan yang patuh. Pindai wajahku juga akan menjadi satu-satunya kode yang akan membuatnya menuruti setiap keinginanku,” pungkas anak itu.

Tatapan sang kakek perlahan berubah. Perasaannya membiru. “Memangnya kenapa, kek? Ada yang salah dengan keinginanku untuk memiliki Siri?”, respon anak muda itu.

“Kamu memang hidup di era yang berbeda denganku, sebuah era yang diisi oleh emosi yang meletup-letup. Itu sebabnya aku ingin membiarkanmu menyelesaikan pernyataanmu. Namun demikian, tidakkah engkau ingin berpikir lagi soal impianmu itu?” balas sang kakek dengan penuh hati-hati.

Seorang anak muda tadi hidup dan tumbuh ketika Apple, salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, berhasil menciptakan Siri, sebuah robot mutakhir yang dilengkapi dengan kecakapan untuk mendengar dan melaksanakan perintah manusia. Ia membayangkan sebuah fantasi hidup yang sempurna jika ia bisa bersama makhluk prototip yang bisa menuruti seluruh kemauannya. Siri, apalagi, tidak bisa menyakitinya.

Mesin, benar, mampu menyediakan semuanya informasi yang Anda minta, seperti keluarga, orang-orang terdekat, prakiraan cuaca, populasi umat manusia, pekerjaan paling cocok dengan kepribadian Anda, bahkan terhadap kejadian-kejadian apa yang tak pernah Anda sekalipun bayangkan pernah terjadi.

Tetapi barangkali, Siri, atau apapun mesin yang ada di hadapan Anda saat ini, tidak mampu menjelaskan keterikatan-keterikatan perasaan atau sebab-sebab kausal yang membuat setiap kejadian itu terjadi.

Paling penting, mesin takkan pernah tahu apa yang Anda rasakan! Mereka tidak mengenal kebencian, perasaan cinta, memiliki, kehilangan, bahkan kebahagiaan yang pernah Anda raih dengan darah dan air mata.

Dan, sekalipun Anda berkali-kali menceritakan proses tersebut kepada mesin-mesin itu, tanggapan mereka tidak akan pernah serupa Anda menceritakan itu dengan orang lain.

Baca juga :  Perempuan dan Sains

Itu sebabnya, di akhir percakapan antara kakek dan cucunya tadi, dituntaskan dengan sebuah pernyataan menohok “Mesin-mesin yang bakal kau cintai nanti itu, tak punya empati!”. 83 tahun usia kakek tersebut telah dijalani dengan rangkaian peristiwa yang menguras air mata. Peperangan pernah mengepung dan menyudutkannya pada sebuah kepayahan sebelum benar-benar menikmati indahnya mata air kebahagiaan.

“Menjadi tua,” ujar kakek itu, “adalah sebuah proses yang dipenuhi empati, dipenuhi dengan proses-proses kehidupan yang sukar untuk dijelaskan—bahkan pada mesin-mesin yang mutakhir sekalipun!”. Teknologi, lewat ragam simulasinya sebenarnya tengah menantang kita untuk mempertanyakan kembali “nilai kemanusiaan” kita—technology challenges us to look at our human values!

Faceapp boleh-boleh saja memberikan kita gambaran, yang meskipun sekilas, bagaimana wajah kita di usia senja nanti. Namun selamanya ia tidak akan pernah menyibakkan fakta tentang bagaimana sebenarnya “menua” mesti dilewati dengan dera dan air mata.

Selamat menikmati Faceapp. Selamat menua, teman-teman!

Maaf, saya tidak ikut meramaikan. Sebab saya tahu, menua, adalah proses yang mesti dijalani dengan penuh ketabahan.

Dan jika memang harus seperti itu, agaknya, proses “menua” itu, semoga bisa saya jalani denganmu

Tabik!

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *