Menyelami Pemikiran Islam Prof. KH. Ali Mustafa Ya’qub dengan Santai

Di antara tokoh akademisi dan kiai kontemporer yang masyhur namanya meskipun sudah meninggal dunia adalah Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Ya’qub, M.A. Beliau adalah seorang pakar hadits yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Warisan besar yang ditinggalnya yakni Pesantren Darussunnah, ceramah, hingga buku-buku yang masih beredar saat ini.

Tulisan ini mencoba untuk mengulas buku berjudul Kalau Istiqamah Nggak Bakal Takut Nggak Bakal Sedih yang merupakan kumpulan ceramah-ceramah Kiai Ali Mustafa Ya’qub. Meskipun bukan beliau sendiri yang menulisnya, akan tetapi buku ini sangat menarik, ringan, enak dibaca dan layak untuk dibaca oleh semua kalangan.

Melalui buku ini, kita diajarkan untuk menjadi muslim yang kaffah (menyeluruh), konsisten dan menebarkan Islam yang damai sesuai dengan diutusnya rasul di muka bumi sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Buku ini secara garis besar berisi dua bagian. Pada bagian pertama, Kiai Ali Mustafa Ya’qub menyoroti banyak hal bagaimana caranya untuk meraih kedamaian Islam. Di antaranya yaitu terkait syirik kecil yang dilakukan terus menerus, hijrah yang niatnya bukan karena Allah.

Selain itu, penting bagi muslim untuk memiliki sifat jujur, berkepribadian istiqomah di jalan Allah, sifat yakin dan tawakal serta bagaimana menggabungkan niat dalam beribadah. Bagian ini juga mengurai tentang tiga bentuk hidayah, keutamaan 10 hari pertama bulan haji dan bagaimana mati dalam keadaan husnul khotimah.

Sebagai pakar hadits, sudah barang tentu Prof Ali Mustafa Ya’qub banyak mengutip hadits-hadits shahih dari banyak sumber. Kutipan hadits bisa dijadikan pegangan sebagai penguatan atas argumen yang dibangun dalam rangka meyakinkan pembaca.

Baca juga :  Mereguk Rasa Lewat Cerpen Pilihan #ProsaDiRumahAja Pandemi

Sedangkan di bagian kedua, buku ini menyoroti banyak hal yang sering menjadi kebingungan dan permasalahan di masyarakat. Seperti bahayanya syubhat dan syahwat, cara menyikapi kesalahan di dunia, tentang berbakti pada orangtua dan jihad, perbedaan ibadah di Makkah dan di Indonesia. Termasuk juga pemahaman tentang hadits dengan ‘illat, mengamalkan hadits sesuai kondisi masyarakat dan dakwah yang seimbang.

Salah satu  hal yang menjadi perhatian khusus ulama yang pernah menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta itu adalah bagaimana seorang muslim dalam memahami hadits Nabi. Alih-alih terdapat kelompok yang menyerukan untuk kembali pada “Al-Qur’an dan hadits”, beliau, dengan kepakarannya, malah mengajak umat untuk memahami hadits melalui ‘illat (alasan ditetapkan sebuah hukum).

Semisal terkait riwayat yang menyebutkan mengenai larangan untuk berpakaian hingga melewati dua mata kaki, sebagaimana redaksi dalam hadits berikut ini:

مَا تَحْتَ الْكَعْبَيْنِ فِى النَّارِ

Artinya: “…pakaian yang melampaui dua mata kaki maka pelakunya akan masuk neraka.”

Hal itu sudah menunjukkan larangan. Karena secara tidak langsung, barang siapa yang berpakaian melebihi kedua mata kakinya maka ia masuk neraka. Berarti kita harus pakai celana cingkrang kah?

Alih-alih menjawabnya secara langsung, Prof. Ali Mustafa Ya’qub mengajak kita untuk mengetahui dan memahami hadits melalui ‘illat hadits tentang berpakaian itu. Beliau menjelaskan bahwasanya untuk memahami hadits tersebut kita memakai metode menggabungkan atau mengumpulkan berbagai riwayat atau versi tentang satu topik hadits (hlm. 150).

Baca juga :  Risalah al-Mahidh, Kepedulian Ulama Indonesia pada Perempuan

Mengapa demikian? Sebab Rasulullah saat menyampaikan hadits kepada sahabat, lalu sahabat menyampaikannya pada tabi’in, tidak selamanya apa yang disampaikan oleh sahabat sesuai dan sama persisi seperti apa yang disampaikan oleh Nabi. Oleh karena itu, jangan heran bila ada hadits yang isinya sama tapi redaksi lafalnya berbeda.

Setelah mengumpulkan banyak hadits dari berbagai kitab yang mu’tamad (bisa dijadikan pegangan), ternyata ada riwayat lain yang menyebutkan ‘illat dari hadits tersebut. Yaitu riwayat dari Sayyidina Abu Bakar.

Dalam riwayat disebutkan bahwa Abu Bakar bertubuh kerempeng. Hal ini menyebabkan pakaian yang dipakainya kedodoran hingga menutupi mata kaki. Lalu dia bertanya pada Rasulullah, “apakah saya ini termasuk orang yang akan masuk neraka?

Di sinilah Rasulullah menerangkan ‘illat hadits tadi, “Tidak, tapi yang berpakaian melampai mata kaki, karena faktor sombong/khuyala’.” Jadi, hal yang menyebabkan orang masuk neraka itu bukan pakaiannya yang nglembreh hingga di bawah mata kaki, tapi karena sifat sombongnya.

Buku ini mengajak pembaca untuk menjernihkan pikiran serta menyelami Islam melalui kepiawaian pakar hadits Indonesia di tengah-tengah cara beragama yang semakin tercampur aduk oleh berbagai kecanggihan modernisasi. Seperti menikmati santapan yang renyah, Anda bisa membacanya tidak berurutan sesuai dengan daftar isi yang ada.

Baca juga :  Tren Hijrah Kekinian

Judul : Kalau Istiqamah Nggak Bakal Takut Nggak Bakal Sedih

Penulis : Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub, M.A.

Penerbit : Penerbit Noura (PT Mizan Publika)

Tahun Terbit : 2016

Tebal : 192 halaman

Genre : Islam Populer

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *