Kita Tercipta untuk Membaca

Menyongsong Negeri Digital

Bunyi notifikasi pesan masuk dari gawai (gadget) bersahutan di setiap ruang publik negeri ini. Bahkan, terkadang di tempat-tempat ibadah yang harusnya hening dengan menyisakan suara pengkhotbah atau lantunan ayat-ayat suci yang dibaca. Padahal plakat peringatan untuk menonaktifkannya terpampang dengan tulisan besar dan kadang sedikit bernada keras.

Kebutuhan orang akan aksesabilitas terhadap informasi terkini meningkat mendekati level primer. Muncul kekhawatiran di benak setiap masyarakat akan ketertinggalan informasi yang dapat menyebabkan mereka tertinggal dalam segala hal oleh yang lain.

Interaksi masyarakat kita dengan gawai komunikasi yang menurut beberapa survey berdurasi rata-rata 7 jam/hari. Gaya berkomunikasi digital ini menumbuhkan pola hidup baru dalam keseharian, terutama pada generasi milenial. Konten-konten yang kerap diakses pun semakin luas dan kompleks dari sekedar chatting di medsos, mengunduh film dan musik, hingga perkembangan politik terkini.

Buku dan literasi mulai sedikit ditinggalkan karena dianggap tidak menarik dan membosankan. Metode pembelajaran di sekolah yang tidak menyertakan teknologi informasi dalam aktifitasnya dianggap kurang baik dan mulai kekurangan peminat.

Kita sudah terlalu silau oleh kecanggihan teknologi yang begitu cepat berkembang dan menjejali memori otak kita. Kita tak sadar bahwa selalu ada hal-hal yang terpinggirkan dalam proses interaksi ini. Layaknya seorang pemuda yang baru jatuh cinta kepada wanita. Tentu dia akan siap mengurangi waktu berkumpul dengan kawan-kawan dekatnya dan meninggalkan segala aktivitas kesehariannya untuk dapat selalu bersamanya.

Baca juga :  Etika Pesantren dan Santri Progresif

Beda Generasi, Beda Cara

Tak ayal kondisi ini memunculkan pula jarak perbedaan antar masyarakat dalam pola berprilaku sosial di dunia maya. Hal itu dikarenakan kemampuan menerima dan mengolah setiap informasi yang didapat berbeda pada setiap orang, tergantung tingkat intelektual, wawasan dan proses digitalisasi kehidupan yang dialaminya.

Sebagaimana kita tahu bahwa generasi saat ini banyak yang tak pernah melihat sebuah mesin ketik selama hidupnya. Begitu pula generasi sebelumnya yang sulit memahami istilah dan cara kerja search engine, VPN, spam, IP, dan sebagainya. Keadaan ini semakin parah dengan berkurangnya interaksi sosial masyarakat untuk berkomunikasi secara langsung. Realitas ini barangkali karena kemudahan yang ditawarkan oleh banyaknya aplikasi dengan segala jenis platformnya yang tersedia.

Perbedaan pandangan semakin banyak dalam segala hal, terutama terhadap issue-issue terkini. Tak sedikit pula yang terjebak dalam perdebatan panas yang tak berkesudahan. Opini dengan sudut pandang berbeda seakan menjadi keniscayaan yang harus dipertahankan mati-matian. Tidak peduli meski sampai mengorbankan pertemanan, persaudaraan, bahkan rumah tangga.

Semua merasa bahwa informasi yang mereka dapat adalah yang paling benar, akurat, dan setiap yang lain juga harus menerimanya sebagai kebenaran mutlak. Setiap orang merasa menjadi sumber berita walau hanya sekedar copy paste dari yang lain, itupun tanpa mengenal si penulis secara langsung.

Akibatnya, maraklah muncul fenomena yang diistilahkan ustadz youtube, penulis facebook, politisi twitter, photographer instagram. Walaupun banyak yang berkompeten dalam bidangnya dan sangat menginspirasi, namun kadang terkontaminasi oleh hal-hal yang bersifat sampah sehingga menyulitkan awam untuk memilah mana yang layak dikonsumsi dan mana yang tidak.

Baca juga :  Generasi Muslim Milenial 4.0 dan Tantangan Masa Depan

Waspada Pihak “Ketiga”

Perilaku masyarakat ini sangat rentan dan mudah disusupi kepentingan-kepentingan pihak ketiga. Pihak inilah  menginginkan instabilitas negeri ini. Mereka memancing di air keruh melibatkan sisi emosional yang terbangun dan saling bersinggungan dalam masyarakat kita.

Di sinilah bangsa kita perlu membangun “Gugus Ketahanan informasi Nasional” dengan meningkatkan kesadaran dan kecerdasan dalam menyikapi era informasi digital saat ini. Ancaman Proxy War dengan non-state actor telah mulai kita rasakan. Hal itu sama hebatnya dengan guncangan gempa yang melanda tanah air kita akhir-akhir ini, memunculkan pertentangan yang tidak substansial dan penting, tapi mulai merontokkan rasa persatuan antar anak bangsa.

Oleh karenanya, tidaklah terlalu berlebihan jika kita mengatakan bahwa sebagian masyarakat kita merasa hidup dalam negeri digital. Apa yang mereka yakini sebagai kebenaran adalah yang berasal darinya. Entah apa saja bidangnya serta dari mana saja sumbernya. Bahkan, siap menafikan realitas yang ada di dunia nyata hanya karena tak sesuai info yang didapat, harapan dan keinginan mereka.

Merasa lebih tahu dan benar dari yang lain, sampai-sampai menolak-mentah informasi resmi dari lembaga yang memiliki legalitas dan kredibilitas yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain melanggar hukum positif, juga berpotensi menyebar disinformasi terhadap masyarakat yang berakibat negatif.

Bangsa ini menghadapi ujian yang tidak ringan di tengah menghadapi berbagai tantangan zaman. Kita dituntut untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain yang dianggap telah mendahului dalam bidang teknologi. Kita tahu mereka sebagian besar telah mengalami proses yang tak mudah ini beberapa abad yang lalu sejak mulai ditemukannya hukum gravitasi oleh Newton, yang mempengaruhi revolusi teknologi dunia.

Baca juga :  Mendidik Generasi Z dan Alpha

Saatnya untuk kita menetapkan langkah, bergandengan tangan dan belajar bersama, mengesampingkan ego pribadi dan kelompok, serta bekerja keras menuju Indonesia yang bermanfaat bagi dunia.

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *