Menyusun Kenangan

Menyusun Kenangan

kau menyusun kenangan dengan bongkah-bongkah tak terlihat

yang meluncur dari jari-jari angin, dari kejauhan, dari

rumah-rumah dan alamat yang sudah lama kau lupakan

kenangan bukan tembok bata dan kau bukan seorang tukang

yang sanggup mencipta istana permata dengan ingatan semata

tanganmu basah, kakimu terbenam lumpur, kepalamu menengadah;

dari langit utara, sebuah badai menghantammu, memorakporandakan

keping-keping kenangan yang telah kau susun penuh kepayahan

Tambun Selatan, Juni 2019.

 

Bagaimana Melewatkan Malam Bersama Orang Tercinta?

kita bisa melewatkan malam ini

dengan cerita-cerita menggidikkan

atau sekadar lelucon lama

yang tetap menerbitkan tawa

kita berbagi telinga dan mata

menggenggam tangan masing-masing

seakan terjebak dalam planet asing

kau boleh mengeluh atau menangis

mengangkat masa-masa yang sudah tenggelam

atau kecemasan akan masa depan

kau bisa tidur bersandar di bahuku

seusai letih melepas cerita

bermimpi indahlah dan jangan pedulikan gerak waktu

aku akan menyelimutimu, mengecup lembut pipmu,

berdoa dengan kata-kata yang disamarkan detak jantungmu

yang kukirim langsung ke langit dan dadamu

Tambun Selatan, Juni 2019.

 

Di Stasiun Ini, Seorang Petugas Kebersihan adalah Penghapus Kenangan Paling Hebat

di stasiun ini, seorang petugas kebersihan

adalah penghapus kenangan paling hebat

diusapnya debu pada batang-batang besi

yang menjadi saksi pertengkaran sepasang kekasih

disapunya serakan sampah di sepanjang lantai

tempat percakapan-percakapan tak selesai

dikatakannya kepada perempuan berwajah murung,

“permisi, mbak, apakah saputangan ini punya anda?”

(perempuan itu tak menyahut, berlalu, dan menyembunyikan mata)

di stasiun ini, seorang petugas kebersihan

adalah pencatat kisah paling tabah

disaksikannya pemuda-pemudi gelisah

duduk dan menunggu seseorang yang tak pernah datang

didengarnya tangis kanak-kanak dan batuk orang tua

yang mengilukan dan menyayat telinga

direnunginya baik-baik bisik lelaki muda melalui telepon,

“aku mencintaimu meski kau kereta dengan pintu tertutup.”

(telepon mati, angin bertiup, lampu kereta terlihat di kejauhan)

Tambun Selatan, Juni 2019.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.