Merayakan Waisak: Perspektif Seorang Muslim

Merayakan Waisak: Perspektif Seorang Muslim, Candi Borobudur

Hari ini, Kamis (07/05/2020) umat Buddha merayakan Hari Trisuci Waisak. Momen ini merupakan perayaan tiga peristiwa agung sekaligus. Pertama, peristiwa kelahiran Bodhisatta Siddhatta yang kemudian dikenal sebagai Buddha Gautama. Kedua, saat pencapaian Penerangan Sempurna Kebuddhaan. Ketiga, saat  mangkatnya  Buddha Gautama.

Mengutip apa yang dikatakan oleh Hasdy selaku Wakil Ketua DPD Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan bahwa tiga peristiwa agung tersebut menjadi objek penghormatan bagi umat Buddha dalam Pujabakti Waisak (Tribunnews.com, 20/5/2019).

Namun ada yang berbeda dalam perayaan Peringatan Trisuci Waisak 2564 BE tahun ini. Yah betul, hal ini disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Akibatnya perayaan Peringatan Trisuci Waisak yang biasanya digelar di Candi Borobudur dan Candi Mendut ditiadakan.

Kendati demikian umat Buddha masih dapat mengikuti perayaan tersebut secara daring atau melalui siaran televisi di rumah masing-masing. Kesederhanaan ini tentu sama sekali tidak mengurangi kesucian dan kekhidmatan perayaan Peringatan Trisuci Waisak.

Pada momen perayaan Peringatan Trisuci Waisak 2564 BE tahun ini pihak penyelenggara mengusung tema “Mawas Diri dan Toleransi Jaga Keharmonisan Bangsa”. Diharapkan dengan tema tersebut umat Buddha di seluruh Indonesia mematuhi imbauan pemerintah yakni untuk tidak mengadakan kegiatan yang menyebabkan berkumpulnya massa dalam jumlah banyak di tempat mana pun sembari terus menyemai bibit-bibit toleransi guna mewujudkan keharmonisan bangsa.

Baca juga :  Tentang Hidup dan Setelahnya

Pesan tersebut tentu secara spesifik ditujukan kepada umat Buddha di seluruh Indonesia namun secara umum terlepas dari apa pun agamanya, perlu kita renungi bersama. Mengapa demikian? Sudah menjadi rahasia umum bahwa manusia adalah makhluk sosial. Sebuah konsep di mana masyarakat atau struktur sosial dipandang sebagai ‘organisme hidup’. Saling mengisi dan saling membutuhkan.

Menjaga Keharmonisan Bangsa

Pada tataran inilah kita perlu menjaga keharmonisan bangsa. Ini menjadi penting pasalnya  akhir-akhir ini keharmonisan kita sebagai sebuah bangsa mulai terkikis. Hanya karena perkara perbedaan pilihan politik, muncullah gesekan-gesekan dalam bentuk saling menghujat yang tidak hanya bermunculan di media sosial namun acapkali juga berlanjut di dunia nyata.

Anehnya tindakan tersebut seringkali dilakukan atas dasar membela agama. Mungkin ini yang dinamakan fanatisme berlebihan. Padahal tidak ada satu agama pun yang mengajarkan permusuhan. Apalagi sampai menumpahkan darah.

Termasuk agama Islam yang penulis anut. Kalau Guru Agung Buddha pernah berpesan bahwa berbahagialah mereka yang dapat hidup rukun, berbahagialah mereka yang dapat mempertahankan keutuhan (Dhammapada 194). Maka senada dengan hal itu, Islam dalam ajarannya mengusung konsep rahmatan lil ‘alamin sebagaimana tercantum dalam surat al-Anbiya’ ayat 107.

Merahmati berarti mengayomi, memberikan rasa aman. Tentu bukan hanya kepada sesama muslim tetapi juga nonmuslim. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk saling bermusuhan. Justru kita saling membutuhkan. Bangsa ini tidak akan maju kalau hanya diperjuangan oleh satu agama saja.

Baca juga :  Doa Ulama NU Bawa Spirit di Tengah Pandemi Covid-19

Senada dengan hal tersebut, dalam sebuat ayat disebutkan “Khalaqa al-insana min ‘alaq”. Itu adalah ayat kedua dari lima ayat dalam surat al-‘Alaq yang notabene adalah wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw di Gua Hiro’.

Mengutip apa yang dikatakan M. Quraish Shihab bahwa kata ‘Alaq secara bahasa berarti sesuatu yang tergantung, dalam konteks ini bermakna ketergantungan manusia kepada pihak lain. Oleh karena itu ia tidak bisa hidup sendiri (Tirto.id, 22/5/2018).

Kita perlu menjaga bangsa ini agar tetap kondusif. Dengan cara tidak mudah terprovokasi oleh apapun dan siapapun yang ingin memanfaatkan kemajemukan kita untuk memecah belah.

Pada momentum yang baik ini, bukan hanya umat Buddha tetapi kita semua diharapkan mampu merenungi dan mengambil inspirasi dari perjalanan hidup Bodhisatta Siddhatta Gautama. Semoga dengan perayaan Peringatan Trisuci Waisak 2564 BE tahun ini membawa keberkahan kepada umat Buddha dan  bagi seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *