Meresapi Kisah Perselingkuhan dari Sastra Jendra

Kisah Perselingkuhan dari Sastra Jendra

Isu perselingkuhan dalam rumah selalu menjadi hal yang sangat menarik. Tidak jarang, berujung pada kematian pada salah satu pihak. Baik kematian kepada pihak istri maupun suami. Bukan hanya itu, masalah perselingkuhan pun tidak hanya terjadi di Indonesia. Ada yang menarik dari  kisah tentang salah seorang pria asal Corolado. Ia telah membunuh dua orang putrinya dan istri yang sedang hamil, setelah mengakui dirinya telah berselingkuh.

Nampaknya, kisah tentang perselingkuhan tengah terjadi sejak lama. Kita perlu mengingat kisah-kisah pewayangan Ramayana, seperti kisah Rama-Sinta. Lebih tepatnya kita mengambil kisah dari Dewi Sukesi dan Resi Wisrawa.

Kisah Dewi Sukesi dan Resi Wisrawa adalah awal kisah tentang Rahwana. Jika tidak ada Kisah Dewi Sukesi dan Resi Wisrawa, tidak ada kisah tentang Rama-Sinta. Rahwana adalah putra sulung dari Dewi Sukesi dengan Resi Wisrawa.  Saat melahirkan Rahwana, Dewi Sukesi dan Resi Wisrawa sedang melakukan perjalanan panjang dengan keadaan hamil tua.

Dewi Sukesi melahirkan di gua garba, yang menjadi heran Dewi Sukesi saat melahirkan bukanlah bayi seperti biasa. Hanya segumpal darah yang menjijikan. Keadaan ini membuat Dewi Sukesi dan Resi Wisrawa sangat heran sehingga meminta bantuan Dewata tentang segumpal darah tersebut. Setelah itu, Segumpal darah tersebut menjadi bayi. Tetapi, wujud dari bayi tersebut sangat menyeramkan.

Sebelum Resi Wisrawa menikah dengan Dewi Sukesi, Resi Wisrawa menikah dengan Dewi Lokawati, putri dari  Prabu Lokawana yang juga raja Negeri Lokapala. Dari perkawinan tersebut Resi Wisrawa mendapatkan satu orang anak yang diberi nama Wisrawana atau Prabu Danapati.  Cerita tentang Dewi Sukesi, Resi Wisrawa dan Prabu Danapati pernah dibuat naskah untuk perlombaan “Festival Teater Sunda” di Bandung tahun 2014. Naskah ini berjudul Sastra Jendra.

Sastra Jendra bercerita tentang kemarahan Prabu Danapati kepada Resi Wisrawa karena telah mengambil pujaan hatinya, yaitu Dewi Sukesi. Akan tetapi, Sastra Jendra dalam cerita Ramayana yaitu sastra harjendra ningrat sebuah ilmu sakti yang dimaksud mengubah wujud raksasa menjadi manusia biasa.

Baca juga :  Daun

Dewi Sukesi sejak kecil berwujud raksesi. Dia mengingkan untuk menjadi perempuan biasa. Hingga pada akhirnya Dewi Sukesi membuat sayembara, siapa yang bisa menguraikan ilmu sastra harjendra ningrat akan menjadi suaminya.

Ternyata dalam sayembara tersebut ditambah juga dengan, setiap pelamar harus pertanding terlebih dahulu dengan Jumbumangli. Tidak disangka juga, Danapati ingin mengikutinya. Akan tetapi, Resi Wisrawa mencegahnya. Karena Ilmu tersebut sangatlah tinggi dan tidak mungkin bisa dilakukan oleh Danapati. Hingga akhirnya Resi Wisrawa yang mengikuti sayembara tersebut membawa Dewi Sukesi untuk dinikahkan kepada Danapati.

Dalam sayembara tersebut, Resi Wisrawa memenangkan sayembaranya, berhasil membuat Dewi Sukesi ke tubuh perempuan biasa. Rencana awal tentang Dewi Sukesi yang akan dinikahkan dengan Danapati, ditolak mentah-mentah oleh Dewi Sukesi. Karena dalam sayembara tersebut Resi Wisrawa yang berhasil membongkar ilmu sastra jendra ningrat.  Ditambah, perempuan bukan barang yang dengan mudah dipindahtangankan kepemilikannya kepada orang lain. Selain itu, setiap manusia mempunyai rasa cinta yang menjadi salah satu landasan perkawinan mereka.

Sementara pertempuran Danapati dengan Resi Wisrawa tidak bisa dihindari lagi. Bahkan pertempuran tersebut terjadi di alun-alun Alengkadirja dengan sangat memalukan. Hingga akhirnya Batara Narada yang bisa memisahkan keduanya dengan menceritakan bahawa garis takdir memang telah menetapkan Dewi Sukesi harus menjadi istri Resi Wisrawa.

Baca juga :  Estimasi Carok Madura

Di Madura, perempuan khususnya para gadis dikonotasikan dengan perlambang melati. Maka tak heran falsafah melati menjadi pujian bagi orang-orang tua madura dengan ucapan tuh tang malate, ta’ gegger plane ojen, ban ta; elop polana panas are. Mempunyai arti oh melatiku, yang tak gugur karena hujan dan tak layu karena panas matahari.

Akan tetapi, pada peristiwa carok tidak jarang terjadi karena perempuan. Seperti halnya pernikahan Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi bukan hanya Danapati yang tidak menyukai. Akan tetapi, Jambumangli juga tidak menyukainya. Setelah dirinya selesai membuat Dewi Sukesi menjadi seorang manusia, dirinya harus berhadapan dengan Jambumangli. Akan tetapi, Resi Wisrawa menganggap bahwa Jambumangli ingin mempertahankan harga dirinya supaya tidak diremehkan di Alengkadirja.

Apa yang ada dipikirkan Resi Wisrawa ternyata salah. Jambumangli ternyata sudah lama menyukai Dewi Sukesi. Dengan berubahnya Dewi Sukesi menjadi manusia, Jambumangli tidak bisa menikah dengan Dewi Sukesi. Padahal Jambumangli sudah lama menyukai Dewi Sukesi dan berniat menjadikannya istri.  Pertarungan Antara Resi Wisrawa dan Jambumangli ternyata tidak bisa dihindari lagi. Jambumangli mengerahkan semua kekuatannya untuk mengalahkan Resi Wisrawa. Tetapi, Jambumangli yang menjadi kalah.

Jambumangli dihajar dan dijuwing-juwing oleh Resi Wisrawa sampai tewas dalam keadaan yang tidak wajar. Sebelum mati, Jambumangli sempat mengeluarkan kutukan yang mengerikan kepada Resi Wisrawa. Sumpah ini berisi suatu hari nanti dalam sebuah perang besar akan ada anak dari Resi Wisrawa yang mati tercincang-cincang.

Baca juga :  Menggugat Nalar Pendidikan Modern

Seperti yang diderita oleh Jambumangli. Dalam carok, biasanya dipicu karena masalah sepele,yaitu bekas istri dilamar atau dikawin dengan laki-laki lain. Padahal pada prinsipnya suami Madura biasanya bersikap keras dan tegas dalam membela kehormatan dan kesudian istrinya.

Terkadang konflik antara dua orang biasanya merembet melibatkan orang lain, antar keluarga, kerabat bahkan melibatkan semua penduduk kampung. Peristiwa carok antar kampung cukup mengerikan. Di Bangkalan, carok terjadi antara penduduk Desa Bilaporag dengan penduduk Jodoh yang saling berhadapan dengan clurit di tangan.

Bahkan dalam peristiwa tersebut mengakibatkan lima orang tewas serta puluhan orang lainnya luka parah. Kejadian itu sempat menggegerkan masyarakat Bangkalan. Sehingga membuat Bupati, Polisi, Tentara dan para ulama turun tangan.  Membunuh dan terbunuh dalam perang tanding adalah wajar. Karena setiap pihak memilih cara untuk menyelesaikan konflik mereka. Meskipun demikian, masing-masing harus bersikap ksatria dan menjunjung tinggi martabatnya sebagai manusia. Dalam peperangan menyiksa terhadap musuh.

Selain itu juga, malu dan takut menyatakan cinta merupakan manifestasi rasa rendah diri yang perlu dikikis habis. Ditolak cinta oleh seseorang merupakan hal yang biasa dan jangan sampai membuat putus asa. Dunia cukup luas, masih banyak orang yang bersedia menerima untuk hidup bersama membangun keluarga.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *