Metode Pengajaran al-Qur’an Kiai Munawir Krapyak

kiai munawir

Pesantren Krapyak Yogyakarta yang Kiai Muhammad Munawir dirikan bukanlah pesantren al-Qur’an pertama di Indonesia. Beliau juga tidak menuliskan karya yang berkaitan dengan al-Qur’an. Namun demikian metode pengajaran al-Qur’an yang telah beliau terapkan dalam pesantrennya menjadi rujukan hampir seluruh pesantren al-Qur’an di Jawa. Itu sebabnya beliau mendapat julukan “Mahaguru Pesantren Al-Qur’an”.

Ada dua ciri khas pengajaran al-Qur’an oleh Kiai Munawir. Pertama, guru al-Qur’an membuat stratifikasi pembelajaran al-Qur’an menjadi tiga tahapan, yaitu membaca al-Qur’an dengan bin nadhar, bil ghaib, dan qira’ah sab’ah.

Membaca al-Qur’an dengan bin nadhar adalah membaca al-Qur’an secara fasih dan murattal (pelan dan jelas semua makhraj huruf al-Qur’an). Bil ghaib adalah menghafal al-Qur’an secara fasih dan murattal. Selanjutnya adalah menghafal tujuh macam bacaan al-Qur’an (qira’ah sab’ah). Orang yang ingin menjadi ahli al-Qur’an harus melalui tahapan-tahapan ini.

Ciri khas pengajaran al-Qur’an Kiai Munawir yang kedua adalah menekankan latihan fashahah dan murattal (membaca secara fasih dan tartil) pada bacaan surat-surat pendek. Mulai dari al-Fatihah, al-Mulk, al-Waqiah, as-Sajdah, dan al-Kahfi. Setiap orang yang belajar al-Qur’an harus melalui tahapan ini sebelum ia belajar al-Qur’an seutuhnya.

Cara Menjaga Hafalan al-Qur’an menurut Kiai Munawir

Adapun untuk menjaga hafalan al-Qur’an, Kiai Munawir melakukan tiga tahapan. Pada tiga tahun pertama beliau mengkhatamkan al-Qur’an selama tujuh hari tujuh malam. Tiga tahun berikutnya beliau mengkhatamkannya dalam waktu tiga hari tiga malam, dan tiga tahun terakhir beliau hanya butuh waktu sehari semalam untuk mengkhatamkan al-Qur’an.

Baca juga :  33 Sanad Bacaan Al-Qur’an dari Rasulullah hingga Ulama Nusantara

Kiai Munawir melampaui tiga tahapan itu dan bahkan beliau pernah mencoba mengkhatamkan al-Qur’an selama empat puluh hari tanpa henti hingga menyebabkan mulut beliau keluar darah. Dengan metode itu Kiai Munawir menghafal al-Qur’an dengan sangat kuat sehingga hafalan al-Qur’an beliau seperti “kaset” yang siap diputar sewaktu-waktu. Wallahu a’lam bis shawab.

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *