Mitera Sejati, Kitab Budi Pekerti untuk Santri karya KH Bisri Mustofa

mitra sejati

KH. Bisri Mustofa merupakan kiai kondang yang populer pada tahun 1960-an. Beliau merupakan seorang kiai yang mendirikan Pesantren Raudhatut Thalibin, Rembang yang saat ini diasuh oleh putranya, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus).

Kiai yang mendapat julukan “singa podium” itu dikenal sebagai kiai yang produktif menulis berbagai karya tulis. Ada sekitar puluhan karya tulis yang berhasil dihasilkan semasa hidupnya. Dari berbagai karya tulis tersebut, penulis hendak mengkaji syiir Mitera Sejati yang merupakan kitab budi pekerti untuk santri.

Judul lengkapnya adalah Mitera Sejati: Nerangake ing Bab Budi Pekerti. Kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa dengan aksara pegon, diterbitkan di Surabaya oleh Maktabah Muhammad Ahmad Nabhani.

Dalam versi kitab cetakan tersebut tidak ada informasi tahun penerbitan. Begitu pula dengan tahun penulisan kitab tersebut. Kitab ini terdiri dari delapan halaman yang berisi sembilan belas tema yang keseluruhan isi syairnya 109 bait.

Latar Belakang Penulisan

Sebelum masuk pada tema-tema pembahasan, KH. Bisri Mustofa memberi sedikit muqadimah tentang isi, latar belakang, serta tujuan dituliskannya kitab Mitera Sejati yang berisi sembilan bait atau syi’ir.

Latar belakang penulisan kitab ini ialah karena kegelisahan beliau saat itu yang melihat kondisi sosial masyarakatnya yang mulai kehilangan akhlak atau budi pekerti. Terutama para muda-mudi yang telah tergerus budi pekertinya akibat arus modernisasi saat itu.

Baca juga :  Desa Talun dalam Kitab Addurus al-Falakiyyah

Oleh karena itu, beliau merasa perlu menyusun kitab yang berisi tentang etika atau tata krama dalam berinteraksi dengan sesama, orang tua, guru, teman sebaya, dan yang lainnya.

Adab kepada Sesama Manusia

Dari sinilah tampak bagaimana beliau menanamkan pendidikan humanis dalam syiir tersebut. Dari tema yang pertama dibahas sudah dapat diketahui, yaitu “bab kamanungsan” (bab kemanusiaan).

Saben wong urip mesthi butuh liyan//sebab lamun ijen tamtu ora mangan

Bade dahar butuh wongkang adang sekol//wongkang nuthul lan kang nandhur lan kang macol

Nganggo klambi butuh wongkang mothongi//wongkang jahit nenun nganteh rino wengi

Mongko kudu nduwe roso kemenungsan//ojo arep urip dewe kumpul macan.

Setiap orang hidup pasti membutuhkan yang lain//karena jika sendirian tentu tidak makan

Mau makan membutuhkan orang yang masak nasi//orang yang memetik dan menanam (padi) dan orang yang mencangkul

Memakai baju membutuhkan orang yang memotong//orang yang menjahit menenun siang malam

Maka dari itu harus punya rasa kemanusiaan//jangan mau hidup sendiri berkumpul dengan harimau

Di sini beliau menjelaskan bagaimana adab yang seharusnya diterapkan oleh umat manusia yang berinteraksi dengan sesamanya. Beliau menegaskan bahwa setiap manusia tidak dapat hidup sendirian, pasti butuh dengan yang lainnya. Inilah yang dimaksud dengan makhluk sosial.

Baca juga :  Kitab Al-Ajurumiyyah yang Fenomenal dan Syarat Menjadi Ulama
Adab kepada Orangtua

Setelah secara umum menerangkan kebutuhan manusia satu dengan yang lain, beliau kemudian mengerucutkan pembahasannya pada tata cara atau adab bapak, kemudian adab kepada ibu. Kedua orang tersebut merupakan orang yang berjasa besar dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya.

Oleh karena itu, kedua orangtua mendapat tempat tertinggi yang setara dengan Tuhan. Ridha Tuhan tergantung pada ridha keduanya, dan sebaliknya murka-Nya juga tergantung pada keduanya.

Setiap hari sang ayah telah memikirkan nasib anak-anaknya, meskipun mereka payah semua itu tidak dianggapnya sebagai suatu beban. Karena tanggung jawab untuk memberi makan dan minum sang anak agar tetap hidup. KH. Bisri Mustofa menuturukan:

Mulo wajib dibekteni ojo nganti//nulayani mundak getun yen wes mati

Maka wajib berbakti jang sampai//tidak berbakti akan menyesal ketika mati

Begitu juga sang ibu, yang telah berjasa ngandut (hamil) selama sembilan bulan, melahirkan, menyusui, dan mendidik setiap siang dan malam. Terkait ibu KH. Bisri Mustofa berpesan:

Mulo siro ojo lali males budi//ojo wani mundak wani Hyang Widhi

Maka jangan lupa balas budi#jangan berani semakin berani dengan yang widhi (Allah)

Kemudian pada pembahasan selanjutnya KH. Bisri Mustofa memberikan wejangan bagaimana sikapnya rakyat terhadap pemerintah, murid dengan gurunya, dan kita dengan teman sebaya. Demikian kitab syiir ini ditulis oleh KH. Bisri Mustofa sebagai bekal para santri untuk lebih mengenal akan pentingnya budi pekerti.

Baca juga :  Kitab “Bayanullah”, Manuskrip Ajaran Tasawuf dari Pamijahan
be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *