Mitos dan Fakta di Seputar Kekerasan Seksual

Mitos dan Fakta di Seputar Kekerasan Seksual

Belum reda sedih kita setelah membaca berita mengenai NW (23), perempuan asal Mojokerto yang menenggak racun tepat di atas makam ayahnya pada Kamis (2/12) karena mengalami depresi berat akibat diperkosa pacarnya, kita kembali dibuat sedih. Seorang pengelola boarding school di Bandung memperkosa 12 santriwatinya.

Perbuatan biadab itu bahkan sudah dilakukan sejak 2016 lalu. Setidaknya delapan bayi lahir dari rahim suci santriwati-santriwati tersebut.

Korban Kekerasan Seksual Mengalami Depresi

Kekerasan seksual adalah tindakan kriminal yang bukan main-main. Semua korbannya pasti mengalami depresi. Saking besar dampak negatifnya, di antara korban kekerasan seksual itu kemudian ada yang mencoba mengakhiri hidupnya. Seperti yang dilakukan NW.

Anehnya, dengan dampak yang begitu dahsyat, hampir setiap ada kasus kekerasan seksual, bukannya berempati, di antara kita malah ada yang cenderung menyalahkan korban. Mereka biasanya menuduh para korban kekerasan seksual itu dengan tuduhan bermacam-macam.

Para korban itu, misalnya, dinilai mengenakan busana terlalu minim, sehingga memancing pelaku untuk melakukan tindakan biadabnya, dan lain-lain. Seperti kata pepatah, korban kekerasan seksual itu sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Mitos dan Fakta

Ternyata banyak “mitos” di seputar kekerasan seksual. Yulianti Muthmainnah, perempuan yang berpengalaman mendampingi korban kekerasan seksual selama bertahun-tahun, dalam Forum Group Discussion yang digelar el-Bukhari Institute pada Kamis (9/12) membeberkan mitos-mitos dan fakta di seputar kekerasan seksual.

Baca juga :  Stigma Pengidap Covid-19 dan Perempuan Korban Kekerasan

Mitos pertama, korban kekerasan seksual adalah perempuan dewasa. Fakta di lapangan ternyata menunjukkan bahwa korban kekerasan seksual adalah perempuan berbagai usia. Mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa, nenek, bahkan mayit perempuan.

Kedua, kekerasan seksual terjadi karena korban tidak berjilbab atau memakai pakaian terbuka. Ini mitos belaka, karena berdasarkan penelitian BBC (2018), saat kejadian, korban memakai celana atau rok panjang (18%), korban berjilbab ((17%), dan baju lengan panjang (16%).

Ketiga, kekerasan seksual terjadi di malam hari yang gelap. Masih berdasarkan laporan BBC (2018), perkosaan atau pelecehan seksual terjadi siang hari (35%) dan sore hari (25%). Kekerasan seksual terjadi di malam hari, dengan demikian, adalah mitos.

Keempat, korban menikmati. Mitos keempat ini bisa dibilang jahat sekali. Tidak ada korban kekerasan seksual yang menikmati. Faktanya, mereka mengalami depresi, trauma, gila, bahkan kematian.

Kelima, pelaku orang lain, tidak mungkin anggota keluarga. Ini juga mitos. Faktanya banyak kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayah kandung, ayah tiri, kakak dan adik laki-laki, paman, kakek, suami, pacar, guru, tetangga, dan lain-lain.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *