Modul Pendidikan Moderasi Beragama Indonesia

Judul Buku:     Membangun Karakter Moderat: Modul Pengetahuan Nilai-Nilai Moderasi Beragama pada Madrasah RA-MI

Editor :            M. Zainal Anwar dan Abd. Halim

Penerbit:          PKPPN IAIN Surakarta dan Direktorat KSKK Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia

Cetakan:          1,  Desember 2019

Tebal:             116 halaman

ISBN:              978-623-91227-1-3

 

Nur Tanfidiyah dalam buku Ingin Saleh Boleh, Merasa Saleh Jangan (2020) menekankan pentingnya pendidikan berkarakter dan kebangsaan sejak usia dini. Tidak hanya itu, menurutnya pendidikan harus berwawasan Pancasila dan nilai-nilai kepesantrenan agar peserta didik dapat berjiwa kebangsaan dan moderat.

Usulan itu memang penting, karena pendidikan jadi kunci kehidupan manusia ke depan. Pendidikan memiliki pintu masuk untuk mencipta anak-anak yang berjiwa cerdas, peka terhadap masalah sosial, jadi jiwa pelayan sosial dan menimbulkan sikap toleran serta menjahui kekerasan.

Kita akui, sejauh ini pendidikan kita masih jauh dari apa yang kita harapkan. Pendidikan masih meneruskan tradisi lama (monolog) dengan mempertahankan kebosanan. Kelas dikuasi guru. Peserta didik (siswa) diperlakukan bak buku kosong, tempat di mana semua ilmu pengatahuan ditulis.

Kenyataan ini semestinya menjadi acuan bagi guru dan pendidikan di Indonesia. Artinya, guru pada era kini harus melek suasana dan berjiwa responsif terhadap lingkungan kehidupan siswa. Alih-alih menyalahkan siswa, guru sebaiknya mampu menerjemahkan ajaran dengan suasana senang nan gembira dalam proses pembelajaran.

Pada sisi ini, kebuntuan perlu disibak dan perlu diarahkan. Sebab, pendidikan bukan hanya mencipta kepribadian siswa, tetapi menjadi titik masuk ideologi ekstrem, baik lewat kurikulum resmi atau tersembunyi, baik lewat program ekstra mau pun intra—yang—pada akhirnya membahayakan siswa dan kita. Di sini, guru dan pendidik perlu berpikir keras. Karena ketidaksadaran dan kekurangsadaran pada segala sesuatu menjadi pembentuk mereka sebagaimana mereka ada sekarang.

Oleh sebab itu, kreativitas mestinya menjadi dorongan bagi guru dalam berinovasi. Guru dapat menemukan ide-ide briliants untuk membantu siswa menemukan pikiran-karya orisinal yang sesuai zaman, bahkan melampaui zamannya. Agar mereka tidak mengandalkan pelatihan guru yang menjadikannya sekedar peniru, tapi mampu menghasilkan karya gemilang.

Baca juga :  Pentingnya Menjaga Lisan Orangtua Saat Mendidik Anak

Untuk itu, saya, mungkin juga Anda para pendidik di Indonesia, baik madrasah atau negeri, sangat senang dengan hadirnya buku modul Membangun Karakter Moderat: Modul Pengetahuan Nilai-Nilai Moderasi Beragama pada Madrasah RA-MI (2020) ini, yang digarap apik oleh para dosen (muda) IAIN Surakarta, yang bekerjasama dengan Pusat Kajian dan Pengembangan Pesantren Nusantara (PKPPN) IAIN Surakarta dan Derektorat KSKK Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia.

Buku modul ini, ikhtiar untuk mensosialisasikan pengatahuan skill-ability dan pengatahuan tentang moderasi beragama serta revolusi mental siswa, supaya generasi muda memiliki karakter moderat, bermental kuat, tidak muda menyerah dan optimis menghadapi tantangan zaman.

Sebagaimana kata pengantar buku ini, “serap tentang moderasi beragama dan revolusi mental ini adalah upaya untuk memperkuat karakter lembaga agar mendukung moto “Madrasah Hebat Bermartabat”. Selain itu, substansi modul ini juga agar tidak hanya memiliki ilmu dan pengatahuan yang mumpuni tetapi juga berkarakter moderat dengan wawasan kebangsaan yang kuat.

Kita bisa lihat pembabakan modul ini. Wah, ada beragam gambar-gambar lucu-lucu berwarna warni dan ada banyak ragam topik dan metode yang dihadirkan. Mulai bagaimana membangun karakter siswa yang moderat, mecintai kebangsaan, cara beragama yang santun, pengenalan menghormati sesama manusia (pluralisme), dan cara mencintai lingkungan dan bagaimana menjadi pribadi bijak dan jujur, hingga bagaimana menjadi pribadi yang kreatif, inovatif dan mandiri.

Topik pembangunan karakter moderat peserta didik yang berisi bahasan tentang silaturarahim (pembiasaan dan karyawisata), menghormati orang lain (metode bercerita dan bermain peran), hingga peduli terhadap lingkungan (metode outbond dan pembiasaan) menjadi acuan penting awal memasuki pembelajaran siswa. Sebab, penerapan pendidikan harus terhindar dari sikap yang merugikan dan membahayakan mereka. Prinsipnya, metode pendidikan bukan saja harus selalu diganti atau dijaga dari masa ke masa sampai kolot, tetapi harus dilihat dari dimensi hereustiknya, apakah pendidikan yang diberikan itu sesuai dengan minat siswa dan menyenangkan siswa.

Selama ini, secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak, metode yang dihadirkan pendidikan terlalu dikontrol oleh kekuatan guru. Akibatnya, banyak siswa yang jadi agresif, bosan, nakal, menjengkelkan dan bahkan meninggalkan wisdom-nya. Padahal, seperti isi modul ini, pendidikan harus diletakkan pada tujuan asalnya, yaitu pendidikan yang menggembirakan, suasana belajar yang senang dan sebenarnya, berdaulat, bermartabat, dan memanusiakan manusia, lewat metode bermain, berwisata, bercerita, bernyanyi dan kegiatan lainnya, seperti tertera dalam modul ini.

Baca juga :  Ini Tradisi Guru SD Zaman Old yang Perlahan Ditinggalkan

Sering kali kita salah kaprah dalam memandang siswa. Tak selalu moncernya sekolah, bermakna bagusnya sekolah. Tak selalu tingginya angka nilai bermakna tingginya kualitas siswa. Tak selalu rendahnya nilai bermakna rendahnya pengatahuan siswa dan sebagainya. Nilai tinggi tak menjamin dapat berkarya. Bahkan tingginya nilai dengan hanya mengerjakan soal lewat hafalan, tanpa melakukan kerja-kerja intelektual-religius sosial, seperti pelayan sosial, peka nasib teman, dan kehidupan dirinya sendiri untuk menaikkan daya dan mengembalikan fitrahnya sebagai manusia, yaitu mengajak diri bahagia dan orang untuk berproses bersama mencari terang masa depan.

Saya melihat permasalah ini sangat serius. Sebab, sering kali guru melihat siswa dari angka dan siapa dia, dari mana dia, bahkan melihat mereka dari cara bersenyum dan pemakaian gaun di tubuh siswa. Di mata anak, semua kehidupan adalah pendidikan. Dari situ, guru diharapkan mampu melihat pembelajaran siswa dari ragam epistemologi. Karena pengatahuan itu adalah kombinasi antara pengalaman dan pengejawantahan akal. Kalau pengatahuan siswa ada dan dikelola dengan tertib, rapi, dan dirumuskan secara baik, pasti pengatahuan siswa jadi berkembang, minimal bisa berkarya, berkompetensi dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Secara cerdas modul ini, mengarah kesana, dengan mengomodasi metode ajaran yang majemuk. Modul ini hadir ingin memberi inspirasi baru agar siswa dapat berpotensi. Misalnya lewat metode pengenalan kebangsaan (metode bercerita tentang ragam bangsa Indonesia dan metode berkreasi lewat seni yang mengacu pada kultur Indonesia, serta metode menyanyi tentang lagu-lagu keislaman yang moderat, tradisonal-nasional Indonesia dan kuis, yang bisa menarik simpati pembelajaran siswa).

Bagi saya, arah dan landasan modul itu sangat tepat, sebab ada eksplorasi yang diberikan ke siswa. Tidak dipukul rata. Semacam memberikan ruang “bebas” antara pendidik dan siswa serta lingkungan yang sama-sama akan mengeksplorasi minat (passion internal dan eksternal) untuk proses “menjadi.” Artinya, siswa dapat memilih dan mempelajari apa yang disukai, sekaligus menjadi bekal awal penemuan minat diri sejak dini.

Baca juga :  Keajaiban Rezeki Setelah Menikah

Dengan itu, proses pembelajaran siswa jadi hidup. Selain siswa, guru, masyarakat dan lingkungan menjadi terlibat dalam upaya belajar bersama dan dapat menggali potensi masing-masing. Mereka bisa peka, dapat menangkap cerita-cerita (permasalahan) masyarakat dan pengalaman dari luar. Kemudian, meraka dapat menyikapi persoalan itu dengan bakat dan minat pribadinya.

Babakan terakhir dalam buku ini adalah bagaimana menjadi manusia saleh dan kreatif. Sebagaimana kita tahu, anak adalah makhluk sarat potensi (homo potens) yang berkembang dinamis menurut kondisi lingkungan yang melingkupinya. Maka dari itu, untuk menjadi saleh, seperti tertuang dalam modul ini, pendidik harus membentuk lingkungan nyaman serta fungsional sesuai kondisi siswa. Dengan adanya lingkungan yang tenang-nyaman-bernuansa religius serta ada kecakapan dalam memodifikasi didaktik-metodik dan teknik esoteris lainnya, maka dengan sendirinya siswa menjadi pribadi santun, bijak, kreatif, inovatif dan mandiri.

Kita jangan kecolongan dalam pengelolah (modul) pendidikan. Karena kurikulum/modul jadi muara ilmu-budi lahir, dan pendidikan paling mudah untuk menanamkan ragam ideologi. Apabila sebuah modul pendidikan lepas dari nilai ke-indonesia-an dan ke-moderatan, bisa jadi itu merupakan bom waktu yang akan meledak kapan saja. Dan bom waktu itu kita rasakan akibat kecolongan di tiga dekade sebelumnya.

Kita beruntung buku modul ini lahir. Modul yang pas dan kaya metode bagi anak madrasah RA dan MI. Bukan hanya sebagai ajaran, tapi sebagai solusi dan wacana spirit menjadi insan moderat-cerdas dan meniscayakan penguatan cinta keindonesiaan. Dengan modul ini, insyaallah, bukan hanya cakap dalam kecerdasan otak, tetapi berbudi luhur, dapat meningkatkan kualitas keislaman, keimanan, keindonesiaan, dan kemanusiaan, serta menjadi rahmat bagi seluruh alam. Semoga[]

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *