Muslim Majapahit dan Muslim Demak di Bali

Selama ini pemahaman warga di Bali bahkan juga di Jawa, awal masuknya Islam di Bali berlangsung sejak zaman kerajaan Demak. Namun menurut sejarawan dari Universitas Udayana, Prof. Dr. AA Bagus Wirawan, sesuai dengan bukti sejarah menunjukkan Islam masuk di Bali telah terjadi sejak zaman Majapahit. Di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, atau tepatnya pada tahun 1380.

Konon pada tahun 1380, Prabu Hayam Wuruk menyelenggarakan konferensi kerajaan-kerajaan Vasal (Taklukan) di pusat kerajaan Majapahit di Trowulan. Penguasa Majapahit yang ada di Bali, yakni Dalem Ketut Ngelesir, saat itu berkenan hadir ke konferensi tersebut. Pada saat pulang ke Bali, Prabu Hayam Wuruk memberikan 40 (empat puluh) orang pengawal kepada Dalem Ketut Ngelesir. Dari ke-40 pengawal pemberian Prabu Hayam Wuruk tersebut, ternyata seluruhnya adalah orang muslim. Artinya, pada saat itu di Majapahit sudah terdapat komunitas Muslim, meski jumlahnya masih terbatas.

Keberadaan komunitas Muslim di Majapahit juga dapat di buktikan pada “epital” makam di Troloyo. Di situ menunjukkan, dalam makam tersebut ada nama-nama Muslim, dan dengan tulisan berhuruf Arab. Hal yang menjadi pertanyaan, mengapa yang ditunjuk pengawal Dalem Ketut Ngelesir orang-orang Muslim semua? Padahal jumlah umat Islam di pusat kerajaan Majapahit masih terbatas.

Menurut Jangka Sabda Palan, hal tersebut bukan kebetulan, tetapi memang disengaja. Jumlah umat Islam di Majapahit saat itu memang masih terbatas. Namun hubungan tokoh-tokoh Muslim saat itu dengan Prabu Hayam Wuruk amat dekat. Boleh jadi, pengiriman orang-orang Muslim sebagai pengawal Dalem Ketut Ngelesir, merupakan permintaan para Ulama, kepada Prabu Hayam Wuruk, dengan maksud untuk penyebaran Islam.

Baca juga :  Syekh Jumadil Kubro, Bapak Wali Songo Berasal dari India

Sesampainya di Bali, warga Muslim tersebut oleh Dalem Ketut Ngelesir di berikan tempat tinggal (tanah “pelungguhan”) di kampung Gelgel didekat Istana Kerajaan. Mereka hidup rukun berdampingan dengan masyarakat Bali (Hindu) dan sebagian kawin dengan wanita-wanita lokal, dan beranak-pinak.

Gelombang kedua kedatangan umat Islam di Bali Selatan terjadi pada masa Kerajaan Demak, dibawah pemerintahan Sultan Trenggono. Komunitas Muslim yang datang ke Bali adalah utusannya Sunan Ampel – untuk menyampaikan surat kepada penguasa Bali waktu itu (Dalem Waturenggong), yang saat itu Bali telah memisahkan diri dari Majapahit.

Menjelang terjadinya peperangan antara Demak-Majapahit, Sunan Ampel mengirim utusan ke Bali (Gelgel), dimana Bali saat itu telah memisahkan diri dari Majapahit. Raja Bali kala itu adalah Dalem Waturenggong, menyambutnya dengan yang baik. Utusan tersebut memberi surat dari Sunan Ampel yang isinya antara lain sebagai berikut:

Pertama, Majelis Da’wah Walisongo pada dasarnya tidak ingin terjadi konflik atas Demak dan Majapahit, karena itu Majelis Da’wah Walisongo berupaya keras agar perang tidak terjadi. Namun hal ini amat tergantung pada sikap dari Girindra Wardana (Raja Majapahit) untuk menghentikan kebijakannya yang provokatif yakni mengundang orang-orang Portugis masuk ke Jawa, yang dianggap oleh Demak akan mengganggu stabilitas kerajaan Demak.

Baca juga :  Ketika Kaum Sudra Bali Menyuarakan Kesetaraan

Kedua, Konflik Demak-Majapahit bukanlah konflik agama, tetapi merupakan perang saudara. Karena sebagian tentara Majapahit, bahkan Senopati Majapahit saat itu adalah orang Muslim, yakni Raden Husein – yang juga murid Sunan Ampel, dan merupakan mertua Sunan Kudus – yang merupakan Senopati Demak. Sementara rakyat yang mendukung Demak, tidak semuanya Muslim, ada sebagian yang masih beragama Hindu.

Ketiga, Karena itu bila konflik terjadi, Sunan Ampel berharap Bali tidak perlu melibatkan diri dalam konflik, namun lebih baik bisa menjadi pen

Keempat, Walaupun terjadi perang Demak-Majapahit, antara Bali dan Demak tetap bersaudara, karena itu Demak berupaya akan tetap menyambung persaudaraan dan persahabatan. Rombongan utusan dari Demak, merupakan bentuk persahabatan antara Demak dan Bali.

Upaya “Karnalisasi” konflik yang dilakukan oleh Sunan Ampel membawa hasil, terbukti Bali maupun Blambangan tidak melibatkan diri dalam konflik Majapahit-Demak. Bahkan sebagai bentuk persahabatan, Raja Bali (Dalem Waturenggong) mempersilahkan utusan Demak untuk menetap di Bali (tidak pulang ke Demak). Maka, ke 100 orang utusan tersebut diberikan tanah “Pelungguhan” di Kampung Gelgel, disebelah selatan Istana Kerajaan.

Maka orang-orang Muslim Demak itu akhirnya tinggal bersama dan membaur dengan komunitas Muslim Majapahit yang telah datang lebih dahulu. Antara kedua komunitas ini membaur dan kawin-mawin hingga jumlah mereka terus berkembang.

Karena populasinya semakin banyak, maka sebagian dari keturunan mereka berpindah ke Kampung Kusamba, sebuah kampung pesisir yang berada sekitar 20 km. ke arah timur Gelgel. Di kampung tersebut mereka hidup membaur dengan komunitas Muslim asal Bugis yang sebagian besar hidup sebagai nelayan. Mereka kawin-mawin dan beranak-pinak dan jumlahnya kian banyak, sehingga sebagian keturunan mereka berpindah ke Desa Toya Pakeh di kepulauan Nusa Penida.

Baca juga :  Mengenal Islam Teduh dari Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis

Hubungan antara warga Muslim dari Majapahit maupun Demak yang ada di kampung Gelgel hingga saat ini masih tetap erat. Mereka, warga Muslim memiliki Loyalitas yang tinggi terhadap kerajaan, dan turut berperan mempertahankan kedaulatan kerajaan pada masa kolonial.

Bagi Istana (Kerajaan) warga Muslim di Gelgel disebut sebagai “Nyamaselam” (saudara Muslim) yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warga lainnya. Dikampung Gelgel terdapat Masjid Al-Huda yang dibangun dizaman pemerintahan Hayam Wuruk, yang hingga kini masih berdiri tegak dan selalu ramai disaat hari Jum’at, bulan puasa, dan hari-hari besar Islam lainnya.

 

Sumber:

  1. Dhurorudin Mashad. (2014). Muslim Bali Mencari Kembali Harmoni yang Hilang. Penerbit Al-Kautsar – Jakarta.
  2. Hasil Diskusi FPSIB (Forum Pemerhati Sejarah Islam Bali) dengan Prof. Dr. AA. Bagus Wirawan di STIKOM Bali – Denpasar: tgl. 8 Nov 2019
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *