Najwa Shihab dan Persoalan Indonesia

Mata Najwa 2

Judul Buku: Mata Najwa 2

Penulis:         Najwa Shihab

Penerbit:       Lentera Hati

Cetakan:        1, 2020

Tebal:             216  halaman

ISBN:             978-602-8740-73-9

 

Dinamika dunia perempuan selalu menjadi sorotan. Apalagi ditambah jadi perempuan karir, pesohor, dan sejenisnya. Perempuan makhluk yang sekaligus menjadi harapan. Meski tak pelak kerap dilukiskan dalam dua dikotomi kontestasi antara modelis dan terbelakang. Dua pola itu tergambar pada zaman dulu hingga sekarang.

Memasuki era revolusi industri, spektrum kontestasi politik (sosial) manusia memberi panggung bagi perempuan untuk memainkan peran yang lebih luas. Salah satunya kita bisa melihat Najwa Shihab atau yang dikenal Mata Najwa. Di paggung Najwa menggetarkan suasana. Dengan sorot matanya, gestur, pilihan kata, dapat memaksa narasumber berkata semuanya. Seperti kata Surya Paloh, jika orang tak siap dengan fakta dan data, Najwa selalu bisa mengungkap dibaliknya.

Posisi Najwa selaku jurnalis televisi memberi rupa-warna baru bagi perempuan Indonesia. Perempuan yang mensyaratkan bagaimana bertahan pada idealisme, independensi dan objektivitas dalam memandang pelbagai sesuatu. Sesuatu sikap perempuan yang harus ada, tetap, dan tak boleh digadaikan.

Najwa Shihab sebagai pendiri Narasi (2017), ingin memberi program pencerah baru. Rangkaian workshop sebagai usahanya bukan hanya ingin mencari akuisisi talents, melainkan usaha memperlihatkan-pembuktian bahwa betapa banyak mutiara yang berada dan tersebar di pelosok negeri tapi tak terangkat. Melalaui media teknologi itu, Najwa ingin membawa mereka ke orbit-orbit penting di negeri ini, agar lebih berperan dan publik lebih merasakan manfaat kehadiran mereka.

Disamping ruang gerak yang luas, bertemu dengan orang baru, narasumber, pengusaha, intelektual, dan lainnya sambil mengoceh tentunya, Najwa tak melupakan luptopnya. Ia menulis berbagai tema sebagai makhadimah acara, sekaligus untuk dibeberkan ke khalayak pembaca, yang terangkum dalam buku Catatan Najwa 2.

Baca juga :  Rohani di Zaman Ramai

Seperti tulisan di sampul, catatan Najwa berisi refleksi atas isu yang dibahas di program Mata Najwa. Sebuah catatan yang ringkas, menggelitik, penuh sindiran, menohok tajam, dan memberikan ruang renung. Maka tak pelak bila Gus Mus memberi ucap, “Mata Najwa, mata bati kita.” Dan Sujiwo Tejo (budayawan/dalang) mengatakan, “Indonesia tanpa Pancasila kehilangan dasar, Indonesia tanpa Mata Najwa kehilangan pandangan.

Di buku ini segala topik ingin di beberkan. Tidak hanya urusan politik dan ekonomi, tetapi agama, budaya, pendidikan. Di tangan Najwa, masalah-masalah dipersoalkan dengan keteguhan sikap, kejelian dan narasi susunan kata-kata yang bernas serta tajam.

Di mata perempuan ini, persoalan yang tersembunyi dan terlupa itu di buka. Agar kotak pandora bangsa kita Indonesia terbuka dan orang-orang mulai sadar untuk berhati-hati, mawas diri, lalu memperbaiki. Serta, bagaimana fokus hidup negera kita lebih terarah dan bangsanya lebih tertata.

Di saat dinamika global terurai dan politik Tanah Air memanas, politisi sibuk menyimpan suara, bahkan terjebak pada kepentingan perut dengan tega memainkan politik SARA, perempuan itu teriak kencang, “hai tugas kita fokus mengurus negara. Tugas kita menjaga Indonesia. Bukan mem”basah”kan syahwat politik tahta-kuasa”. Jutaan mata munkin melihat dan mendengar jerit itu, tapi kemudian dilupakan.

Indonesia yang makin ruwet, dan bangsanya (orang-orang) kian mumet, tapi katajaman sorot mata Najwa melihat bahwa Indonesia pernah memiliki orang-orang jenius. Orang-orang gigih penuh dedikasi dan karena kegigihan-dedikasinya negara-bangsa kita jadi berdikari.

Bahkan ketika politik disadurkan ke ranah agama dan agama dibuat jalan perpolitikan untuk mendapatkan singgasana kuasa, mata Najwa menyorot ulama besar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia: K. H Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari. Tentu ada alasan, bahwa kita patut berterimakasih atau belajar dari percik pikiran-pikiran yang pernah di olahnya dan diciptakannya.

Baca juga :  Kopi: “Kepahitan” Sejarah Berlimpahan Laba

Najwa menulis: “Karena Islam memang agama mayoritas, rahmat Islam harusnya melintasi batas-batas. Islam agama yang membawa kerahmatan, yang bisa sejalan dengan nilai-nilai ke-Indonesia-an. Semangat keagamaan perlu dihidupkan, untuk menjawab problem kesejahteraan. Kyai Hasyim dan Kyai Dahlan bisa jadi panutan, tentang Islam yang hidup di tengah perbedaan. Jika perbedaan selalu disikapi dengan kekerasan, peran apa yang bisa dilakukan agama di masa depan?”

Dalam kegaduhan agama yang kadang diekspresikan dalam kerumunan-kebisingan, bahkan yang selalu dibenturkan dengan persoalan ke-Indonesiaan demi kepentingan, perempuan itu mengajak kita bagaimana mengenali kedirian leluhur Indonesia, yang sudah capek-cepek mengagas menjadi bangsa yang kuat, damai nan sentosa. Mereka mampu menembus selubung egoisme batin dan tak ingin fundamen moral dirinya terkubur oleh formalisme keagamaan apalagi politik semata. Najwa ingin mengajak kita menilik ajaran itu, supaya bisa menampakkan lahiriyah yang saleh dan mencipta atau menemukan subtansi di hulu kesadaran terluhur.

Setiap upaya pengembalaan keimanan, kita memang harus menembalkan daya kemanusiaan. Karena kemanusiaan mendahului keimanan. Semangat keagamaan harus mampu menyelam pada tafsir terdalam, bahwa kedalaman spritual adalah bagaimana bisa berkorban dalam kehidupan atas kemanusiaan. Dengan cara seperti itu, tumbuhnya gairah keagamaan pada diri seseorang, kelompok, bangsa, tumbuh pula daya asketisme (kezuhudan).

Lebih dari itu, Najwa ingin manarik kita kelembaran sejarah masa lalu. Di mana masa-masa situasi sangat ruwet  menentukan konsep negara dan dasar negara yang hampir terpecah. Beruntung kedua tokoh itu bapak pergerakan sekaligus mentor hebat yaitu Haji Agus Salim dan Kyai Haji Wahid Hasyim, bisa menemukan jalan tengah dan bisa menempatkan negara secara adil. Sekaligus bisa menempatkan agama secara pas dalam hidup bernegara.

Baca juga :  Mahasiswa dan Budaya Literasi

Najwa menulis: “Agus Salim dan Wahid Hasyim memainkan peran menentukan. Bersama-sama sukses menentukan jalan tengah, dalam arus polemik dasar negara yang bikin lelah. Jadilah pancasila yang menghargai perbedaan, fondasi bangsa yang menjungjung tinggi kesetaraan. Tugas kita merawat yang sudah terwariskan, agar Indonesia tetap besar dengan memanusiakan”.

Najwa melihat dua tokoh itu memiliki altruisme yang baik. Buah keyakinan mereka memunculkan kecintaan. Kecintaan menggerakkan pengorbanan-pelayanan. Pengorbanan mencipta kesejahteraan dan kedamaian. Sebagaimana bunyi kitab suci Al-Quran, “tidaklah beriman seseorang, hingga mengorbankan apa yang dicintainya kepada orang lain.”

Dari situ, kita selaiknya dapat memadukan antara keimanan dan pengorbanan, supaya hidup tak bergelimang keresahan dan kecemasan. Sebagaimana empat tokoh di atas, berpengatahuan mendalam soal agama dan politik, sambil berkomitmen kuat dalam kesetaraan serta ke-berbhinekaan.

Jika ingin menjaga bhineka dan menyalakan Indonesia, virus dusta perlu di matikan. Tuduhan dan prasangka yang mendahului yang nyata seperti yang dilakukan buzzerRp (bayaran), kiranya pelu dilenyapkan. Permainan informasi yang mengacak-acak kebenaran adalah pangkal dari derita rakyat. Propaganda informasi yang meracuni demokrasi, awal dari terpecah belahnya sebuah negeri. Maka benar jika Najwa mengatakan, “sudahi propaganda yang memecah belah, hoaks ialah pekerjaan para bedebah”.

Perempuan bermata tajam itu kini menanyakan, “masihkah ada ruang bagi kebenaran, saat data keras pun bisa diselewengkan?”

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *