Nasihat Gus Baha kepada Kelompok Ekstremis yang Ingin Menghancurkan Tempat Maksiat

Gus Baha

Ulama asal Kab. Rembang Jawa Tengah, KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha dalam suatu majelis pengajian yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Qur’an (PSQ) pernah menjelaskan suatu kisah dan hadis yang bisa menjadi nasihat bagi kelompok teroris-ekstremis.

Berikut keterangan Gus Baha:

Ada seorang ekstremis, singkat cerita, mau mengebom tempat-tempat maksiat. Yang maksiat ini orang-orang Islam juga.

Lalu ditanya oleh orang Islam moderat yang sholeh, “Andaikan mereka mati dalam keadaan demikian, lalu mereka ke mana?”

“Ke Neraka, karena mati dalam keadaan maksiat.”

“Apa umatnya masuk neraka itu yang diinginkan oleh Nabi?” muslim moderat tadi bertanya kembali.

Ekstremis tadi kaget. Kebetulan ini ekstremis yang masih mau mikir, “Itu bukan yang dikehendaki oleh Nabi.”

“Kalau begitu ya jangan (dibom). Kita tunggu tobatnya. Kita proses bersama, supaya mereka mau tobat. Karena umat masuk neraka adalah bukan yang dikehendaki Nabi,” kata muslim moderat.

Cerita seperti ini tentu ada padanannya (qiyas) dalam hadis shahih. Kalaupun itu dho’if, saya yakin menjadi kuat karena banyak ulama yang memfatwakan itu.

Kenapa ini saya utarakan? Karena di kota itu hadis selalu ditanyakan “shahih atau tidak”. Kadang yang bertanya juga tidak paham.

Wong tidak bisa baca kitab kok bertanya shahih atau tidak. Yang ditanya juga aneh berusaha jawab, padahal kadang tidak bisa juga.

Baca juga :  Istri Gus Baha, Putri Kiai Pesantren Sidogiri
Baca juga :  Gus Baha: Punya Istri Galak Itu Berkah, Banyak Kebaikan
Baca juga :  Alasan Gus Baha Pernah Tolak Bantuan Uang Miliaran untuk Pembangunan Pesantren
Baca juga :  Inilah Alasan Gus Baha Menolak Ditawari Gelar Doktor Honoris Causa

Dalam suatu hadis, ada cerita seorang A’rabi (الأعربي) yaitu orang yang kurang peradaban. Dia minta sesuatu pada Nabi Muhammad. Karena Nabi bukan orang kaya, sehingga beliau memberikan kepada orang tersebut. Mungkin kalau sekarang dikasih 50 ribu rupiah.

Orang A’rabi itu lalu menggerutu, “Nabi kok pelit!”. Kira-kira begitu.

Ada sahabat yang ingin mengadili A’rabi itu karena tidak terima atas sikapnya kepada Nabi.

Akhirnya Nabi memanggil A’rabi tadi ke rumahnya, lalu dikasih lebih banyak oleh Nabi.

“Kamu sudah puas?” kata Nabi.

“Sudah, ya Rasulullah,” balas A’rabi.

Hebatnya Nabi begini, “Kamu harus menjelaskan kepada semua sahabat bahwa kamu sudah puas, karena kamu tadi bicara yang bikin para sahabat kesal.”

Kalau zaman sekarang dia harus memberikan “konfirmasi”.

“Baik, ya Rasulullah,” jawab A’rabi.

Setelah A’rabi puas dan para sahabat tahu, ada pelajaran yang bisa kita ambil dari pertanyaan “puas” tadi.

Nabi berkata begini, “Perumpamaan orang ini dan aku itu seperti orang yang punya unta. Kemudian orang-orang ikut bantu menangkap. Lalu bantuan orang-orang tersebut justru menjadikan hewan tadi malah tambah lari, karena semua orang itu asing bagi hewan tersebut. Hanya pemiliknya saja yang tidak asing baginya. Lalu pemilik unta tadi berkata, ‘Sudah tidak usah membantuku. Aku lebih sayang dengan untaku’. Kemudian unta itu dipanggil lalu diambilkan rumput, terus unta tadi mau nurut.”

Baca juga :  Gus Baha: Mahar Seperangkat Alat Shalat Itu Tidak Barakah!
Baca juga :  Ngaji Gus Baha: Ini 3 Kriteria Ketika Imam Syafi'i Mencari Calon Istri
Baca juga :  Inilah Alasan Gus Baha Sebagai Ulama Tidak Punya Nomor WA
Baca juga :  Cerita Pria Jadi Mualaf Sebab Sering Dengar Ceramah Gus Baha di Youtube

Intinya apa? Kalau orang tidak bakat kiai atau bakat mengajak kepada Allah, justru malah tidak menambah orang menjadi dekat dengan Allah, karena lebih banyak emosinya dibanding teknik prosesnya.

Pelajaran kedua, saat Rasulullah berkata, “Andaikan kalian (sahabat) membunuh si A’rabi tadi dalam keadaan membenci aku, maka orang ini akan masuk neraka.”

Tapi, uniknya dalam Islam segampang itu. Ketika A’rabi tadi mencintai Nabi karena dibayar (diservis), dan itu cukup dalam Islam. Padahal mencintai Nabi karena dikasih uang. Akhirnya dia cinta Nabi, meskipun karena dikasih uang.

Jadi, intinya apa? Islam semudah itu. Menerima kebenaran karena ‘servis’ saja diterima oleh Allah. Di sini pentingnya kiai-kiai yang wasathiyah, ceria, yang gampang, karena kita tidak ingin تنفير (asing/jauh dari orang-orang sholeh).

Kita berusaha semaksimal mungkin agar mereka tobat. Semua Al-Qur’an itu لعلهم يرجعون dan لعلهم ينتهون, diharapkan mereka kembali.

Allah yang Tuhan saja yang الغني المطلق الجبار القهار kepada orang أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ (malampaui batas terhadap diri mereka sendiri) masih memanggil-memanggil untuk kembali وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ (Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya).

Allah yang Tuhan saja masih memanggil yang di luar untuk dipanggil masuk, masak kita gara-gara sholeh yang over sama orang yang sudah di dalam malah dikeluarkan. Itu kan apa-apaan!

Link Ngaji Versi Video:

Gus Baha – Nasihat untuk Ekstremis

Baca juga :  5 Quotes Gus Baha tentang Jodoh
Baca juga :  10 Quotes Gus Baha tentang Istri
Baca juga :  8 Quotes Gus Baha tentang Cinta
Baca juga :  10 Quotes Gus Baha tentang Hidup Bahagia
Baca juga :  Gus Baha Jelaskan Hukum Makan Bekicot Menurut Madzhab Syafi’i dan Maliki
Baca juga :  Gus Baha Jelaskan Maksud Hadis ‘Malaikat Tidak Akan Masuk Rumah yang Ada Anjing’
Baca juga :  Gus Baha Jelaskan Hukum Kepiting yang Dianggap Amfibi, Halal atau Haram?
Baca juga :  Gus Baha: Anjing Tidak Najis di Semua Periode, Kenapa di Indonesia Dihukumi Najis?
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *