New Normal, Ramalan Jayabaya, dan Quo Vadis Falsafah Jawa

New Normal, Ramalan Jayabaya, dan Quo Vadis Falsafah Jawa

WHO menyatakan virus corona dapat menjadi endemik seperti HIV. Virus ini diprediksi tidak akan pernah hilang meskipun antivirus ditemukan sekalipun. Dunia diminta bersiap diri untuk beradaptasi dan menyambut era “the new normal”.

New Normal belum terprediksi sebelumnya oleh ilmuwan modern. Namun dalam khazanah Jawa, dapat ditarik kesesuaiannya dengan ramalan Jayabaya. Jayabaya meramalkan akan datangnya masa yang disebut sebagai wolak waliking jaman (zaman yang terbolak balik) dan disebut sebagai kalabendu (zaman kekacauan).

Tafsir zaman tersebut  cukup mendekati dengan akan datangnya era New Normal. Rakyat pun membutuhkan spirit fundamental dalam menyongsong dan beradaptasi nantinya. Strategi budaya dapat dipertimbangkan dengan aktualisasi dan transformasi falsafah nilai-nilai budaya Jawa.

Ramalan Jayabaya

Ramalan Jayabaya atau Jangka Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang banyak dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kediri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yang dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal usul utama serat ramalan Jayabaya adalah kitab Musasar yang digubah oleh Sunan Giri Prapen.

Zaman Kalabendu menurut Jayabaya dicirikan di antaranya dengan orang mulia malah terpenjara (wong mulyo dikunjoro) dan orang yang lurus terbelenggu (wong lugu kebelenggu). Situasi sekarang dengan adanya karantina, isolasi, maupun anjuran di rumah saja menjadikan semuanya seperti terpenjara atau terbelenggu.

Ramalan selanjutnya yang bersesuaian adalah pasar ilang kumandange (pasar hilang keramaiannya).  Kondisi Pandemi Covid-19 hingga era new normal nanti memaksa pasar dan pusat perbelanjaan diatur secara ketat sehingga tidak akan bisa seramai dulu lagi.

“Wong Jawa kari separo-orang Jawa tinggal setengah. Landa-Cina kari sejodho – Belanda dan Cina tinggal sepasang”. Ramalan Jayabaya ini juga membuktikan adanya ancaman Covid-19 yang bisa menjadi bencana besar bagi kemanusiaan jika tidak ditangani dengan baik.

Baca juga :  Prof Nadirsyah Hosen: Pandemi Buka Peluang untuk Muslim Sinergikan Agama dan Sains

Jayabaya tidak lupa menasihati, meski pada zaman itu kondisinya sangat berat, namun harus tetap berusaha, serta tetap tabah dan tegar. Sebisa mungkin jangan sampai orang bertengkar (aja nganti wong kelut).  Jangan melakukan hal bodoh (jo kepranan ombyak ing zaman).

Era new normal menuntut kontribusi dan sinergi. Saran dan kritik dibutuhkan dalam skala konstruktif. Protokol kesehatan juga harus disiplin dilakukan. Nilai-nilai budaya mesti terus dijunjung tinggi dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Falsafah Jawa

Banyak nilai filosofis budaya Jawa yang dapat diinternalisasikan dalam upaya adaptasi di era new normal. Pertama, adalah Holopis Kuntul Baris. Kondisi pandemi sekarang ini membutuhkan dukungan bersama untuk bergandengan tangan. Sebagaimana filosofi Jawa Holopis Kuntul Baris yang bermakna gotong royong atau kerja sama.

Gotong royong adalah saling bahu membahu untuk mencapai suatu tujuan bersama dengan tulus tanpa kecurigaan. Dalam kondisi ini konteks gotong royong yang paling dibutuhkan adalah saling tolong menolong mencukupi kebutuhan hidup.

Kedua, cancut taliwondo.  Artinya menyingsingkan lengan baju atau bermakna bergerak dan bergegas untuk bekerja keras. Upaya melawan corona membutuhkan kerja keras, keseriusan dan sesegera mungkin. Semua pihak mesti terus bersemangat dalam berkontribusi dan bergerak sesuai kemampuannya dengan tetap mematuhi protokol pencegahan.

Ketiga, asah-asih-asuh. Falsafah Jawa Sejatining ngaurip mengajarkan prinsip asah-asih-asuh dalam perbedaan. Menurut ajaran ini, dengan adanya perbedaan maka kita dapat saling asah (belajar), asih (menyayangi), dan asuh (peduli). Dengan adaya perbedaan, kita mempunyai peluang untuk saling belajar satu dengan yang lain, saling peduli dan saling menyayangi.

Baca juga :  Labirin Karantina

Ajaran asah-asih-asuh  dapat menghindarkan orang saling membenci, saling bermusuhan dan saling menyakiti karena perbedaan. Kita harus belajar untuk saling mengisi dan bukan saling memanfaatkan perbedaan. Kita harus belajar menciptakan sinergi dari perbedaan dan bukan saling meniadakan.

Perbedaan dapat menciptakan anggapan dalam bahwa ‘saya’ adalah yang lebih baik, lebih benar, lebih cantik, lebih kaya dan sebagainya dari pada orang lain. Rasa lebih yang timbul dengan adanya perbedaan mendorong terjadinya ‘eksklusifisme’, yaitu memisahkan diri dari orang atau kelompok lain karena merasa lebih tadi. Jika eksklufisme sudah terbentuk, maka tinggal tunggu waktu untuk terjadi konflik karena eksklusifisme menciptakan kesenjangan, prasangka, kecemburuan dan kebencian.

Ajaran asah-asih-asuh dapat dipastikan akan mencegah terjadinya rasa lebih dari yang lain. Dengan demikian ajaran asah-asuh-asih juga dapat menghindarkan eksklusivisme karena perbedaan tidak mendorong terjadinya kesenjangan, prasangka, kecemburuan, dan kebencian. Yang ada hanyalah pengertian, kepedulian, dan kasih sayang.

Filosofi di atas diharapkan akan membuahkan keadaan yang toto tentrem karto rahardjo atau masyarakat adil makmur dan negara aman sentosa. Kondisi normal ini akan pulih jika pandemi Corona telah berlalu.

Aktualisasi dan Transformasi

Nilai filosofis di atas mesti diaktualisasikan dalam upaya nyata. Selanjutnya perlu ditransformasikan melalui gerakan masif agar membudaya khususnya bagi orang Jawa. Butuh dukungan semua pihak dalam melakukannya.

Publik sendiri baik individual maupun kolektif melalui lembaga atau organisasi memiliki peran strategis. Transformasi dapat dimulai dari diri sendiri, lanjut ke keluarga, sosial masyarakat, hingga kewilayahan dan kenegaraan. Transformasi digital menjadi sarana paling efektif saat ini.

Baca juga :  Pesan Gus Mus kepada Warga NU Tentang Bahaya Corona

Konten positif yang diperbanyak untuk disebarluaskan. Perlawanan terhadap konten negatif harus dilakukan bersama. Selain saling memberi dukugan spirit bangkit, aksi nyata dapat dilakukan. Di antaranya adalah gotong royong menjaga keamanan wilayah, aksi kemanusiaan kepada tetangga atau sesama yang terdampak dan mendesak.

Pemerintah mesti menunjukkan keteladanan, ketegasan dan keadilan. Jaminan kehidupan warga terdampak mesti diperhatikan dan diminimalisasi terjadinya polemik yang berpotensi konflik. Konsistensi kebijakan harus diperlihatkan agar tidak menimbulkan antipati publik.

Kebosanan dan terjepitnya publik akan mudah menyulut emosi dan perlawanan atas kebijakan jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang adil dan konsisten. Protokol, PSBB atau apapun akan sia-sia jika publik melakukan perlawanan meskipun skala kecil.

Kesuksesan aktualisasi dan transformasi nilai budaya Jawa dalam berkontribusi melawan Corona akan menjadi preseden baik secara nasional. Falsafah budaya lain dapat dioptimalkan serupa guna diimplementasikan di wilayahnya dalam adaptasi nanti menghadapi era new normal.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.