Ngaji Pasaran: Tradisi Pesantren di Bulan Ramadhan

Ketika Bulan Ramadan tiba, banyak pondok pesantren bercorak salafiyyah (tradisional) khususnya di tanah Jawa merilis jadwal pengajian kitab yang akan dikaji dan dikhatamkan dalam waktu sebulan penuh selama bulan Ramadan. Tradisi pengajian mengkhatamkan kitab selama bulan Ramadan ini biasa disebut pengajian pasaran atau dalam bahasa jawa dikenal dengan istilah ‘ngaji posonan’.

Pengajian pasaran ini sudah berlangsung sejak lama, bahkan dilakukan secara turun temurun oleh para kiai atau ulama kita dahulu. Sementara itu, kitab yang dikaji dalam pengajian pasaran ini biasanya relatif tipis, sebagai antisipasi singkatnya waktu yang ada di bulan Ramadan. Namun, ternyata ada juga sebagian pondok pesantren yang mengkaji kitab-kitab berukuran besar dan tebal seperti kitab shahih bukhari.

Momen pengajian pasaran inilah yang menjadi berkah bagi para santri, baik yang masih aktif mengaji di pondok pesantren maupun yang sudah lulus. Banyak di antara mereka yang merelakan waktu kesehariannya hanya untuk mengikuti pengajian pasaran di pondok pesantren atau rumah-rumah kiai yang mengadakan. Tradisi santri mengikuti pengajian pasaran ini memang sudah lama berlangsung. Hal ini sebagai jalan mereka mencari berkahnya para kiai dan berkahnya ilmu sekaligus berkah bulan Ramadan.

Baca juga :  Kajian Islam Via Daring: Bagaimana Kualitas Sanadnya?

Banyak diantara mereka yang jauh-jauh berangkat dari daerah asalnya hanya untuk mengikuti pengajian pasaran. Hal tersebut biasa disebut ‘Rihlah Ilmiyah’. Banyak pondok pesantren yang bahkan membebaskan para santrinya dengan meliburkan pengajian untuk mengikuti pengajian pasaran di mana mereka mau. Rihlah Ilmiyyah juga sudah membudaya di kalangan santri, sebab mereka mengaca kepada ulama dahulu yang merelakan waktunya dengan pergi ke tempat yang jauh, bahkan lintas negara hanya untuk mencari ilmu.

Dari segi waktu, pengajian pasaran yang mengejar target mengkhatamkan kitab ini dilakukan dalam seharian penuh setiap harinya dengan waktu jeda yang mungkin bisa dikatakan sangat singkat. Bisa dikatakan waktunya dari pagi bertemu pagi lagi.

Sebagai contoh, pesantren yang diasuh oleh KH.Maimun Zubair atau yang akrab dipanggil Mbah Mun, Pondok Pesantren Al-anwar yang terletak di Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pengajian pasaran di pesantren ini terbilang sangat padat.  Kurang lebih ada tiga kitab yang dikaji di pondok pesantren ini. Satu kitab diantaranya KH. Maimun Zubair langsung yang mengampunya. Satu kitab tersebut adalah Tanbih Al Mughtarin karya Syeikh Abdul Wahab Sya’roni. Sementara 2 kitab lainnya, Minhaj Al muta’alim dan Manaqib Imam Al Ghazali yang mengampunya adalah KH. Roghib Mabrur.

Baca juga :  Temu Penggerak Media Pesantren dalam Upaya Menangkal Radikalisme dan Terorisme

Betul, pengajian pasaran mempunyai waktu yang sangat padat. Biasanya dilaksanakan ba’da shalat subuh sampai jam tujuh pagi. Setelah itu ada waktu jeda sampai jam sepuluh. Dua jam sebelum dzuhur diadakan lagi sampai waktu dzuhur tiba. Setelah salat dzuhur dilaksanakan, biasanya ada jeda istirahat sampai jam satu. Setelah itu, pengajian dimulai lagi dari jam satu hingga jam tiga menjelang salat asar.

Pasca salat asar, pengajian dilaksanakan lagi dari jam empat hingga menjelang salat magrib atau waktu berbukan puasa. Terakhir, pengajian dilaksanakan lagi setelah salat tarawah sekitar jam Sembilan hingga dini hari menjelang waktu sahur. Waktu ini berlangsung setiap harinya.

Padatnya waktu pasaran tidak sama sekali membuat semangat para santri luntur. Justru sebaliknya, para santri termotivasi untuk mengejar target mengkhatamkan kitab. Rihlal ilmiyyah bagi mereka adalah suatu kesempatan langka. Sebab, pada momen seperti inilah mereka bisa bertemu dan berguru kepada kiai atau ustadz yang mempunyai keahlian atau kedalaman dalam fan ilmu tertentu yang selama ini mereka idamkan. Oleh sebab itu, kesempan ngaji pasaran ini tidak ingin mereka sia-siakan.

Bagi para santri juga, ngaji pasaran adalah suatu kegiatan ibadah yang sangat baik dan mulia. Di samping juga ibadah lainnya seperti memperbanyak membaca Al qur’an, berdiam diri di masjid (I’tikaf) dan ibadah lainnya yang biasanya digeluti selama bulan Ramadan. Sebab, ibadahnya para santri atau seorang pelajar yang sedang belajar di pesantren adalah mengaji.

Baca juga :  Refleksi Hari Santri: Benarkah Pesantren Lahir dari Tradisi Hindu?
be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *