Nilai Moderasi Beragama dalam Puisi Jalaluddin Rumi dan Sultan Walad

Jalaluddin Rumi adalah nama besar dalam dunia Islam. Ia memiliki karya-karya, seperti karya-karya puisinya. Karya puisi Jalaluddin Rumi dan Sultan Walad ternyata mengandung nilai moderasi beragama. Nilai ini tentu saja sangat penting untuk menjadi inspirasi Indonesia sebagai negara yang multikultural.

Penelitian yang dilakukan oleh Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama ini mengkaji nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama dalam karya puisi Rumi dan Sultan Walad yang ditulis dalam bahasa Yunani aksara Arab.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik. Metode deskriptif analitik adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki.

Hasil Penelitian

Di antara nilai-nilai itu adalah toleransi, dialog antar agama, multikulturalisme, dan hidup saling damai dan berdampingan dalam harmoni. Tillman (2004: 95) mengatakan bahwa toleransi adalah sikap saling menghargai dan menghormati, melalui pengertian dengan tujuan terciptanya kedamaian. Sikap ini terungkap baik secara individu atau pun kelompok.

Bisa dikatakan, toleransi adalah jalan yang dibangun untuk menuju kehidupan yang damai dan rukun. Oleh karena itu jugalah, dapat dikatakan jika toleransi adalah faktor yang paling pokok dalam upaya menciptakan tatanan perdamaian.

Pandangan dan sikap toleran ini sangat penting untuk dianut dan dijalankan khususnya dalam konteks masyarakat yang multikultural. Dengan tumbuhnya kesadaran yang toleran sejak dalam pikiran, akan melahirkan sikap yang juga toleran dalam perbuatan dan keseharian. Adanya toleransi dapat menciptakan iklim saling menghormati antar setiap kelompok masyarakat, baik etnis atau pun agama.

Ketika nilai-nilai toleransi sudah menjadi prinsip dan nilai hidup dan dijalankan oleh setiap individu dan masyarakat, maka secara otomatis hal ini akan meminimalisir terjadinya diskriminasi dan mencegah terjadinya konflik yang merupakan salah satu bencana sosial dan kemanusiaan.

Sementara itu, Fay (1996) mengartikan multikulturalisme sebagai sebuah konsep pemahaman yang mengakui dan menjunjung tinggi perbedaan dalam derajat yang sama dan tidak timpang, baik secara individu maupun secara masyarakat. Dengan pegertian ini, multikulturalisme mengisyaratkan sikap penghormatan dan pengakuan terhadap realitas keragaman budaya seperti etnik, bahasa, ataupun agama.

Dalam kehidupan masyarakat yang plural seperti Indonesia, tentu saja pandangan dan sikap multikulturalisme sangat penting untuk dimiliki setiap warga masyarakatnya. Multikulturalisme dapat membantu mewujudkan iklim kerjasama, kesederajatan dan mengapresiasi dalam realitas kehidupan yang berbeda-beda.

Dalam kehidupan masyarakat yang multikultural dan plural seperti Indonesia, wacana dialog antar agama sangat perlu untuk digalakkan. Mukti Ali (1999) mengisyaratkan jika dialog antar agama adalah upaya pertemuan antara beberapa pemeluk agama guna membicarakan, membahas, dan mendialogkan pelbagai masalah bersama, baik mengenai hal-hal yang bersifat teologis atau pun non-teologis (sosial kemasyarakatan, ekonomi, kebangsaan, dan lain-lain), dengan perbedaan pandangan untuk memahami posisi orang lain.

Rumi dan anaknya Sultan Walad telah menjadi cerminan yang utuh bagi pandangan dan sikap moderasi beragama, yang mana dari pandangan dan sikap itu dapat menurunkan beberapa pandangan dan sikap turunannya yang positif, seperti dialog antar agama, multikulturalisme dan hidup dalam harmoni.

Sikap dan pandangan tersebut dapat ditelusuri melalui biografi kehidupan mereka yang penuh dengan keteladanan dan inspirasi, juga melalui karya-karya mereka yang sarat akan ketinggian nilai dan pemikiran.

Ada tiga hal yang dapat menjadi cerminan sikap dan pandangan moderasi beragama dari Rumi dan Sultan Walad yaitu; pertama, interaksi Rumi dan Sultan Walad dengan murid- murid dan kolega mereka yang berasal dari kalangan non- Muslim. Kedua, karya-karya Rumi dan Sultan Walad yang secara esensi dan kandungan banyak memuat nilai-nilai luhur toleransi dan moderasi bergama, termasuk di dalamnya adalah cinta kasih, dialog antar agama, multikulturalisme dan harmoni antar sesama.

Ketiga, adalah puisi-puisi Rumi dan Sultan Walad yang ditulis dalam aksara Yunani sebagai penjelmaan yang nyata dari iklim multikulturalisme dan dialog antar budaya antara Timur dan Barat, antara Islam dan Kristen.

Sikap-sikap dan pandangan pemikiran di atas jika ditanamkan dan diterapkan dengan baik pada gilirannya akan menghasilkan teciptanya iklim kehidupan masyarakat yang damai, rukun, dan harmoni. Pandangan dan sikap moderasi dalam beragama ini sangat diperlukan oleh masyarakat yang hidup dalam iklim multi-etnik dan multi-kultural seperti Indonesia, guna menjaga iklim kehidupan berbangsa dan bernegara yang berbhinneka, damai, harmonis dan terbebas dari konflik. Dengan demikian, keutuhan dan ketahanan Indonesia sebagai negara-bangsa dapat dipertahankan.

Kesimpulan

Cerminan sikap dan pandangan moderasi beragama dari Rumi dan Sultan Walad yaitu; pertama, interaksi keduanya dengan murid- murid dan kolega mereka yang berasal dari kalangan non- Muslim, karya-karya keduanya yang secara esensi dan kandungan banyak memuat nilai-nilai luhur toleransi dan moderasi bergama, termasuk cinta kasih, dialog antar agama, multikulturalisme dan harmoni antar sesama, dan puisi-puisi keduanya yang ditulis dalam aksara Yunani sebagai penjelmaan yang nyata dari iklim multikulturalisme dan dialog antar budaya antara Timur dan Barat, antara Islam dan Kristen.

*Tulisan ini adalah rangkuman dari diseminasi penelitian yang dilakukan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama tahun 2020. (MS)

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.