Nilai-Nilai Pendidikan Agama dalam Tradisi Lisan Masyarakat Berbahasa Ngapak

Tradisi lisan adalah kegiatan budaya tradisional suatu komunitas yang diuraikan secara turun temurun dengan media lisan dari satu generasi ke generasi lainnya baik tradisi itu berupa susunan kata-kata lisan (verbal) maupun tradisi lain yang bukan lisan (Sibarani dalam Endraswara, 2013: 129). Jenis tradisi lisan dapat berupa cerita maupun ungkapan seremonial dan ritual dengan uraian yang bervariasi dalam bentuk uraian genealogis, mitos, legenda, dongeng, dan cerita kepahlawanan (Sedyawati dalam Duija, 2005: 113).

Pentingnya pendidikan agama yang mempertimbangkan pendekatan kultural, selain pendekatan normatif ajaran agama, adalah sejalan dengan pandangan tokoh pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara bahwa di dalam kebijaksanaan lokal (local wisdom) telah berkembang dan terakumulasi adanya kebijakan-kebijakan pendidikan yang luhur, sehingga. dapat dijadikan sebagai sarana di dalam habitus pendidikan. (Tillar dan Nugroho, 2008: 56)

Metode Penelitian

Penelitian kualitatif ini dilaksanakan pada tanggal 15 – 29 Oktober 2020 dengan mengambil lokasi Kota/Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang penduduknya berbahasa Ngapak. Lokus penelitian terbagi dalam 2 sub kultur budaya jawa, yakni sub budaya Jawa Pesisiran Kulon dan sub budaya Jawa Banyumasan/Penginyongan. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik: Observasi, wawancara mendalam, FGD, dan studi dokumen.

Baca juga :  Penyuluhan Agama Non PNS Berperan Tingkatkan Religiositas Masyarakat Surabaya

Hasil Penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang ini menunjukkan bahwa berbagai tradisi lisan yang berkembang di masyarakat berbahasa ngapak di Provinsi Jawa Tengah memiliki nilai-nilai pendidikan agama yang penting bagi pewarisan budaya adi luhung.

Beberapa tradisi lisan tersebut antara lain: Begalan dari Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap memiliki nilai-nilai pendidikan Islam antara lain tauhid, ibadah, akhlak, dan nilai pendidikan kemasyarakatan. Nilai pendidikan tauhid yang dimaksud dalam tradisi begalan adalah berkaitan dengan rukun iman, diantaranya adalah iman kepada Allah dan iman kepada kitab-kitab Allah yang disimbolkan dengan cething.

Kemudian iman kepada hari akhir/kiamat yang disimbolkan dengan kendhil. Nilai pendidikan ibadah dalam tradisi begalan, antara lain shalat (disimbolkan dengan pari), menikah karena ibadah (disimbolkan dengan kusan), etos kerja (disimbolkan dengan suluh dan budin), doa (disimbolkan dengan daun salam), dan sedekah (disimbolkan dengan uang receh).

Nilai pendidikan akhlak dalam tradisi begalan, antara lain tolong-menolong (disimbolkan dengan pikulan), membedakan baik dan buruk (disimbolkan dengan tampah dan suket), menjalin silaturahim (disimbolkan dengan tampah), hemat dan menjauhi sifat buruk (disimbolkan dengan cething dan sorok), sabar/lapang dada dan taat (disimbolkan dengan ian), rendah hati dan bijaksana (disimbolkan dengan pari), keadilan (disimbolkan dengan centhong dan ilir), berbuat baik pada orang lain (disimbolkan dengan ilir), syukur (disimbolkan dengan irus), setia (disimbolkan dengan siwur), jangan menebar fitnah (disimbolkan dengan suluh).

Baca juga :  Perkembangan Mushaf Al-Quran Cetak di Indonesia

Nilai pendidikan kemasyarakatan dalam tradisi begalan, antara lain kerjasama (disimbolkan dengan ciri-muthu), persatuan dan kesatuan (disimbolkan dengan sapu lidi), musyawarah (disimbolkan dengan kusan), dan gotong royong (disimbolkan dengan irus). Nilai-nilai pendidikan agama dalam tradisi seni tari Aplang dari Banjarnegara terdapat dari syair yang berasal dari kitab Al Berzanji, gerakan tari, kostum, dan iringan musiknya; Kesenian Ebeg (Kabupaten Purbalingga) sebagai sebuah seni pertunjukan yang di dalamnya syarat dengan nilai-nilai yang adiluhung yang selaras dengan nilai-nilai pendidikan agama; Di tradisi Jamjaneng (Kabupaten Kebumen), tercermin dalam syair-syair yang dilagukan terdapat nilai-nilai pendidikan agama yaitu ketauhidan, sejarah nabi, nilai-nilai ikhlas, rukun Islam, ajaran untuk beribadah (salat, zakat, puasa). anjuran untuk berbakti kepada orang tua, anjuran untuk menuntut ilmu, serta nilai-nilai kebangsaan (Pancasila); Tradisi Mantu Poci (Kota/Kabupaten Tegal) memiliki nilai Doa, persaudaraan (silaturahmi) dan keterbukaan (moderasi) di kalangan masyarakat; Legenda Penggarit (Kab. Pemalang) memuat lesson learnt terkait dengan pendidikan agama Islam, baik masalah keimanan (ketauhidan), ibadah, dan muamalah (akhlaqul karimah); dan tradisi Wayang Golek Cepak (Kabupaten Brebes) secara komprehensif dapat memiliki nilai-nilai pendidikan agama, seperti penguatan keimanan, ajaran ritual, dan penanaman nilai-nilai akhlakul karimah.

Baca juga :  Pendidikan Keagamaan pada Komunitas Generasi Milenial

Hasil penelitian selengkapnya klik di sini

Gambar ilustrasi: Brilia Agung

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.