Nilai-Nilai Sufistik dalam Drama Korea

Annyeong haseyo… Apa yang terlintas pertama kali dibenak Anda ketika mendengar Korea Selatan? Paling tidak 75% remaja dan orang dewasa awal (generasi milenial) cenderung akan menjawab musik dan serial drama Korea. Karena, berdasarkan survei yang rilis oleh sebuah situs Wow Keren pada 2019 menyebutkan, Indonesia menempati urutan ke-2 sebagai penggemar K-pop terbesar di dunia yang diperoleh melalui data penikmat Youtube.

Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa Korea Selatan sudah ‘menghipnotis’ penduduk Indonesia terutama melalui media sosial. Tidak heran, arus gelombang Koreanisasi ke berbagai negara di dunia ini dikenal dengan istilah Korean Wave.

Candu Drakor dan K-Pop

Sejak masa pandemi Covid-19 ulasan mengenai Korea Selatan menjadi sangat menarik, penggemar Drama Korea (Drakor) atau musik K-pop meningkat pesat. Pemicu terbesar hal ini terjadi adalah karena corona virus memaksa banyak orang untuk melakukan berbagai kegiatan di rumah. Sehingga memiliki banyak waktu untuk bersantai sambil menonton Drakor atau mendengarkan K-pop. Tak sedikit yang awalnya iseng kini jadi ‘kecanduan’ aksi para Oppa Korea tersebut.

Di sinilah Drakor memainkan perannya dengan apik. Melalui alur cerita yang beragam, Negeri Ginseng ini mampu membangkitkan rasa penasaran penikmat film. Selain itu, elemen penyempurna Drakor juga sangat mendukung seperti para aktris dan aktor yang rupawan. Genre drama yang ditawarkan pun sangat banyak. Ada yang berjenis action, psikologi, romansa, kehidupan sekolah, keluarga, bahkan hingga percaturan politik.

Fenomena merebaknya pemuja drakor di Tanah Air sangat luar biasa. Penonton drakor tidak mengenal usia dan latar belakang, bahkan kaum Hawa (teteh-teteh, mbak-mbak, emak-emak), disebut-sebut sebagai penonton yang paling mendominasi di banding kaum Adam. Tak pelak, belakangan drakor menimbulkan pro kontra, terutama ketika dihadapkan dengan hukum-hukum agama.

Drakor dan Sufisme

Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, banyak genre film khususnya Drama Korea (Drakor) ternyata mengandung pesan berupa nilai-nilai kehidupan. Pada konteks ini, jika ditilik dari kacamata ilmu Tasawuf, setidaknya kita dapat menemukan nilai-nilai sufistik yang terkandung dalam Drakor. Kok bisa? Mari simak ulasan berikut ini.

Dalam Tasawuf, nilai sufistik bisa disebut dengan maqamat; tangga spiritualitas yang harus ditempuh oleh salik. Ia adalah seorang hamba yang menapaki jalan untuk mencapai tingkatan yang paling tinggi, yakni Rabb.

Kata tasawuf bisa disederhanakan maknanya dengan akhlak terpuji. Tidak melulu membahas perihal akhirat, atau hubungan antara hamba dan Tuhan. Ilmu Tasawuf justru mengajarkan bagaimana caranya menjalani hidup di tengah dunia yang sibuk dengan gaya hidup materialisme. Tujuannya antara lain agar hati dan jiwa tetap terjaga keautentikannya sesuai dengan fitrah manusia yang mulia.

Beberapa nilai-nilai sufistik di antaranya adalah tawakal, sabar, dan mahabbah (cinta). Tentunya nilai-nilai ini tidak hanya kita jumpai dalam masyarakat Islam saja, tetapi terdapat juga dalam kehidupan non muslim dengan sebutan “akhlak terpuji”.

Tawakal dan Mahabbah

Sebut saja satu contoh drama korea yang mengandung nilai-nilai sufistik dalam alur ceritanya adalah “Itaewon Class”. Drama ini mengangkat cerita tentang seorang pemuda mantan narapidana yang hidupnya menjadi kacau setelah ia dikeluarkan dari sekolah karena berkelahi dengan teman sebayanya. Kemudian ayahnya pun terbunuh dalam sebuah kecelakaan.

Semenjak kejadian ini, dengan keadaan yang kurang beruntung dari segi finansial pemuda ini bertekad untuk menjadi orang yang sukses. Tekad ini dibuktikan dengan membuka usaha kuliner restoran.

Drama ini menawarkan jalan cerita yang sangat complicated dengan menyuguhkan lika-liku cerita tentang keluarga, persahabatan, romansa, dan konflik kehidupan. Cerita yang diangkat sangat mengedepankan sisi kerja keras dari seorang pemuda dalam menjalankan bisnis kulinernya.

Kerja keras bermakna tetap bertekad kuat meskipun jatuh bangun merintis usaha agar tetap berjalan dan menjadi lebih baik. Hingga akhirnya hasil kerja keras tersebut membawanya pada tatanan hidup yang sejahtera.

Dalam dunia sufisme, kerja keras ini pun menjadi salah satu sikap yang harus terus diasah. Hal ini karena menjadi jembatan penting antara hubungan hamba dengan Tuhannya, disebut dengan “tawakal”.

Hanya saja perbedaannya adalah dalam Tasawuf tempat tumpuan akhir seorang hamba jelas adalah Allah sebagai penguasa dan penentu takdir yang sesungguhnya. Sedangkan pada drama ini berimplikasi terhadap efek secara langsung dari hasil berusaha.

Selain itu, melalui drama korea ini kita menemukan pesan kehidupan tentang cinta (mahabbah). Dengan adanya cinta, mampu meluluhkan sisi kelemahan yang dimiliki oleh manusia yang diklaim sebagai pengganggu dalam berkembang dan membuang rasa egois yang berlebihan dalam diri. Dalam tasawuf, hal ini termasuk kategori penyakit hati.

Nilai ini terekspresi dengan jelas dalam adegan dimana pemuda tersebut mengalami masa sulit dalam mengelola bisnisnya sehingga berefek PHK terhadap karyawannya. Namun, karena kecintaannya kepada mereka yang telah menemani dari awal perintisan usaha tersebut, pemuda ini rela melakukan usaha yang menyusahkan dirinya sendiri dalam mencari pelanggan untuk restorannya agar karyawannya tetap bekerja.

Belajar Menemukan Nilai Kebaikan

Secara empiris, pesan kehidupan yang disuguhkan melalui drama ini sangat sinkronisasi dengan nilai-nilai sufistik yang ada dalam kajian tasawuf meski dilihat dari perspektif yang berbeda. Tetapi, perbedaan tersebut bukanlah menjadi halangan untuk tetap menemukan nilai-nilai kebaikan di manapun dan kapanpun. Karena kebaikan tidak  mengenal kasta, tingkatan sosial, perbedaan keyakinan, kelas finansial, dan tingkatan-tingkatan lainnya.

Semua orang berhak untuk mendapatkan hikmah kebaikan dan wajib menebarkan kepada sesama. Bahkan, dalam agama Hindu, seorang hamba disebut khusyu dalam beribadah ketika dia berbuat baik terhadap sesama, tidak  hanya manusia tapi juga alam semesta.

Ini contoh ulasan sederhana dari nilai sufistik Drama Korea atau Drakor. Tentu saja masih banyak Drakor menarik lain yang bisa kita temukan tidak hanya nilai sufistik, melainkan juga nilai-nilai kebaikan lainnya. GamsahamnidaWallahu a’lam.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *