Nilai-Nilai Tasawuf dalam Lirik Lagu Koplo Jawa

nilai tasawuf dalam lagu koplo jawa

Inayah Wahid dalam haul Gus Dur ke-10 di Jakarta menceritakan, ayahandanya, Alm. KH. Abdurrahman Wahid, memintanya untuk selalu mendengarkan dangdut. Karena dangdut merupakan bagian dari kanalisasi atau ruang curhat kesedihan atas berbagai penderitaan yang dihadapi rakyat sehari hari.

Dangdut sebagai musik yang disukai rakyat, bisa dijadikan sumber untuk memahami masyarakat Indonesia. Aliran dangdut yang beberapa tahun belakangan makin digemari adalah “Dangdut Koplo”.

Secara bahasa, koplo berarti edan atau gila. Dangdut koplo mencoba menjadi antitesis terhadap zaman yang dianggap “gila” waktu itu, yakni kesulitan ekonomi dan mahalnya kebutuhan sehari-hari.

Dangdut Koplo menjadi cara rakyat bereuforia untuk meredam tingkat stres masyarakat akar rumput atas dampak sosial politik saat akhir dan pasca-Orde Baru.

Salah satu unsur budaya yang kental dalam lagu-lagu koplo Jawa adalah unsur religinya. Lirik dalam lagu-lagu koplo Jawa sering kali menyiratkan doa, aduan, rasa pasrah pada Tuhan, tentang persoalan sehari-hari, utamanya persoalan asmara.

Banyak sekali nuansa tasawuf -ilmu yang mencoba menjernihkan hati dan akhlak-, yang termanisfestasi dalam lirik lagu-lagu koplo Jawa.

Nilai Tasawuf

Lirik dalam lagu-lagu dangdut Jawa memang menarik untuk dikaji. Ilham Ma’rufi dan Mulia Ardi pernah menulis Jurnal yang meneliti lirik, musik dan video klip lagu Ndas Gerih, lagu dangdut Jawa populer yang dibawakan Denny Caknan.

Mereka menyimpulkan, dalam lagu tersebut terdapat nilai-nilai budaya seperti nilai tradisi lokal, nilai persaudaraan, nilai religius, nilai estetika, dan nilai ekonomi (2021). Pada lagu-lagu dangdut Jawa yang populer lainya, saya juga mencatat terdapat nilai-nilai tasawuf dalam lirik-liriknya, antara lain:

Keutamaan Berdoa

Dalam lagu Salam Tresno ciptaan Justin Lee yang menceritakan kerinduan seseorang pada kekasihnya, terdapat lirik “Amung biso dedungo angenku nggo kowe/Hanya bisa berdoa anganku untukmu”. Kemudian lagu Kuat Ati yang menceritakan kesulitan pasangan mendapatkan restu orang tua, ada lirik berbunyi “Mugo kabeh mangestoni, katresnan iki , mugo Gusti ngijabahi/Semoga semua merestui cinta ini, semoga Tuhan menjawab doa ini”.

Baca juga :  Ketika Ibn Rusyd Menggugat Fatwa Al-Ghazali

Lagu Satru-nya Denny Caknan dan Happy Asmara, juga diawali lirik tentang doa, “Unine batin dungoku, ra luput ko jenengmu/Isi batin doaku tak luput dari namamu”.

Doa merupakan simbol ketertundukan dan kerendahhatian pada Tuhan secara intim. Dengannya, berarti kita sedang dijauhkan dari kesombongan usaha diri sendiri. Doa termasuk hal yang mulia, karena Allah Swt senang diminta oleh hamba-Nya.

Berdoa itu manifestasi kesadaran hamba akan dekatnya Sang Pencipta dan sifat Maha Welas Asih-Nya. Menunggu apa yang didoakan termasuk ibadah yang paling utama. Allah Swt dalam QS. Al-Baqarah ayat 186 berjanji menjawab doa yang diminta hamba-Nya, entah itu sesuai doanya atau rezeki lain yang lebih baik.

Untuk itu, sudah selayaknya kita mengembalikan berbagai masalah yang kita hadapi, dengan berdoa.

Hikmah Mengeluh pada Tuhan

Beberapa lirik lagu dangdut Jawa kerap kali menyisipkan kalimat-kalimat mengadu pada Tuhan, seperti lirik “Gusti kuat kuatno ati iki/Tuhan, kuat kuatkanlah hati ini” dalam lagu Gusti Kulo Los dan lirik “duh Gusti, nopo kulo diprank/Oh Tuhan, apakah saya diprank?” dalam lagu Angel yang dipopulerkan Cak Percil dan Cak Blangkon.

Dalam agama, mengeluhkan keadaan pada Tuhan itu tidak masalah. Sikap tidak terima terhadap musibah memang tidak elok, tetapi bila mengadukannya kepada Allah, itu bagus. Karena mengeluh kepada Allah itu berarti tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Hal ini sebagaimana kalimat Nabi Ya’qub yang diabadikan dalam QS. Yusuf ayat 86, saat putra-putranya hampir putus asa mencari Nabi Yusuf yang hilang. Arti penggalan ayat itu kurang lebih: Dia (Ya’qub} menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (Terjemahan Kemenag).

Belajar Sabar

Salah satu ciri manusia yang tidak merugi dalam QS. Al-Ashr yaitu orang-orang yang saling menasihati dalam kesabaran. Sabar di sini menurut para mufasir, ialah sabar meninggalkan maksiat dan dalam menjalankan perintah syariat.

Menurut Imam Al-Ghazali, sabar merupakan kebutuhan krusial seorang hamba dalam menjalani hidup. Kehidupan tidak lepas dari dua hal, perkara yang sesuai dengan hawa nafsunya dan perkara yang dibencinya, di mana kedua hal tersebut dibutuhkan kesabaran (Ihya’ Ulum ad-Din, Imam Al-Ghazali).

Baca juga :  Benarkah al-Ghazali dan al-Asy'ari Sumber Kemunduran Dunia Islam? (3)

Dalam lagu Kuat Ati, ada lirik yang menggambarkan sepasang kekasih mencoba saling menasihati soal kesabaran, “Pujaan hati, tak suwun sing kuat ati/Pujaan hati, saya minta punya hati yang kuat”. Tidak direstuinya hubungan mereka, membuat mereka mesti belajar sabar untuk meninggalkan maksiat, yakni terus berpacaran, dan sabar akan kesulitan mereka dalam keinginan beribadah, yakni menikah.

Sebagaimana hal lain, sabar dalam hubungan romansa juga bisa diambil hikmah untuk bersabar dalam cobaan yang lebih besar dimensinya, yakni yang berhubungan dengan dunia dan akhirat.

Ridho terhadap Takdir Tuhan

Lagu-lagu dangdut Jawa seperti Aku Ikhlas, Gusti Kulo Los, dan Ikhlas Ngenteni, menceritakan tentang kerelaan akan takdir hidup, yang tidak seperti yang dibayangkan dan direncanakan seseorang terhadap kekasihnya. Perjuangan mereka untuk membangun hubungan, ternyata harus berakhir dengan takdir pahit, yang dengan hebatnya mereka dendangkan kerelaan dan keikhlasan terhadapnya.

Ridho terhadap takdir Allah, dijanjikan mendapatkan ganjaran diridhoi oleh Allah. Dengan ridho Allah, tentu seseorang akan menjalankan hidup di dunia dan akhirat dengan damai dan nyaman.

Hal ini bisa diketahui dari kisah saat Bani Israil meminta Nabi Musa as. menanyakan perbuatan yang diridhoi Tuhan. Allah Swt. menjawab: Qul lahum yardhaona ‘anni hatta ardho ‘anhum. “Katakanlah pada mereka, mereka ridho terhadap-Ku hingga Aku ridho terhadap mereka” (Ihya’ Ulum ad-Din).

Tawakkal

Lirik “Gusti kulo pun manut dalane, mung Jenengan sing ngatur critane/Tuhan hamba sudah mengikuti jalan hiduh, hanya Engkau yang mengatur ceritanya” dalam lagu Satru dan lirik “Dinggo ngopo aku nggetuni, jodoh lan rejeki neng tangane Gusti/Untuk apa aku menyesali, jodoh dan rezeki di tangan Tuhan” dalam lagu Lungo’o, merupakan contoh dari bahasa tawakkal.

Baca juga :  Benarkah al-Ghazali dan al-Asy'ari Sumber Kemunduran Dunia Islam? (1)

Tawakkal membuat hamba dicukupi oleh Dzat yang ia pasrahi. Dalam QS. Ath-Tholaq ayat 2-3 dijanjikan, barang siapa yang bertakwa pada Allah akan diberikan jalan keluar dan barang siapa yang bertawakkal, akan dicukupi oleh-Nya.

Raja’/Berharap pada Rahmat Tuhan

Lagu Tepung Kanji ciptaan James AP menceritakan tentang sepasang kekasih yang tidak direstui orang tua. Namun, mereka tetap optimis dengan masa depan mereka, karena mereka berharap pada Tuhan yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.

Liriknya yaitu, “Optimis wae, Gusti mboten sare/Optimis saja, Tuhan tidak tidur” dan “Yen Gusti ngrestui, wong tuwo biso opo/kalau Tuhan sudah merestui, orang tua bisa apa”. Agama memang melarang hamba untuk berputus asa terhadap rahmat Allah.

Allah Swt. berfirman dalam hadis qudsi, “Ana ‘inda thzonni ‘abdi, falyathzun bi ma sya’a”. “Sesungguhnya Aku sesuai dengan prasangka hambaku, maka beprasangkalah terhadapku apa yang mereka inginkan.”

Bila menurut Gus Dur lagu dangdut bisa digunakan untuk memahami masyarakat, maka dari uraian nilai-nilai tasawuf dalam lagu dangdut Jawa tadi bisa disimpulkan, bagaimana masyarakat begitu mementingkan posisi Tuhan dan dekat dengan ajaran-ajaran yang dianjurkan agama, dalam menghadapi problematika mereka sehari-hari.

Para ulama bisa menggunakan lagu-lagu tersebut sebagai peranti untuk mengajarkan lebih dalam nilai-nilai tasawuf dalam meraih kebahagiaan duniawi dan akhirat pada masyarakat, utamanya pada generasi muda. Wallahu a’lam bish showab.

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.