Nissa, Perempuan Pesantren Pejuang Ketahanan Pangan

Petani adalah teman dekat Nissa Wargadipura. Nissa adalah seorang perempuan dengan latar belakang aktivis yang bergelut dalam bidang agraria, terhitung selama delapan belas tahun hidup di lingkungan advokasi isu-isu pertanian. Puluhan kasus telah menjadi warna-warni dalam hidupnya, sehingga tidak diragukan lagi kecakapannya dalam mengadvokasi kasus-kasus agraria.

Nissa selama delapan belas tahun memperjuangkan isu-isu yang berkaitan dengan isu pengembalian lahan kepada rakyat, penguasaan lahan secara penuh oleh rakyat, dan mempertahankan kesejahteraan rakyat khususnya para petani. Ia tidak berjuang sendiri, namun bersama para pejuang lainnya yang terkumpul dalam organisasi yang Nissa dirikan bersama suaminya yaitu Serikat Petani Pasundan (SPP). Nissa juga penah menjadi salah satu direktur Sekitat Petani Pasundan, tetapi sebelum berkecimpung dalam organisasi tersebut, Nissa juga pernah terlibat dalam Forum Pemuda Pelajar Mahasiswa Garut yang juga banyak membantu mengadvokasi petani.

Perjuangannya yang tidak pendek bersama para petani menjadikan Nissa memahami permasalahan-permasalahan yang dialami oleh petani itu sendiri. Pada saat acara webinar yang diselenggarakan oleh Mubadalah News Nissa mengatakan bahwa “saya hidup itu terbagi sepuluh tahun-sepupuh tahun. Sebab, sepuluh tahun di Forum Pemuda Pelajar Mahasiswa Garut, sepuluh tahun di Serikat Petani Pasundan, dan sepuluh tahun saya mendirikan Pesantren Ekologi”

Pesantren Ekologi yang didirikan oleh Nissa Wargadipura bersama suaminya adalah sebuah bentuk jalan lanjutan perjuangan yang dulu pernah ia tempuh. Pesantren ini lahir atas dasar keresahan yang Nissa dan sang suami rasakan. Nissa dan suami memiliki latar belakang yang sama yaitu sebagai aktivis yang banyak melakukan advokasi bersama petani serta pendiri organisasi Serikat Petani Pasundan (SPP). Selain itu, Sang suami Nissa adalah seorang putra dari salah satu Kiai masyhur di Kabupaten Garut. Hal tersebut adalah salah satu alasan memilih mendirikan pesantren sebagai jalan lanjutan perjuangan. Pesantren mereka dirikan memang tidak seperti pesantren pada umumnya, pesantren yang Nissa dan sang suami dirikan memiliki perbedaan atas pengaruh latar belakang yang mereka miliki.

Baca juga :  Bagaimana I'tikafnya Perempuan Saat Wabah Corona?

Pesantren ekologi ini hadir ditengah-tengah zaman modern dan nasib ketahanan pangan masyakarat kita tidak baik-baik saja. Banyak petani yang mengalami kegagalan dalam bertani, sehingga memicu goyahnya ketahanan pangan keluarganya dan masyarakat sekitar.

Pesantren ekologi lahir dengan semangat baru di tengah kemajuan teknologi dan permasalahan-permasalahan yang dialami oleh petani. Permasalahan yang dimaksud disini juga perihal tentang tujuan yang selama ini tertanam adalah tujuan untuk kebutuhan pasar bukan untuk kebutuhan keluarga secara mandiri, mindset tersebut yang sebenarnya perlahan memberikan pengaruh yang kurang baik dalam ketahanan pangan masyarakat kita.

Pesantren ekologi memiliki misi utama bertani guna pemenuhan kebutuhan keluarga atau kebutuhan setiap individu secara mandiri. Sehingga, mampu mengubah mindset bertani guna pemenuhan kebutuhan pasar. Hal tersebut dilakukan demi menciptakan ketahanan pangan yang baik dan keseimbangan ekosistem.

Santri-santri di pesantren ekologi diajari bercocok tanam secara mandiri mulai dari merawat, memanen, dan mengolah menjadi bahan pangan atau berbagai produk guna pemenuhan kebutuhan mereka di pesantren. Singkatnya, pesantren ekologi mengajarkan mengenai bagaimana cara memproduksi hingga mengonsumsi secara bijak, hal tersebut  sangat penting diterapkan untuk para santri sebab akan melahirkan generasi-generasi yang sadar akan pentingnya menjadi petani yang sadar akan keseimbangan ketahanan pangan.

Baca juga :  Kesuksesan Nyai Makkiyah As’ad Mengasuh Tiga Pesantren

Uraian di atas memberikan bukti bahwa Nissa Wargadipura melalui pesantren ekologi memiliki keinginan untuk menyebarkan pengetahuan tentang pertanian berkelanjutan yang berpandangan pada penyelematan serta keperdulian terhadap bumi, sesama dan masa depan. Selain itu, pesantren ekologi juga memiliki perpustakaan benih yang berperan sebagai sumber pengetahuan ilmu dan budidaya guna pemenuhan kebutuhan benih untuk berkebun dalam jangka panjang.

Berkat adanya perpustakaan benih, Pesantren Ekologi yang diberi nama “At Thariq” ini telah berhasil memproduksi beraneka ragam jenis tumbuh-tumbuhan. Model cocok tanam yang digunakan dalam pesantren ini adalah model polikultur. Model tersebut memberikan hasil yang cukup maksimal dan mampu menyumbangkan ketahanan pangan yang cukup baik bagi keluarga pesantren. Para santri dapat mengonsumsi berbagai hasil panen seperti umbi-umbian, pisang dan makanan pokok, perlu diketahui bahwa santri-santri persantren ekologi dapat mengonsumsi selain nasi guna pemenuhan karbohidrat. Selain itu, juga masih banyak hasil panen seperti sayuran dan hasil lain yang selanjutnya diolah menjadi suatu produk.

Hasil panen tersebut tujuan utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga pesantren. Jika ternyata hasil panennya melimpah, baru kemudian dijual guna menumbuhkan perekonomian pesantren. Konsep ketahanan pangan adalah garda depan bagi pesantren ekologi. Konsep keseimbangan ekosistem juga sangat kuat dipegang oleh Nissa, sebab menjaga lingkungan juga bagian dari tugas manusia semua sebagai khalifah fi ard.

Slogan keperdulian dan mengedepannkan keseimbangan ekosistem dalam bertani memang sangat dipegang dengan teguh oleh Nissa Wargadipura. Hal tersebut dibuktikan dengan misi dan visi pesantren ekologi “menyebarkan pengetahuan dan mencetak kader argo teknologi yang berpandangan pada penyelematan dan keperdulian terhadap bumi manusia dan masa depan”. Visi tersebut selanjutnya memberikan pemahaman bahwa ketahanan pangan dan menjaga keseimbangan ekosistem adalah dua hal yang harus diperjuangan terus-menerus guna mencapai pada titik kesejahteraan.

Baca juga :  Profil Pondok Pesantren Roudlatul Qur’an Metro Lampung

Perempuan seperti Nissa Wargadipura adalah salah satu perempuan yang bisa dijadikan panutan untuk para santri putri di seluruh nusantara. Santri tidak melulu soal belajar mengaji dan ahli kitab kuning, tetapi harus lebih dari itu. Melek teknologi, perduli pada sesama, perduli lingkungan dan banyak hal lain. melalui tulisan ini, harapannya dapat memberikan suntikan semangat Nissa sebagai perempuan pesantren yang juga membidangi hal lain yaitu isu agraria kepada para santri-santri dimanapun berada. Semoga kita semua selalu berkesempatan belajar, berkarya dan berbagi, salam untuk semua santri-santri Indonesia. Sekian.

 

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.