Nyai Aqidah Usymuni, Pejuang Feminisme Pesantren

Selama ini kita ketahui pesantren identik dipimpin oleh laki-laki (kiai). Bu Nyai hanya mendapatkan peran domestik sebagai pendamping kiai. Apabila kiai wafat maka yang meneruskan adalah anak laki-lakinya. Bu Nyai tidak bisa melanjutkan estafet kepemimpinan di pesantren.

Namun tidak demikian bagi Nyai Aqidah Usymuni. Bisa dibilang beliau adalah pejuang feminisme dalam lingkup pesantren. Nyai Aqidah Usymuni adalah pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Aqidah Usymuni Terate Pandian Sumenep Madura.

Pondok pesantren ini tidak hanya fokus pada bidang pendidikan khazanah keislaman namun juga bertujuan sebagai bidang sosial khususnya bagi perempuan yang berada di bawah garis kemiskinan dan tidak dapat melanjutkan pendidikannya.

Sebagaimana diketahui, Madura merupakan daerah yang sangat lazim menikahkan anak perempuannya di usia yang masih di bawah umur. Faktor ini dikarenakan ketidakmampuan orang tua dalam membiayai pendidikan sang anak. Di samping itu, biasanya kultur Madura yang lebih mengedepankan laki-laki daripada perempuan terutama dalam hal pendidikan.

Dari sinilah timbul inisiatif Nyai Aqidah Usymuni dalam mendirikan Pondok Pesantren Aqidah Usymuni guna memberikan pendidikan bagi kaum perempuan khususnya di lingkup pesantren. Baginya, pendidikan bukan hanya milik laki-laki namun perempuan juga memiliki hak atas itu. Sesuai anjuran Nabi Muhammad saw bahwasanya mencari ilmu itu wajib baik laki-laki maupun perempuan.

Pemberian nama pondok pesantren disematkan sesuai dengan nama beliau. Hal ini sebagai motivasi kepada anak dan cucunya kelak jika perempuan juga bisa ikut andil dalam melakukan sesuatu untuk bangsa dan negara.

Baca juga :  Teh Enung, Pejuang Perempuan dari Pesantren Cipasung
Biografi Nyai Aqidah Usymuni

Nyai Aqidah binti Usymuni bin Zainal Arifin merupakan anak bungsu empat saudara dari pasangan KH. Usymuni dan Nyai R.A. Makkiyah. Lahir pada tahun 1938 M. Beliau secara garis nasab merupakan keturunan ulama dan bangsawan.

Ayahnya adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Usymuni (semula nama pondoknya adalah Pondok Pesantren Terate). Sedangkan sang ibu, masih memiliki garis keturunan ratu Sumenep.

Nama kecilnya dipanggil Nyai Qida. Sejak usia 5 bulan, beliau telah ditinggal oleh sang Ibu untuk selamanya. Nyai Qida belajar ilmu agama termasuk belajar Al-Qur’an dari sang ayah KH. Usymuni secara langsung.

Karena sudah piatu sejak kecil, Nyai Qida selalu dekat dengan sang ayah dan tak mau berjauhan dengannya. Hingga di usiannya yang ke 7 tahun ia mendapatkan ibu pengganti bernama Nyai Ahmaniyah. Meskipun Ibu tiri, Nyai Ahmaniyah mengasuh Nyai Qida kecil layaknya anak sendiri.

Nyai Qida kecil dahulunya adalah gadis yang tomboi. Mulai dari gaya hingga pakaiannya pun layaknya laki-laki. Tak banyak orang yang sadar bahwa Nyai Qida kecil sebenarnya adalah perempuan. Hal ini pernah diungkapkan bahwasanya dahulunya sang Ibu, Nyai Makkiyah waktu hamil berharap anaknya laki-laki agar bisa meneruskan dan membangun pondok pesantren sendiri.

Selain mendapatkan ilmu keagamaan dari sang Ayah, Nyai Qida juga mendapatkan pendidikan formal mulai dari pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Karembangan Panglegur Sumenep, kemudian lanjut ke PGAN (Pendidikan Guru Agama Negri) selama 6 tahun.

Baca juga :  Teh Enung, Pejuang Perempuan dari Pesantren Cipasung

Setelah itu ia kemudian dinikahkan dengan KH. Abu Sofyan. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai seorang putri bernama Dewi Khalifah. Nyai Aqidah beharap penuh kepada putrinya untuk bisa melanjutkan estafet kepemimpinan perempuan di pondok pesantren Aqidah Usymuni. Maka sangat wajar jika Nyai Aqidah begitu mengistimewakan pendidikan sang putri hingga sampai ke strata 2.

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Aqidah Usymuni

Meskipun berasal dari keluarga ulama, pendirian Pondok Pesantren Aqidah Usymuni melalui proses yang sangat berat. Bahkan bisa dibilang perintisannya dimulai dari nol.

Beliau tidak mendapatkan warisan tanah sama sekali dari sang ayah. Yang beliau dapatkan hanya kitab-kitab dan benda pusaka milik KH.Usymuni. Nyai Aqidah kemudian diberi nasihat oleh sang ibu sambung, Nyai Ahmaniyah“mon terro agebhey pesantren melle tana e ade’ rowa” (kalau mau bangun pesantren belilah tanah yang ada didepan itu).

Dengan semangatnya dan tekad yang tinggi, beliau akhirnya mampu membeli tanah sesuai dengan amanah Nyai Ahmaniyah. Tanah inilah yang menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Aqidah Usymuni.

Di atas tanah tersebut selain dibangun kediaman beliau, dibangunlah Madrasah Diniyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah hingga musholla. Semua itu diperuntukkan untuk santri perempuan.

Pondok pesantren Aqidah Usymuni didirikan oleh Nyai Aqidah bersama sang suami KH. Sofyan pada tanggal 7 Juni 1985. Di tahun 1986, diresmikan sebagai lembaga yang berbadan hukum dengan nama Yayasan Aqidah Usymuni atas bantuan dari sang menantu KH. A. Shafraji yang kebetulan saat itu menjadi ketua MUI Kabupaten Sumenep dan sang putri Nyai Dewi Khalifah sebagai pengurus muslimat NU Jawa Timur.

Baca juga :  Teh Enung, Pejuang Perempuan dari Pesantren Cipasung

Seluruh lokasi pesantren asuhannya merupakan hasil murni dari upaya Nyai Aqidah melalui pembelian baik tanah maupun rumah masyarakat sekitar secara bertahap. Pada akhirnya Nyai Aqidah bisa membuktikan bahwa tanah miliknya kini dapat berkembang, bahkan tanah yang awalnya milik saudara-saudaranya hasil dari warisan menjadi wilayah pesantren rintisannya.

Di atas tanah tersebut dibangunlah kampus Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Aqidah Usymuni (STITA). Kemudian beliau membangun lembaga pendidikan MTs-MA khusus santri laki-laki. Semua nama lembaga pendidikan mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi disematkan memakai nama beliau.

Lokasi Pondok Pesantren Aqidah Usymuni masih satu komplek dengan pondok pesantren Al-Usymuni. Hanya dibatasi dengan tembok. Sehingga Pesantren Aqidah Usymuni dianggap sebagai indukan Pesantren Al-Usymuni.

Kepemimpinan perempuan Nyai Aqidah Usymuni mendapatkan banyak respon di kalangan masyarakat maupun di keluarga. Nyai Aqidah Usymuni dikenal memiliki kepiawaian dalam mengelola pondok pesantren.

Selain itu, beliau juga pandai dalam mengembangkan pengajiannya. Memberikan pengajian kepada masyarakat merupakan upaya Nyai Aqidah Usymuni dalam berdakwah dengan pembawaannya yang lucu, berani beliau sudah bisa mengambil hati masyarakat.

Sumber: buku Mariyatul Qibtiyah Harun, Kepemimpinan Perempuan Peran Perempuan Dalam Jejaring Kekuasaan Di Pesantren, 2020

be the first to comment on this article

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.